Jumat, 06 Februari 2015

Choose Part 02

  


   Apakah cinta itu sebuah beban?
   terkadang aku berpikir demikian. Tapi beban itu takkan berarti apa-apa manakala orang-orang yang kita sayang ada di sekitar kita. Mas Candra dan Ichal, kehidupanku saat ini hanya dipenuhi oleh kedua orang itu. Orang-orang yang selama hidupku tak pernah terpikir akan menguasai semua ruang dihatiku.
   Kalau ditanya apakah aku bahagia? Dengan tegas kukatakan ‘Ya! Aku bahagia.’
   Lalu muncul pertanyaan lain. ‘Kebahagiaan macam apa yang kamu dapatkan? Bukankah kamu tak bisa memiliki mereka seutuhnya?’
    Jawabannya. ‘Kebahagiaan yang kudapat sudah sempurna. Apalagi yang harus kuminta? Mereka ada bukan cuma raga, tapi juga cinta. Ya, aku tahu, aku tak memiliki mereka seutuhnya, tapi untuk apa? Dengan cinta yang mereka berikan saja aku sudah menjadi manusia paling beruntung di dunia. Aku tak ingin jadi orang yang tamak untuk bisa mendapatkan semua. Aku sudah cukup penuh dengan semua yang ada.’



   Aku meminta mas Candra dan Ichal untuk tak terlalu sering datang kemari. Aku tak ingin mereka lupa akan siapa yang tengah berada di rumah mereka. Terkadang aku merasa seperti orang yang bawel saja karena selalu mengingatkan mereka akan Reny dan anaknya. Aku sadar kalau aku tak punya kuasa mengatur hidup mereka, apalagi aku tinggal di rumah yang notabene masih milik mas Candra. Ichal juga sering muram setiap kali aku melarangnya menginap terlalu sering di sini. Aku juga kangen dan ingin selalu bersama mereka berdua, tapi aku harus memikirkan perasaan ibunya.
   “Kakak kenapa? Apa kakak bosan sama Ichal?” tanya Ichal tak tahan.
   “Sini!” kuraih lengannya dan kudekap tubuh jenjangnya. Tinggi anak itu sudah melebihi tinggi badanku sekarang. Aneh rasanya kalau mengingat dulu aku masih sering menggendongnya. Ichal merebahkan kepalanya kepundakku, dibalasnya dekapanku dengan erat sambil mendesah kecil. “Kakak enggak dan gak akan pernah bisa bosan padamu. Kakak cuma pengen kamu lebih memperhatikan mama dan adikmu. Jangan terlalu sering meninggalkan mereka!”
   “Tapi Ichal pengennya sama kakak.”
   Kuusap punggung anak lelaki yang sudah kuanggap anakku sendiri itu dengan lembut. “Kakak tahu, Chal. Kamu boleh menginap dan tinggal disini kapanpun kamu mau, tapi jangan lupain mama kamu!”
   “Jadi Ichal gak boleh menginap disini malam ini?” dilepasnya dekapanku dan Ichal menatapku dengan mata sendu.
   Aku tersenyum kecil melihatnya. Kuraih kedua pipinya dan kuusap kecil dengan ibu jariku. “Gak malam ini, Chal. Bagaimana kalau sabtu nanti? Minggu paginya kita bisa jogging bareng ke alun-alun kota.”
   “Janji?
   “Janji!” kuanggukkan kepalaku pelan dan mantap. “Kamu tinggi banget, Chal. Kenapa kakak jadi kerdil begini ya?” candaku sambil mencubit hidungnya.
   Wajah Ichal yang semula kelam perlahan menghangat dan bersemu merah. “Iya kak. Kenapa kakak jadi pendek gini ya?”
   “Terima kasih atas ledekannya.” ganti aku yang memasang wajah cemberut. Bukan hanya semakin tinggi, di beberapa sisi wajahnya juga sudah ditumbuhi bulu-bulu halus penanda akhil balighnya. Anakku sudah tumbuh jadi lelaki dewasa, tapi aku tetap merasa dia anak kecilku yang dulu.
   Ichal kembali memelukku. “Ichal gak mau pulang kak.” lagi-lagi dia mengeluh.
   “Hey, bukankah tadi kita sudah sepakat?” kejarku dengan tangan yang masih mengambang.
   “Ichal pengen tinggal di sini terus sama kakak dan ayah.”
   Kupejamkan mataku saat dia menyebut ayahnya. ‘Bukan hanya kamu, Chal. Kakak juga ingin selalu bersama kalian, tapi kakak gak bisa.’ keluhku dalam hati.   




   Malamnya, aku mendekap erat satu-satunya teman tidurku, guling. Tak terasa setetes air mengalir lembut dari kedua ujung mataku. Tak kupungkiri kalau aku merindukan mereka berdua. Aku ingin kembali tidur berdesak-desakan di ranjang bertiga, mengobrol dan bercanda. Aku ingin itu semua tapi aku tak bisa. Aku tak boleh jadi orang yang egois mengharapkan apa yang bukan hakku.
   Perlahan suara deru mobil yang sangat kuhafal mulai memelan dan berhenti di depan rumah. Segera kususut air mataku dan bergegas membukakan pintu. Kusunggingkan senyum kecil saat menyambutnya yang baru keluar dari mobil. Ada gurat lelah yang selalu nampak di wajahnya. Harusnya aku beruntung karena akulah orang pertama yang ingin ditemuinya tiap kali dia pulang kerja. Tapi lagi-lagi aku teringat Reny, dia pasti sangat sedih kalau mengetahui suaminya lebih memilih datang padaku untuk melepas lelahnya.
   “Ada apa?” kali ini mas Candra yang terlebih dahulu menyapa. Setelah berada dua kaki di depanku, dia meraih pipi dan ujung mataku. “Ada masalah?”
   Tuhan! Semoga tak ada tetangga yang iseng mencuri lihat apa yang dilakukan mas Candra barusan. “Masuk, mas!” ajakku dan segera menutup pintu setelah kami berdua masuk.
   “Kenapa?” lagi-lagi dia bertanya.
   “Gak ada apa-apa mas.” aku menjawab sembari mulai menyiapkan air panas untuknya mandi. “Kamu udah makan?”
   “Belum.” mas Candra meraih pinggangku untuk direngkuhnya. “Aku hanya ingin bertemu denganmu. Ichal tak menginap?”
   “Enggak mas. Mungkin sabtu nanti.” suaraku semakin melemah di akhir kalimat.
   “Kamu tak mengijinkan dia lagi?” aku mematung mendengar pertanyaannya.
   “Ya.” jawabku yang lebih mirip keluhan. "Maaf!"
   "Kenapa minta maaf!" tanya mas Candra sebelum mengecup ujung kepalaku.    
   "Karena aku sering mengecewakan kalian." setelah itu tak ada lagi percakapan panjang antara kami. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan menatap wajah tampannya yang tengah makan malam. 'Tuhan..!!! Aku benar-benar mencintainya.'
   "Udah jam sepuluh lewat, aku pulang dulu." pamitnya yang sudah menenteng jas kerjanya. Perlahan mas Candra mendekapku lembut. Tak lupa dikecupnya keningku lama.
   Kehangatan ini, tak kupungkiri aku ingin merasakannya lebih lama lagi. Tak sengaja, kupererat dekapanku di pinggangnya. 'Tuhan! Salahkah jika aku ingin dia lebih lama lagi di sini?'
   "Kenapa, Ga?" tanya mas Candra yang menyadari gelagatku.
   Lama tak kujawab pertanyaannya. Akhirnya, kami berdua hanya berpelukan tanpa kata. Entah berapa menit aku mendekapnya? Yang jelas aku sangat merindukannya. Aku enggan melepasnya. Aku ingin dia tinggal bersamaku selamanya.
   "Terkadang aku ingin bersikap egois."
   "Hmmm?" gumamnya tak mengerti.
   "Bukan apa-apa!" kusunggingkan senyum kecil saat melepas dekapanku. Mas Candra masih menatap bingung kepadaku.
   Kuraih kedua sisi wajahnya. Kudekatkan dan kukecup lembut keningnya, kedua matanya yang tertutup, hidung mancungnya dan kedua pipinya. Sengaja tak kukecup satu bagian yang kuyakin takkan bisa kuhentikan begitu aku menyentuhnya itu dan kembali mendekap bahunya erat.
   "Kamu tak berniat meninggalkanku lagi kan?" seru mas Candra saat kuyakin dia merasakan tubuhku yang mulai berguncang. Lagi-lagi tak kujawab pertanyaannya dan semakin mempererat dekapanku.
   'Inikah rasanya sakit saat menyadari kita tak bisa memiliki orang yang sangat kita cintai dan harus puas dengan apa yang kita dapatkan saat ini?'
   "Sudah waktunya pulang, mas!" suaraku terdengar aneh saat ini.
   "Janji dulu padaku!" aku melihat sorot tajam di matanya yang menuntut.
   "Insya Allah, mas." sahutku lemah.
   "Enggak! Kamu harus janji padaku!" tuntunya lagi.
   "Insya Allah, aku berjanji tak akan pernah pergi lagi darimu." Tuhan...!!! Kenapa aku jadi begini rapuh malam ini?
   "Aku tak mau kehilangan kamu lagi, Ga." ucapnya saat mengusap aliran air bening dari sudut mataku. "Aku tau kalau aku egois. Aku hanya tak mampu kehilanganmu lagi. Semua berantakan saat aku tak bisa menghubungimu. Aku bisa menahan rinduku asalkan aku tau dimana mencarimu. Hanya jangan pernah meninggalkanku! Aku tak bisa kehilangan kamu lagi."
   "Iya mas. Iya." aku mengangguk kecil dan kembali mendekapnya erat. "Aku berjanji padamu."




   Siang ini seperti biasanya. Aku menangani dua pelanggan wanita yang merupakan kerabat dekat tetanggangku untuk merapikan tatanan rambut mereka.
   "Mas Yoga. Apa sih bedanya rebonding sama smoothing?" tanya pelangganku yang lebih muda.
   "Kalo tujuannya sih sama aja mbak, meluruskan. Cuma rebonding itu lebih bagus untuk rambut tebal. Rambut embak sendiri kan bisa dibilang bergelombang dan halus. Dan embak udah pernah rebonding belom?"
   "Udah mas setahun kemaren."
   "Nah. Rambut embak kan tipis dan halus. Akan lebih cantik kalau rambut embak di smoothing saja."
   "Oh gitu ya mas. Kalo smoothing nyampe berapa mas?"
   "Kalau rambut embak, sekitar seratus lima puluh ribuan."
   "Wah, kalo hasilnya?"
   "Insya Allah bagus. Smoothing kan lebih lembut dan alami jatuhnya."
   "Kalo Creambath gimana mas?" tanya satunya yang lebih tua.
   "Maksudnya ibu?" tanyaku kurang mengerti.
   "Kalo creambath berapa di sini?"
   "Oh. Creambath untuk ibu saya beri lima puluh ribu." melihat dari ketebalan dan panjang rambut tentunya. "Tapi rambut ibu kan habis di rebonding ya?"
   "Iya mas. Sekitar sebulan kemaren."
   "Rontok gak, bu?"
   "Iya mas. Makanya saya creambath tiap minggu untuk perawatan, tapi tetap saja rontok."
   "Ibu. Untuk rambut yang habis di rebonding atau smoothing, bagusnya itu di masker, bukan di creambath. Karena rambut ibu sendiri kan sudah stress. Yang dibutuhkan hanya nutrisi. Kalau creambath, rambut ibu akan dipijat dan itu justru membuat rontoknya lebih parah. Creambath sendiri kan diciptakan untuk merileksasi saraf kepala yang lelah dan untuk rambut kering."
   "Wah... mas, saya gak mudeng." seru si ibu sambil terbahak.
   "Ibu mending masker saja. Jangan creambath. Karena rambut ibu akan semakin rontok."
   "Oh. Kalo masker berapa mas?"
   "Tiga puluh, ibu."
   "Tuh mbak. Masker aja! Murah juga." seru mbak yang lebih muda pada si ibu.
   "Siang..." seru suara seorang pria.
   "Siang... silahkan..." aku terpaku saat melihat siapa yang datang sehingga ucapanku berhenti.
   "Masih buka kan, mas?" sapanya ramah padaku yang hanya mampu kujawab dengan anggukan kaku.

   'Bagaimana dia bisa tahu keberadaanku?'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar