“Choose”
Seolah tahu isi hatiku yang tak ingin
tinggal di rumahnya, mas Candra memarkir mobilnya di sebuah rumah kecil tapi
toh terlihat indah dan terawat. Taman Tiara. Ini yang kubaca saat kami memasuki
areal perumahan di daerah pusat kota Sidoarjo.
“Rumah siapa, mas?” tanyaku sebelum mas
Candra sempat keluar dari mobil.
“Rumahmu.” jawabnya singkat dan meraih
gagang pintu.
Kuraih pergelangan tangannya segera. “Jangan
bercanda mas!”
“Apakah kamu menangkap kesan itu di
wajahku?!” jawabnya datar.
Sepanjang jalan mas Candra jarang mengobrol
denganku. Dia lebih fokus pada jalan dan pikirannya sendiri. Aku tak ingin
mengusik apapun yang tengah dipikirkannya. Aku tahu mas Candra jauh lebih
mengerti apa penyelesaian yang tepat atas setiap permasalahannya.
Lama tak kunjung keluar, mas Candra
mengitari mobil dan membuka pintu sebelahku. “Apa kamu gak capek duduk terus di
situ?” tegurnya mengulurkan tangan padaku. Dengan tololnya akupun menerima
uluran tangan itu dan keluar dari mobil.
Aku hanya bisa diam dan mengikutinya masuk
ke dalam ruangan yang masih minim perabotan itu. Hanya ada satu stel kursi sofa
di ruangan yang kulihat jadi satu dengan dapur, dua kamar kecil dengan salah
satunya sudah terisi sebuah spring bed dan alamari kayu membuat ruangan itu
nampak penuh, satu ruang lagi dibiarkan kosong, terakhir ada sebuah kamar mandi
di samping dapur minimalis itu. Saat kubuka pintu belakang, ada sebuah halaman
yang berukuran sedang yang kukira bisa dipakai untuk taman dan tempat menjemur
pakaian.
Kuitari rumah kecil ini dengan ekspresi
kosong, terlalu bingung untuk mencerna semua dan ucapan apa yang bisa
kuutarakan.
Aku sedikit berjingkat saat mas Candra
memelukku dari belakang. “Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam, Ga!” desahnya
pelan di telingaku. “Aku sudah lama memikirkannya. Rumah ini sudah enam tahun
tak pernah berpenghuni. Ini rumahmu. Aku membelinya sebelum kau pergi
meninggalkanku. Aku sempat berpikir apakah kamu akan mengira ini motif
perselingkuhan, maka dari itu aku tak pernah mengatakan tentang rumah ini
kepadamu. Aku tak ingin kamu berpikir negatif akan pemberianku.”
Perlahan mas Candra menggiringku ke kamar
yang sudah terisi di sebelahku. Sedikit terperangah saat aku mendapati foto
kami bertiga saat di WBL enam tahun silam. Hatiku berdesir. Tanpa terasa,
sebulir air hangat menetes di pipiku. Betapa aku merindukan masa-masa itu. Masa
dimana kami bertiga bisa merasakan kehangatan dan keceriaan tanpa memikirkan
hal lainnya.
“Setiap kali aku rindu padamu, aku selalu
pulang ke sini dan menatap foto kita bertiga. Kenangan terindah dalam hidupku.
Hidup kita.” ucap mas Candra mempererat pelukannya. “Sudah saatnya aku
menyerahkan rumah ini pada pemiliknya. Kamu.”
“Tapi…” selaku sedikit tercekat.
“Jangan menolaknya, Ga! Ini rumahmu. Sudah
dari awal ini menjadi milikmu.”
“Mas…”
Mas Candra kembali mempererat pelukannya.
“Aku tak akan mengganggumu. Aku tamu di sini. Jadi kamu bisa menerima
kedatanganku atau menolakku. Aku akan menerima apapun itu.”
“Jangan bicara seperti itu!” sergahku
membalikkan badan menghadapnya. Kulihat raut kelelahan di wajah pria yang
selalu mengisi ruang hatiku itu. Dia belum istirahat ataupun tidur semalaman.
Ku usap lembut kantung mata dan pipinya. “Mas tahu aku tak pernah bisa menolakmu.
Hanya saja, ini terlalu banyak untukku.”
Ditangkapnya jemariku yang masih menempel di
pipinya. “Kamu adalah bagian hidupku, Ga. Sejak malam itu. Malam saat kita
saling mengungkapkan perasaan masing-masing, aku tahu aku tak akan rela melepaskanmu.
Tapi…” ucapnya menggantung lirih. “Kau pergi begitu saja meninggalkanku.”
lanjutnya sedikit menunduk.
Kudekap erat tubuh yang sedikit menyusut
itu. “Maafkan aku!” kembali air mata ini mengalir begitu saja. “Aku
meninggalkan kalian karena aku pikir itulah yang terbaik bagimu, Ichal dan….
aku.” aku mencintainya Tuhan. Maafkan aku! Aku tak mungkin membohongi
perasaanku.
“Tumpahan tinta di baju takkan bisa
dihilangkan begitu saja, Ga. Begitu juga dengan perasaanku. Cintaku padamu tak
akan bisa pudar dan hilang bahkan jika kau meninggalkanku selamanya.”
Hatiku kian sakit mendengar penuturannya.
“Sudah mas! Jangan mengenang kembali apa yang telah lalu!” kutengadahkan
wajahku dan kusapu pipi yang bersih itu. “Sekarang mas istirahat dulu! Semalam
mas gak tidur. Jangan menyiksa dirimu!”
“Aku masih belum ingin pulang. Aku mau tidur
berdua denganmu.”
“Ingat keluargamu mas! Reny pasti
menunggumu.”
“Sekali saja, Ga. Siang nanti aku akan
pulang ke rumahku. Tapi saat ini ijinkan aku meminta satu hal ini saja padamu.”
kembali kutangkap sikap manja nan sendu yang telah lama hilang itu dari
ucapannya. Aku tahu aku takkan bisa menolaknya.
Kusunggingkan senyum terbaikku. “Mandi dulu
dan ganti baju!”
“Gak mau.” jawabnya dengan bibir manyun,
membuatku tak mampu menahan tawaku.
“Mas. Kamu itu udah gedhe. Udah punya anak
dan bentar lagi kamu jadi ayah dua anak. Kok masih suka-sukanya manyun seperti
itu?” ucapku geli sambil menjepit bibir pink pucatnya dengan kedua jariku.
“Aku rindu padamu.” desahnya membopongku ke
ranjang dan menghempaskan tubuh kami berdua bersamaan. “Aku ingin tidur dalam
pelukanmu, Ga. Kamu mau merangkulku?”
“Sampai kamu terlelap, Mas. Aku akan
menemanimu.” kudekap kepalanya di dadaku dan kuusap lembut rambutnya. “Selamat
tidur mas. Mimpi indah,” kukecup keningnya lembut dan kembali kuusap rambutnya.
“Aku mencintaimu.” desah mas Candra
mempererat rangkulannya. Aku tak menyahutinya. Karena kalau aku mengucapkannya,
aku pasti akan semakin sulit lepas darinya.
Tak butuh waktu lama untuk mas Candra terlelap
dalam tidurnya. Kuamati pria yang sangat kucintai saat ini. Wajahnya masih
sebersih dulu. Biarpun makin menua, dia tetap terlihat tampan bagiku.
‘Apa yang harus kulakukan Tuhan? Aku tak
mungkin membiarkan pria ini berputar dalam lingkaranku. Aku tak mau dia
terus-menerus menanam subur perasaannya padaku. Tapi aku juga tak sanggup
menghindarinya. Aku tak mungkin membiarkannya kembali sakit karena kepergianku.
Cukup sekali aku menyakitinya, tak ada kedua kali. Kuserahkan semuanya pada-Mu,
wahai Rabbku. Aku yakin kau punya jalan terbaik bagiku. Bagi kami semua.’
Perlahan aku beranjak dari tempat tidur.
Kuambil barang-barang yang masih ada di bagasi mobil. Hanya sedikit pakaian dan
alat-alat kecil yang bisa kubawa. Kuhela nafas panjang setelah beberapa barang
kumasukkan ke ruang depan. ‘Harus membeli alat-alat baru. Apa yang harus
kulakukan sekarang? Membuka usaha sendiri atau ikut kerja sama orang lain?’
kembali aku menghela nafas. ‘Entahlah? Kita liat saja nanti.’
“Tetangga baru?”
“Eh, iya buk.” sahutku sedikit terlonjak
saat aku tengah merunduk mengambil tas kecil di sudut bagasi. “Yoga.” sambungku
mengulurkan tangan.
“Endah.” balasnya menjabat tanganku. “Asli
mana dek?”
“Jember buk. Ibu sudah lama tinggal di
sini?”
“Iya, dek Yoga. Ibu tinggal di blok H 22.”
“Oh, kapan-kapan saya mampir ke sana.”
“Rumah ini jarang dihuni. Ibu kira tidak ada
yang menghuninya, tapi lampu dalam terkadang menyala.”
“Selama ini kakak saya yang menjaganya.”
jawabku setelah terdiam sedikit lama. “Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan
keluarga, makanya hanya sesekali rumah ini dihuni.” lanjutku sedikit berbohong.
“Wah, dek Yoga tukang potong ya?”
“Maaf?” tanyaku sedikit kaget darimana dia
tahu.
“Itu yang dek Yoga bawa kan catok dan
peralatan rambut.” jelasnya antusias.
“Oh, iya.” jawabku kikuk.
“Buka di sini saja dek Yoga! Kebetulan di
sini juga belum ada yang buka salon. Dek Yoga sudah mahir kan?”
“Insya Allah buk.” jawabku tak bisa
menyembunyikan senyum kebahagiaan. Bagaimana tidak? Baru saja aku
bertanya-tanya, sekarang sudah dapat jawabannya. Terima kasih ya Rabb. Kau
memang Maha Pemurah.
“Oh iya ibu. Di sini ada toko sembako
tidak?” tanyaku yang mengingat ada mas Candra di dalam. Dia kan belum makan
hari ini.
“Ada dek. Di pojok sana. Namanya bu Is. Dia
juga menjual sayur dan lauk mentah ataupun jadi. Komplit kok.”
“Oh, iya. Terima kasih ibu.”
“Dek Yoga. Ibu serius supaya dek Yoga buka
salon di sini. Ibu mau kok jadi pelanggan pertama dek Yoga nanti. Nanti kalau
hasilnya bagus, ibu akan promosikan ke tetangga dan teman-teman ibu.” ujarnya
antusias membuatku tertawa kecil.
“Insya Allah ibu. Bolehlah ibu jadi
pelanggan pertama saya, nanti saya kasih gratis.”
“Beneran dek Yoga?” tegasnya semakin
antusias. “Wah, kalau itu ibu mau banget.” dan kami berdua pun tertawa lepas.
‘Terima kasih, Tuhan.’
“Mas, bangun! Udah siang.” seruku pelan
sambil menepuk kecil lengannya.
Tak lama mas Candra menggeliat dan membuka
mata. “Jam berapa, Ga?”
“Dua belas mas.”
Tak ada jawaban darinya. Mas Candra hanya
mengusap wajahnya pelan dan segera bangkit.
“Aku udah siapin handuk sama bajunya. Mas
belom ganti baju dari semalam kan?! Maaf aku lancang mengambil baju dari tas
kamu di mobil.”
“Gak papa, Ga.” ucapnya seraya mengecup
keningku. “Aku juga punya persediaan baju di lemari. Baju kamu juga aku simpan
di situ.” sambungnya lirih sedikit tersipu. Sejauh itukah mas Candra peduli
padaku? “Kamu masak?” tanyanya yang pasti mencium baru telur dadar.
“Iya mas. Kamu belum makan kan?!”
“Hmmmm…” desahnya memeluk tubuhku. “Makan
dulu atau mandi ya?” gumamnya pelan.
“Mandi dulu lah mas. Itu keringat udah
menumpuk deh keknya? Hahaha…”
“Aku mau makan dulu aja. Dan aku mau
disuapin kamu.”
Kulepas rangkulannya dan kuangkat alis
jengah mendengar ucapannya. Gak Ichal gak ayahnya, sama saja. Mentang-mentang
jarang ketemu, mereka selalu manja padaku.
Mas Candra mengeluarkan jurus mautnya setiap
kali melihat ekspresi kurang suka di wajahku. Tentu saja aku tertawa pelan dan
mencubit hidungnya melihat bibir manyun nan menggemaskan itu berhasil
menggodaku.
“Tok tok tok… assalamu’alaikum.”
“Walaikumsalam,” jawabku menyibakkan sedikit
tirai samping pintu. “Ichal… bagaimana kamu bisa tau kaka di sini?” tanyaku
spontan setelah membuka pintu.
Ichal meraih tanganku untuk diciumnya
kemudian memelukku erat. “Ayah yang memberi alamat kakak.”
“Baru pulang sekolah kamu?” tanyaku yang
mendapati Ichal masih mengenakan seragam sekolahnya.
“Iya kak.”
“Itu sepeda siapa?” tanyaku saat melihat
sepeda matic nangkring dengan tenang di depan rumah.
“Sepedaku.” sahutnya sambil nyengir kuda.
“Ichal gak mau diantar jemput terus. Ngeliat temen-temen ke sekolah naik sepeda
sepertinya enak juga. Lebih cepat dan gak perlu terjebak macet.”
Aku hanya bisa menghela nafas pelan
mendengar penuturannya. “Yaudah. Ayo masuk!”
“Sebenarnya ayah gak mau memberitahu dimana
tempat tinggal kakak. Tapi karena belakangan ayah sering keluar kota dan jarang
bisa di rumah, ayah ngasih alamat kakak dan minta Ichal buat jenguk kakak
beberapa hari sekali. Jangankan beberapa hari, tiap hari Ichal di suruh ke sini
juga Ichal bakalan melakukannya dengan senang hati. Apalagi bisa tinggal terus
sama kakak.”
“Heeeyyyyy…!!!!” seruku menghentikan
celotehannya. “Jangan ngasal kalau ngomong itu! Mama kamu pasti gak suka kalau
dia tau hal itu.”
“Gak bakal kak. Lagian mama kan lagi sibuk
ama adek kecil.”
“Apa?” tanyaku kurang yakin dengan apa yang
aku pikirkan. “Jadi kamu udah punya adek? Cewek apa cowok, Chal?” tanyaku
antusias. Mas Candra punya anak lagi. Walaupun itu bukan anakku, aku tetap ikut
bahagia mendengar kabar ini.
“Cewek kak. Lucu banget.” jawab Ichal
terlihat senang.
“Wah, kamu udah punya temen donk di rumah.
Kakak jadi pengen ke sana,” dan ucapanku sontan terhenti saat aku ingat mbak
Asty dan keluarga yang lain. Sepertinya bukan ide yang bagus.
“Kakak mau kesana? Ayo kita bareng aja.
Nanti Ichal antar pulang sekalian nginep di sini juga.”
“Yeeeee…. yang ada maunya. Pinter banget
nyari alasan.”
“Hahaha…. iya donk.” kuacak-acak rambutnya
gemes melihat tingkahnya. ‘Anak kecilku sudah tumbuh dewasa. Rasanya baru
kemaren aku menggendong dan menggantikan pakaiannya.’
“Udah makan?”
“Belom kak. Kakak masak apa?” tanya Ichal
balik sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah. “Rumahnya nyaman kak.
Kakak buka salon di sini juga?”
“Iya, Chal. Enak juga kerja sendiri. Di sini
juga lumayan banyak kok pelanggannya. Kamu mau di rapiin juga rambutnya?”
“Boleh. Udah lama Ichal gak potong rambut
sama kakak.”
“Yaudah, nanti setelah kamu makan dan mandi
kakak rapiin rambut kamu.”
“Nanti Ichal promosiin ke kawan-kawan ya
kak.”
“Boleh.” sahutku singkat. “Ini bukan salah
satu trik supaya kamu sering maen ke sini kan?”
“Hahaha…. tau aja sih kak.” cengirnya tak
bisa mengelak, membuatku ikutan tertawa.
HAIKAL.
Kembalinya kak Yoga
membuat hidupku kembali ceria. Walaupun harus kucing-kucingan sama mama dan
yang lain, aku gak keberatan. Aku tau tante tidak suka sama kakak, makanya
tanpa ayah bilangpun aku tau harus menyembunyikan hal ini.
Sebenarnya ada satu
hal yang masih membuatku penasaran sampai saat ini. Apa sebenarnya yang terjadi
di antara ayah dan kakak? Setiap kali mereka berpandangan, seperti ada hal yang
tak kutahu artinya tapi itu bermakna sekali.
'Apakah mereka
saling jatuh cinta?' rasanya aku ingin tertawa dengan opini bodohku ini. Mereka
kan sama-sama lelaki.
'Tapi bagaimana
kalau ternyata dugaanku benar?'
'Hmmmmmm..... ya
gak apa-apa. Aku kan sayang sama ayah dan kakak. Jadi kalau mereka saling
menyayangi, aku sih iya-iya aja.'
'Tapi kan ada
mama.'
'Hmmmmmm.... lalu
aku dukung siapa?'
Lama aku bergelut
dengan pikiranku sendiri.
'Aaaarrrrggghhhhh..... ngapain aku mikirin hal ini sih? Udah ah, nyantai
aja! Toh aku sayang mereka semua. Yang penting kakak di sini. Udah! Beres.'
"Assalamu'alaikum," sapaku ramah saat kakak tengah sibuk
merapikan rambut seorang tante paruh baya.
“Walaikumsalam,”
sahut mereka bebarengan. “Udah pulang, Chal?” tanya kak Yoga menghentikan
kegiatannya sebentar untuk melihatku. Mengamati mungkin lebih tepatnya.
“Udah kak. Ichal
nginep sini ya?!” pamitku nyengir.
Kakak mengangkat
alisnya jengah.
“Dirumah lagi
banyak sodara mama. Males rame kak.” jelasku sekenanya.
“Bukan sikap yang
benar kamu lari dari kumpul keluarga, Chal.”
“Iya, Nak. Harusnya
kamu kan hadir di sana.” sambung si tante menegurku.
“Hehehe… iya tante.
Tapi saya sudah ijin sama mama dan beliau membolehkan.” sanggahku tak mau
kalah.
“Ini siapa kamu,
dek Yoga?” tanya tante itu ke kakak.
“Anak saya, buk.”
jawab kakak santai tapi membuatku bangga karena kakak menganggapku anaknya. Kak
Yoga memang sudah seperti orang tuaku sendiri. Seorang ayah dan ibu yang
dirangkap jadi satu. Itulah hebatnya kakak, bisa berlaku menjadi dua orang tua
sekaligus.
“Anak bagaimana,
dek?” tanya lagi si tante kurang puas dengan jawaban kakak.
“Saya dibesarkan
kakak, tante. Kakaklah yang merawat saya dari kecil.” suaraku melemah di akhir
kalimat. Entah kenapa kalau mengingat masa itu aku selalu merasa sendu. Aku
kangen hidup bertiga sama kakak dan ayah. Kangen tidur bertiga dengan mereka.
Lagi-lagi ingatanku lari pada saat ayah merangkul pinggang kakak dengan begitu
mesranya. Sepertinya mereka memang saling suka.
“Udah!” tegur kakak
yang melihat raut wajahku berubah sendu. “Kamu ganti baju dan makan gih!”
“Iya, kak.” sahutku
dan segera mengganti baju di kamar sebelah yang kakak sediakan khusus buatku.
“Dia cakep banget
dek Yoga. Siapa namanya?” bisik si tante yang masih bisa kudengar dari dalam
kamar.
“Haikal, buk.
Panggilannya Ichal.” jawab kakak ramah.
“Kak. Kakak gak
bosen apa tinggal sendirian dari dulu?” tanyaku iseng saat kami nonton Opera
Van Java sambil selonjoran di sova.
“Kadang sih.
Kenapa?” tanya kakak balik cuek.
“Kakak gak pengen
nikah apa?”
“Ih, kamu itu masih
kecil. Ngapain nanya-nanya gituan sih?” gerutu kakak sambil mencubit hidungku.
“Yeeeee, kakak.
Ichal kan udah gedhe. Udah kelas dua dan Ichal juga udah pacaran.”
“Tetep aja. Bagi
kakak, kamu itu masih adek kakak yang mungil dan nakal seperti dulu.” ledek
kakak sambil tersenyum kecil.
“Kak,” panggilku
sambil bergelung ke pelukannya. “Kakak kangen gak sama ayah? Ayah kan jarang
kemari akhir-akhir ini?”
Lama kakak terdiam
sambil mengusap rambutku. “Kangen.” desahnya.
“Kakak sayang ya
sama ayah?”
“Sayang. Kenapa?”
“Kenapa ya setiap
kali ngeliat ayah sama kakak itu, Ichal selalu merasakan ada yang aneh dan apa
ya namanya….”
“Apa…?”
“Gak tau kak.
Seperti orang yang saling mencintai gitu.”
Belaian kakak
berhenti dan dia terdiam lama sekali.
“Kak?”
“Hmmmm…”
“Kakak ngelamun
ya?”
“Hehe… sedikit.”
“Ayah sepertinya
juga sayang banget sama kakak. Ichal sering pergokin ayah ngelamun dan
memanggil nama kakak dalam tidurnya.”
“Sungguh?”
“He-emmmm…” gumamku
pelan. “Ayah jadi beda setelah kakak pergi. Dia sering sendiri dan suka emosi.”
Lagi-lagi kak Yoga
terdiam terlalu lama.
“Kak?”
“Ya.”
“Ngomong donk kak!”
“Ngomong apa,
Chal?”
“Tadi Ichal sempet
mikir. Kalau ayah dan kakak itu saling mencintai. Padahal kalian kan sama-sama
lelaki.”
“Ih, masih kecil
jangan suka mikir aneh-aneh ah! Sayang itu gak memandang jenis dan orang, Chal.
Sayang kakak ke ayah kamu sama seperti sayang kakak ke kamu.”
“Tapi tetep aja
beda kak, Ichal bisa merasakannya. Apalagi kalau lagi tidur bertiga, ayah
sering meluk kakak dengan mesranya. Seperti orang pacaran aja. Hahaha…”
“Udah ah! Kok jadi
ngelantur gini sih?” sela kakak terkesan malas.
“Tapi kalaupun kakak
sama ayah saling menyayangi, Ichal gak keberatan kok. Kakak kan orang tua Ichal
juga.” ucapku mempererat pelukanku.
“Terima kasih.”
desah kak Yoga lirih kembali membelai rambutku lembut.
YOGA.
Penuturan Ichal
tadi mau tak mau membuatku kepikiran. Entah sejauh apa hal yang dia tangkap
tentang hubunganku dengan mas candra? Aku tak bisa bernapas lega hanya karena
dia bilang tak masalah kalaupun aku menjalin cinta dengan ayahnya. Dia masih
kecil. Pola pikirnya masih belum sempurna. Sekarang dia bisa saja bilang iya,
tapi setelah dia beranjak lebih dewasa dan mengerti tentang bagaimana dunia
yang aku dan ayahnya masuki sekarang, aku tak berani menjamin dia tetap punya
pendapat yang sama.
Tapi bagaimanapun
juga, aku sedikit bernafas lega. Setidaknya dia bisa menerima apa yang dia
lihat dan tahu tentang kami berdua.
‘Hahaha….’ rasanya
aku ingin menertawakan diri sendiri. ‘Dia masih kecil, Ga. Bagaimana kamu bisa
beranggapan dia mengerti dengan apa yang diucapkannya?’
‘Entahlah? Apapun
yang terjadi nanti biarlah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan
mereka.’ kuusap lembut rambut anak yang
begitu aku sayangi ini. Sebenarnya aku tak keberatan tidur berdua dengannya di
kamarku. Tapi dia menolak. Entah kenapa malam ini dia memilih tidur di
kamarnya?
Kudengar deru mesin
mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. ‘Malam-malam begini?’ gumamku dalam
hati dan segera beranjak dari ranjang untuk membuka pintu.
Belum sempat dia
mengetuk pintu, aku sudah lebih dulu membukanya. “Ada apa, Mas?”
“Ichal di sini?”
tanya mas Candra dengan tangan masih mengudara.
“Iya. Dia sudah
tidur. Ada apa?” tanyaku lagi dan mempersilahkannya masuk.
“Dia sms. Katanya
ada yang mau dibicarakan?!”
DEG!!!
“A-apa yang dia
katakan?” tanyaku sedikit gugup.
“Aku belum sempat
membalasnya karena aku lagi di jalan.” jawab mas Candra acuh sambil
melonggarkan dasinya. “Ada apa?” lanjutnya yang menangkap gelagatku.
“Mas baru pulang
ya?” kucoba alihkan topik pembicaraan.
“Iya, dari Jogja.
Ada apa?” ulangnya tak bisa kukelabuhi.
Kuhela nafas pelan.
“Sebaiknya mas mandi dulu! Nanti aku katakan setelah mas makan. Aku akan
siapkan semuanya.”
“Ga…” panggil mas
Candra menghentikan langkahku yang hendak menyiapkan bajunya.
“Iya mas?”
Perlahan dia
mendekatiku dan merangkulku lembut. Dikecupnya keningku penuh perasaan dan
ditemukannya kedua ujung hidung kami. “Aku rindu padamu.”
“Aku juga.” sahutku
tak mampu menyembunyikan perasaanku. Hatiku jadi sesak mendengar penuturannya.
“Tak seharusnya mas kemari. Bagaimana dengan Reny dan Sinta, mas?”
“Ada bik Atik yang
menemani mereka.”
“Tetap ini bukan
hal yang bisa dibenarkan mas.”
“Aku meminta
padamu! Sekali ini biarkan aku menginap di rumahmu.”
“Rumahmu juga,
mas.” jawabku lemah merasa tak sanggup menolaknya. Akhirnya aku mengalah. “Aku
siapkan dulu pakaianmu.”
“Maaf, Ga!”
cegahnya meraih pergelangan tanganku yang masih menghadapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk semua ini.”
Kusunggingkan
senyum tulusku. “Tak ada yang perlu dimaafkan mas. Ayo mandi dulu! Udah hampir
jam dua belas.”
“Apa yang ingin kau
bicarakan tadi?” tanya mas Candra disela suapan makannya.
“Haha… masih inget
aja mas?” jawabku lagi-lagi terlihat gugup. “Nanti saja setelah makan.”
“He.em.” jawabnya singkat dan melanjutkan
acara makan yang sudah tak bisa disebut makan malam itu.
“Jadi?!” tanya mas
Candra setelah kami berbaring santai di tempat tidur. Untuk sekian tahun
lamanya, kali ini kurasakan lagi moment malam paling membahagiakan dalam
hidupku.
“Apa?” tanyaku
pura-pura tak mengerti.
“Kamu sengaja ya?”
tegurnya mempererat pelukannya.
Tuhan, harusnya aku
tak membiarkan semua ini. Ada wanita dan bayi yang menunggu kekasihku ini di
rumahnya. Tiba-tiba aku merasa seperti seorang yang jahat, yang dengan teganya
merampas suami dan anaknya.
“Ga?” panggil mas
Candra yang tak kunjung mendapatkan respon dariku.
“Aku jahat banget.”
“Maksudmu?”
“Aku seperti seorang
simpanan yang dengan teganya merebut pelukan
dan hati suami serta anaknya.” kupejamkan mata untuk menata kembali hati yang
mulai semrawut ini.
Lama tak ada
sahutan darinya. “Kamu bukan simpanan.” ucap mas Candra penuh penekanan. “Kamu
sudah lebih dulu bersama kami jauh sebelum aku bersama Reni.”
“Tetap saja ini gak
mengubah semuanya. Aku bukan apa-apa kalian lagi.”
“Berhenti berpikir
seperti itu dan jawab saja pertanyaanku!” tegasnya terdengar kesal dan kembali
merapatkan pelukannya. “Apa yang ingin kamu bicarakan tadi?”
“Ichal tau, mas.”
desahku sendu.
“Tau…. apa?”
tanyanya tersendat.
“Dia mengerti ada
apa diantara kita selama ini.”
Hening. Tak ada
kata-kata lagi yang keluar dari bibirnya. Hanya hembusan nafas yang terasa di
ubun-ubunkulah yang memberitahu kalau mas Candra masih terjaga.
“Lalu?” ucapnya
setelah sekian lama kami terdiam.
“Dia menerimanya,
tapi tetap saja dia masih anak kecil yang belum mengerti tentang apa yang
diucapkannya.”
“Begitu?” bukan
nada lega yang kutangkap dari ucapannya, tapi keraguanlah yang terasa.
“Aku malu padanya.
Ketahuan telah mencintai ayahnya selama ini dan mendapat pengertiannya, itu
semua jauh lebih buruk daripada celaan yang harusnya kuterima.”
“Sudahlah!”
desahnya pelan membenahi pelukannya. “Aku tahu anakku. Setidaknya tak ada yang
perlu dikhawatirkan lagi tentang Ichal.”
“Dia juga
menceritakan kalau ada teman pria di kelasnya yang menyukai dia.”
Lagi-lagi mas
Candra terdiam kaku.
“Aku tak bisa
menutupi ketakutanku. Aku gak mau dia juga menjalani kehidupan seperti ini.”
Masih tak ada
jawaban darinya.
“Kamu jangan
memarahinya mas, ataupun menegurnya. Aku tak ingin dia nekat karena kita
membatasi ruang geraknya.”
“Kita awasi saja!”
jawab mas Candra akhirnya. “Dia pasti nurut kalau kamu yang mengarahkannya, Ga.
Dia sayang padamu.”
“Sebesar rasa sayangnya
padamu.” sambungku pelan. “Akan kulakukan yang terbaik untuknya.”
“Aku tahu kamu
mampu.” dan kami mulai berkutat dengan pikiran masing-masing. “Ayo tidur!”
“Hmmm…” gumamku
mengiyakan.
Kupikir mas Candra akan langsung memejamkan
mata setelah mengecup rambutku. Tapi secara tiba-tiba dibaliknya tubuhku
menghadapnya.
“Aku ingin kau
tidur menghadapku, Ga!” desahnya mengunci pinggangku. “Aku benar-benar
merindukanmu.”
“Aku juga.” maafkan
aku Tuhan! Aku kalah dengan keinginan hatiku.
Dikecupnya
keningku, bibirnya turun untuk menelusuri hidungku dan berhenti di bibirku.
Kurasakan kembali sentuhan itu. Tuhan…. sentuhan itu masih sama seperti dulu.
“Aku mencintaimu.”
desahnya saat ditemukannya kedua ujung hidung kami.
Dapat kurasakan
deru nafasnya yang terasa hangat dan menggelitik kalbuku. “Aku juga
mencintaimu.”
Hampir saja kami
berdua terlelap, sanyup kudengar suara pintu kamarku diketuk.
“Kak?” panggil
Ichal dengan suara beratnya.
Segera aku beranjak
dari ranjang. Kulihat mas Candra juga ikutan terjaga. “Ichal mas.” ucapku pelan
dan segera membuka pintu.
“Ayah udah datang
ya?” gumamnya setelah pintu kamarku terbuka.
“Ada apa, Chal?”
sahut mas Candra dengan suara terkesan tenang, padahal aku tau dia pasti juga
sedikit gugup saat ini.
Segera Ichal masuk
dan langsung merebahkan badan di tengah ranjang. “Ichal mau tidur di sini.”
Kulihat mas Candra
hanya mengangkat alis jengah kemudian menatapku. Entah kenapa aku justru merasa
lucu dengan hal itu.
“Boleh!” jawabku
dan menyusulnya ke tempat tidur. “Tapi kamu mesti ingat! Kamu itu udah gedhe.
Jadi jangan banyak tingkah! Ntar kita berdua malah jatuh ke lantai karena
tingkahmu itu.”
“Hahahaha…. Iya
kak. Ichal janji bakal diem deh.” janjinya untuk kemudian merangkulku. Kulihat
mas Candra kurang suka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Aku hanya bisa
menyunggingkan senyum geli melihat ekspresinya itu.
“Udah…!!! Gak
papa.” ucapku tanpa suara. Mas Candra hanya memonyongkan bibir tanpa bisa
bicara apapun.
Tak lama Ichal
mendongakkan wajahnya. “Kakak bisa geser ke tengah kalo ayah merasa terganggu.”
ucapnya yang sepertinya mengerti akan kekesalan ayahnya. Bukannya shock atau
kikuk, aku justru merasa geli dengan sikap dua orang di depanku saat ini.
“Kalian berdua
benar-benar membuatku gila.” seruku tertawa kecil sambil merubah posisi
tidurku. Jadi saat ini akulah yang berada di tengah.
“Ichal udah tahu,
Yah. Jadi ayah gak perlu sungkan.” ucap Ichal dengan mata terpejam dan sembunyi
di dadaku. “Ichal cuma pengen tidur betiga. Seperti dulu.” lambat laun suara
Ichal kian sendu. Apakah ini alasan dia meminta ayahnya untuk pulang kemari?
Perlahan kuraih
jemari kiri mas Candra. Kugenggam dan kusandarkan di atas pinggangku dan
pinggang Ichal yang tengah merangkulku. “Bukankah sekarang kita sudah tidur
bertiga?” sahutku tersenyum lembut.
Mas Candra
merapatkan tubuhnya kepunggungku. “Ayah minta maaf, Chal!” ucap mas Candra
tulus.
“Gak papa, Yah.
Ichal akan coba untuk mengerti. Selama ayah dan kakak selalu ada buat Ichal,
itu udah sangat cukup kok.” lagi-lagi penerimaan Ichal justru membuatku makin
malu.
Tak ada lagi kata di
antara kita bertiga sampai lambat laun rasa ngantuk kembali menyergap
menyelimuti mata. Kuharap semua ini bukan awal dari kehancuran kami semua ya
Rabb. Bantu aku menjaga keutuhan hati dan cinta mereka. Aku tak akan meminta
apapun, hanya keutuhan rumah tangga mas Candra yang aku harapkan saat ini.
Jangan sampai hubungan mereka hancur hanya karena keberadaanku. Bantu aku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar