Jumat, 06 Februari 2015

Choose part 01

“Choose”




   Seolah tahu isi hatiku yang tak ingin tinggal di rumahnya, mas Candra memarkir mobilnya di sebuah rumah kecil tapi toh terlihat indah dan terawat. Taman Tiara. Ini yang kubaca saat kami memasuki areal perumahan di daerah pusat kota Sidoarjo.
   “Rumah siapa, mas?” tanyaku sebelum mas Candra sempat keluar dari mobil.
   “Rumahmu.” jawabnya singkat dan meraih gagang pintu.
   Kuraih pergelangan tangannya segera. “Jangan bercanda mas!”
   “Apakah kamu menangkap kesan itu di wajahku?!” jawabnya datar.
   Sepanjang jalan mas Candra jarang mengobrol denganku. Dia lebih fokus pada jalan dan pikirannya sendiri. Aku tak ingin mengusik apapun yang tengah dipikirkannya. Aku tahu mas Candra jauh lebih mengerti apa penyelesaian yang tepat atas setiap permasalahannya.
   Lama tak kunjung keluar, mas Candra mengitari mobil dan membuka pintu sebelahku. “Apa kamu gak capek duduk terus di situ?” tegurnya mengulurkan tangan padaku. Dengan tololnya akupun menerima uluran tangan itu dan keluar dari mobil.
   Aku hanya bisa diam dan mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang masih minim perabotan itu. Hanya ada satu stel kursi sofa di ruangan yang kulihat jadi satu dengan dapur, dua kamar kecil dengan salah satunya sudah terisi sebuah spring bed dan alamari kayu membuat ruangan itu nampak penuh, satu ruang lagi dibiarkan kosong, terakhir ada sebuah kamar mandi di samping dapur minimalis itu. Saat kubuka pintu belakang, ada sebuah halaman yang berukuran sedang yang kukira bisa dipakai untuk taman dan tempat menjemur pakaian.
   Kuitari rumah kecil ini dengan ekspresi kosong, terlalu bingung untuk mencerna semua dan ucapan apa yang bisa kuutarakan.
   Aku sedikit berjingkat saat mas Candra memelukku dari belakang. “Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam, Ga!” desahnya pelan di telingaku. “Aku sudah lama memikirkannya. Rumah ini sudah enam tahun tak pernah berpenghuni. Ini rumahmu. Aku membelinya sebelum kau pergi meninggalkanku. Aku sempat berpikir apakah kamu akan mengira ini motif perselingkuhan, maka dari itu aku tak pernah mengatakan tentang rumah ini kepadamu. Aku tak ingin kamu berpikir negatif akan pemberianku.”
   Perlahan mas Candra menggiringku ke kamar yang sudah terisi di sebelahku. Sedikit terperangah saat aku mendapati foto kami bertiga saat di WBL enam tahun silam. Hatiku berdesir. Tanpa terasa, sebulir air hangat menetes di pipiku. Betapa aku merindukan masa-masa itu. Masa dimana kami bertiga bisa merasakan kehangatan dan keceriaan tanpa memikirkan hal lainnya.
   “Setiap kali aku rindu padamu, aku selalu pulang ke sini dan menatap foto kita bertiga. Kenangan terindah dalam hidupku. Hidup kita.” ucap mas Candra mempererat pelukannya. “Sudah saatnya aku menyerahkan rumah ini pada pemiliknya. Kamu.”
   “Tapi…” selaku sedikit tercekat.
   “Jangan menolaknya, Ga! Ini rumahmu. Sudah dari awal ini menjadi milikmu.”
   “Mas…”
   Mas Candra kembali mempererat pelukannya. “Aku tak akan mengganggumu. Aku tamu di sini. Jadi kamu bisa menerima kedatanganku atau menolakku. Aku akan menerima apapun itu.”
   “Jangan bicara seperti itu!” sergahku membalikkan badan menghadapnya. Kulihat raut kelelahan di wajah pria yang selalu mengisi ruang hatiku itu. Dia belum istirahat ataupun tidur semalaman. Ku usap lembut kantung mata dan pipinya. “Mas tahu aku tak pernah bisa menolakmu. Hanya saja, ini terlalu banyak untukku.”
   Ditangkapnya jemariku yang masih menempel di pipinya. “Kamu adalah bagian hidupku, Ga. Sejak malam itu. Malam saat kita saling mengungkapkan perasaan masing-masing, aku tahu aku tak akan rela melepaskanmu. Tapi…” ucapnya menggantung lirih. “Kau pergi begitu saja meninggalkanku.” lanjutnya sedikit menunduk.
   Kudekap erat tubuh yang sedikit menyusut itu. “Maafkan aku!” kembali air mata ini mengalir begitu saja. “Aku meninggalkan kalian karena aku pikir itulah yang terbaik bagimu, Ichal dan…. aku.” aku mencintainya Tuhan. Maafkan aku! Aku tak mungkin membohongi perasaanku.
   “Tumpahan tinta di baju takkan bisa dihilangkan begitu saja, Ga. Begitu juga dengan perasaanku. Cintaku padamu tak akan bisa pudar dan hilang bahkan jika kau meninggalkanku selamanya.”   
   Hatiku kian sakit mendengar penuturannya. “Sudah mas! Jangan mengenang kembali apa yang telah lalu!” kutengadahkan wajahku dan kusapu pipi yang bersih itu. “Sekarang mas istirahat dulu! Semalam mas gak tidur. Jangan menyiksa dirimu!”
   “Aku masih belum ingin pulang. Aku mau tidur berdua denganmu.”
   “Ingat keluargamu mas! Reny pasti menunggumu.”
   “Sekali saja, Ga. Siang nanti aku akan pulang ke rumahku. Tapi saat ini ijinkan aku meminta satu hal ini saja padamu.” kembali kutangkap sikap manja nan sendu yang telah lama hilang itu dari ucapannya. Aku tahu aku takkan bisa menolaknya.
   Kusunggingkan senyum terbaikku. “Mandi dulu dan ganti baju!”
   “Gak mau.” jawabnya dengan bibir manyun, membuatku tak mampu menahan tawaku.
   “Mas. Kamu itu udah gedhe. Udah punya anak dan bentar lagi kamu jadi ayah dua anak. Kok masih suka-sukanya manyun seperti itu?” ucapku geli sambil menjepit bibir pink pucatnya dengan kedua jariku.
   “Aku rindu padamu.” desahnya membopongku ke ranjang dan menghempaskan tubuh kami berdua bersamaan. “Aku ingin tidur dalam pelukanmu, Ga. Kamu mau merangkulku?”
   “Sampai kamu terlelap, Mas. Aku akan menemanimu.” kudekap kepalanya di dadaku dan kuusap lembut rambutnya. “Selamat tidur mas. Mimpi indah,” kukecup keningnya lembut dan kembali kuusap rambutnya.
   “Aku mencintaimu.” desah mas Candra mempererat rangkulannya. Aku tak menyahutinya. Karena kalau aku mengucapkannya, aku pasti akan semakin sulit lepas darinya.
       
   Tak butuh waktu lama untuk mas Candra terlelap dalam tidurnya. Kuamati pria yang sangat kucintai saat ini. Wajahnya masih sebersih dulu. Biarpun makin menua, dia tetap terlihat tampan bagiku.
   ‘Apa yang harus kulakukan Tuhan? Aku tak mungkin membiarkan pria ini berputar dalam lingkaranku. Aku tak mau dia terus-menerus menanam subur perasaannya padaku. Tapi aku juga tak sanggup menghindarinya. Aku tak mungkin membiarkannya kembali sakit karena kepergianku. Cukup sekali aku menyakitinya, tak ada kedua kali. Kuserahkan semuanya pada-Mu, wahai Rabbku. Aku yakin kau punya jalan terbaik bagiku. Bagi kami semua.’

   Perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Kuambil barang-barang yang masih ada di bagasi mobil. Hanya sedikit pakaian dan alat-alat kecil yang bisa kubawa. Kuhela nafas panjang setelah beberapa barang kumasukkan ke ruang depan. ‘Harus membeli alat-alat baru. Apa yang harus kulakukan sekarang? Membuka usaha sendiri atau ikut kerja sama orang lain?’ kembali aku menghela nafas. ‘Entahlah? Kita liat saja nanti.’
   “Tetangga baru?”
   “Eh, iya buk.” sahutku sedikit terlonjak saat aku tengah merunduk mengambil tas kecil di sudut bagasi. “Yoga.” sambungku mengulurkan tangan.
   “Endah.” balasnya menjabat tanganku. “Asli mana dek?”
   “Jember buk. Ibu sudah lama tinggal di sini?”
   “Iya, dek Yoga. Ibu tinggal di blok H 22.”
   “Oh, kapan-kapan saya mampir ke sana.”
   “Rumah ini jarang dihuni. Ibu kira tidak ada yang menghuninya, tapi lampu dalam terkadang menyala.”
   “Selama ini kakak saya yang menjaganya.” jawabku setelah terdiam sedikit lama. “Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, makanya hanya sesekali rumah ini dihuni.” lanjutku sedikit berbohong.
   “Wah, dek Yoga tukang potong ya?”
   “Maaf?” tanyaku sedikit kaget darimana dia tahu.
   “Itu yang dek Yoga bawa kan catok dan peralatan rambut.” jelasnya antusias.
   “Oh, iya.” jawabku kikuk.
   “Buka di sini saja dek Yoga! Kebetulan di sini juga belum ada yang buka salon. Dek Yoga sudah mahir kan?”
   “Insya Allah buk.” jawabku tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan. Bagaimana tidak? Baru saja aku bertanya-tanya, sekarang sudah dapat jawabannya. Terima kasih ya Rabb. Kau memang Maha Pemurah.
   “Oh iya ibu. Di sini ada toko sembako tidak?” tanyaku yang mengingat ada mas Candra di dalam. Dia kan belum makan hari ini.
   “Ada dek. Di pojok sana. Namanya bu Is. Dia juga menjual sayur dan lauk mentah ataupun jadi. Komplit kok.”
   “Oh, iya. Terima kasih ibu.”
   “Dek Yoga. Ibu serius supaya dek Yoga buka salon di sini. Ibu mau kok jadi pelanggan pertama dek Yoga nanti. Nanti kalau hasilnya bagus, ibu akan promosikan ke tetangga dan teman-teman ibu.” ujarnya antusias membuatku tertawa kecil.
   “Insya Allah ibu. Bolehlah ibu jadi pelanggan pertama saya, nanti saya kasih gratis.”
   “Beneran dek Yoga?” tegasnya semakin antusias. “Wah, kalau itu ibu mau banget.” dan kami berdua pun tertawa lepas. ‘Terima kasih, Tuhan.’



   “Mas, bangun! Udah siang.” seruku pelan sambil menepuk kecil lengannya.
   Tak lama mas Candra menggeliat dan membuka mata. “Jam berapa, Ga?”
   “Dua belas mas.”
   Tak ada jawaban darinya. Mas Candra hanya mengusap wajahnya pelan dan segera bangkit.
   “Aku udah siapin handuk sama bajunya. Mas belom ganti baju dari semalam kan?! Maaf aku lancang mengambil baju dari tas kamu di mobil.”
   “Gak papa, Ga.” ucapnya seraya mengecup keningku. “Aku juga punya persediaan baju di lemari. Baju kamu juga aku simpan di situ.” sambungnya lirih sedikit tersipu. Sejauh itukah mas Candra peduli padaku? “Kamu masak?” tanyanya yang pasti mencium baru telur dadar.
   “Iya mas. Kamu belum makan kan?!”
   “Hmmmm…” desahnya memeluk tubuhku. “Makan dulu atau mandi ya?” gumamnya pelan.
   “Mandi dulu lah mas. Itu keringat udah menumpuk deh keknya? Hahaha…”
   “Aku mau makan dulu aja. Dan aku mau disuapin kamu.”
   Kulepas rangkulannya dan kuangkat alis jengah mendengar ucapannya. Gak Ichal gak ayahnya, sama saja. Mentang-mentang jarang ketemu, mereka selalu manja padaku.
   Mas Candra mengeluarkan jurus mautnya setiap kali melihat ekspresi kurang suka di wajahku. Tentu saja aku tertawa pelan dan mencubit hidungnya melihat bibir manyun nan menggemaskan itu berhasil menggodaku.



   “Tok tok tok… assalamu’alaikum.”
   “Walaikumsalam,” jawabku menyibakkan sedikit tirai samping pintu. “Ichal… bagaimana kamu bisa tau kaka di sini?” tanyaku spontan setelah membuka pintu.
   Ichal meraih tanganku untuk diciumnya kemudian memelukku erat. “Ayah yang memberi alamat kakak.”
   “Baru pulang sekolah kamu?” tanyaku yang mendapati Ichal masih mengenakan seragam sekolahnya.
   “Iya kak.”
   “Itu sepeda siapa?” tanyaku saat melihat sepeda matic nangkring dengan tenang di depan rumah.
   “Sepedaku.” sahutnya sambil nyengir kuda. “Ichal gak mau diantar jemput terus. Ngeliat temen-temen ke sekolah naik sepeda sepertinya enak juga. Lebih cepat dan gak perlu terjebak macet.”
   Aku hanya bisa menghela nafas pelan mendengar penuturannya. “Yaudah. Ayo masuk!”
   “Sebenarnya ayah gak mau memberitahu dimana tempat tinggal kakak. Tapi karena belakangan ayah sering keluar kota dan jarang bisa di rumah, ayah ngasih alamat kakak dan minta Ichal buat jenguk kakak beberapa hari sekali. Jangankan beberapa hari, tiap hari Ichal di suruh ke sini juga Ichal bakalan melakukannya dengan senang hati. Apalagi bisa tinggal terus sama kakak.”
   “Heeeyyyyy…!!!!” seruku menghentikan celotehannya. “Jangan ngasal kalau ngomong itu! Mama kamu pasti gak suka kalau dia tau hal itu.”
   “Gak bakal kak. Lagian mama kan lagi sibuk ama adek kecil.”
   “Apa?” tanyaku kurang yakin dengan apa yang aku pikirkan. “Jadi kamu udah punya adek? Cewek apa cowok, Chal?” tanyaku antusias. Mas Candra punya anak lagi. Walaupun itu bukan anakku, aku tetap ikut bahagia mendengar kabar ini.
   “Cewek kak. Lucu banget.” jawab Ichal terlihat senang.
   “Wah, kamu udah punya temen donk di rumah. Kakak jadi pengen ke sana,” dan ucapanku sontan terhenti saat aku ingat mbak Asty dan keluarga yang lain. Sepertinya bukan ide yang bagus.
   “Kakak mau kesana? Ayo kita bareng aja. Nanti Ichal antar pulang sekalian nginep di sini juga.”
   “Yeeeee…. yang ada maunya. Pinter banget nyari alasan.”
   “Hahaha…. iya donk.” kuacak-acak rambutnya gemes melihat tingkahnya. ‘Anak kecilku sudah tumbuh dewasa. Rasanya baru kemaren aku menggendong dan menggantikan pakaiannya.’
   “Udah makan?”
   “Belom kak. Kakak masak apa?” tanya Ichal balik sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah. “Rumahnya nyaman kak. Kakak buka salon di sini juga?”
   “Iya, Chal. Enak juga kerja sendiri. Di sini juga lumayan banyak kok pelanggannya. Kamu mau di rapiin juga rambutnya?”
  “Boleh. Udah lama Ichal gak potong rambut sama kakak.”
   “Yaudah, nanti setelah kamu makan dan mandi kakak rapiin rambut kamu.”
   “Nanti Ichal promosiin ke kawan-kawan ya kak.”
   “Boleh.” sahutku singkat. “Ini bukan salah satu trik supaya kamu sering maen ke sini kan?”
   “Hahaha…. tau aja sih kak.” cengirnya tak bisa mengelak, membuatku ikutan tertawa.





   HAIKAL.

   Kembalinya kak Yoga membuat hidupku kembali ceria. Walaupun harus kucing-kucingan sama mama dan yang lain, aku gak keberatan. Aku tau tante tidak suka sama kakak, makanya tanpa ayah bilangpun aku tau harus menyembunyikan hal ini.
   Sebenarnya ada satu hal yang masih membuatku penasaran sampai saat ini. Apa sebenarnya yang terjadi di antara ayah dan kakak? Setiap kali mereka berpandangan, seperti ada hal yang tak kutahu artinya tapi itu bermakna sekali.
   'Apakah mereka saling jatuh cinta?' rasanya aku ingin tertawa dengan opini bodohku ini. Mereka kan sama-sama lelaki.
   'Tapi bagaimana kalau ternyata dugaanku benar?'
   'Hmmmmmm..... ya gak apa-apa. Aku kan sayang sama ayah dan kakak. Jadi kalau mereka saling menyayangi, aku sih iya-iya aja.'
   'Tapi kan ada mama.'
   'Hmmmmmm.... lalu aku dukung siapa?'
   Lama aku bergelut dengan pikiranku sendiri.
   'Aaaarrrrggghhhhh..... ngapain aku mikirin hal ini sih? Udah ah, nyantai aja! Toh aku sayang mereka semua. Yang penting kakak di sini. Udah! Beres.'

  
   "Assalamu'alaikum," sapaku ramah saat kakak tengah sibuk merapikan rambut seorang tante paruh baya.
   “Walaikumsalam,” sahut mereka bebarengan. “Udah pulang, Chal?” tanya kak Yoga menghentikan kegiatannya sebentar untuk melihatku. Mengamati mungkin lebih tepatnya.
   “Udah kak. Ichal nginep sini ya?!” pamitku nyengir.
   Kakak mengangkat alisnya jengah.
   “Dirumah lagi banyak sodara mama. Males rame kak.” jelasku sekenanya.
   “Bukan sikap yang benar kamu lari dari kumpul keluarga, Chal.”
   “Iya, Nak. Harusnya kamu kan hadir di sana.” sambung si tante menegurku.
   “Hehehe… iya tante. Tapi saya sudah ijin sama mama dan beliau membolehkan.” sanggahku tak mau kalah.
   “Ini siapa kamu, dek Yoga?” tanya tante itu ke kakak.
   “Anak saya, buk.” jawab kakak santai tapi membuatku bangga karena kakak menganggapku anaknya. Kak Yoga memang sudah seperti orang tuaku sendiri. Seorang ayah dan ibu yang dirangkap jadi satu. Itulah hebatnya kakak, bisa berlaku menjadi dua orang tua sekaligus.
   “Anak bagaimana, dek?” tanya lagi si tante kurang puas dengan jawaban kakak.
   “Saya dibesarkan kakak, tante. Kakaklah yang merawat saya dari kecil.” suaraku melemah di akhir kalimat. Entah kenapa kalau mengingat masa itu aku selalu merasa sendu. Aku kangen hidup bertiga sama kakak dan ayah. Kangen tidur bertiga dengan mereka. Lagi-lagi ingatanku lari pada saat ayah merangkul pinggang kakak dengan begitu mesranya. Sepertinya mereka memang saling suka.
   “Udah!” tegur kakak yang melihat raut wajahku berubah sendu. “Kamu ganti baju dan makan gih!”
   “Iya, kak.” sahutku dan segera mengganti baju di kamar sebelah yang kakak sediakan khusus buatku.
   “Dia cakep banget dek Yoga. Siapa namanya?” bisik si tante yang masih bisa kudengar dari dalam kamar.
   “Haikal, buk. Panggilannya Ichal.” jawab kakak ramah.    


   “Kak. Kakak gak bosen apa tinggal sendirian dari dulu?” tanyaku iseng saat kami nonton Opera Van Java sambil selonjoran di sova.
   “Kadang sih. Kenapa?” tanya kakak balik cuek.
   “Kakak gak pengen nikah apa?”
   “Ih, kamu itu masih kecil. Ngapain nanya-nanya gituan sih?” gerutu kakak sambil mencubit hidungku.
   “Yeeeee, kakak. Ichal kan udah gedhe. Udah kelas dua dan Ichal juga udah pacaran.”
   “Tetep aja. Bagi kakak, kamu itu masih adek kakak yang mungil dan nakal seperti dulu.” ledek kakak sambil tersenyum kecil.
   “Kak,” panggilku sambil bergelung ke pelukannya. “Kakak kangen gak sama ayah? Ayah kan jarang kemari akhir-akhir ini?”
   Lama kakak terdiam sambil mengusap rambutku. “Kangen.” desahnya.
   “Kakak sayang ya sama ayah?”
   “Sayang. Kenapa?”
   “Kenapa ya setiap kali ngeliat ayah sama kakak itu, Ichal selalu merasakan ada yang aneh dan apa ya namanya….”
   “Apa…?”
   “Gak tau kak. Seperti orang yang saling mencintai gitu.”
   Belaian kakak berhenti dan dia terdiam lama sekali.
   “Kak?”
   “Hmmmm…”
   “Kakak ngelamun ya?”
   “Hehe… sedikit.”
   “Ayah sepertinya juga sayang banget sama kakak. Ichal sering pergokin ayah ngelamun dan memanggil nama kakak dalam tidurnya.”
   “Sungguh?”
   “He-emmmm…” gumamku pelan. “Ayah jadi beda setelah kakak pergi. Dia sering sendiri dan suka emosi.”
   Lagi-lagi kak Yoga terdiam terlalu lama.
   “Kak?”
   “Ya.”
   “Ngomong donk kak!”
   “Ngomong apa, Chal?”
   “Tadi Ichal sempet mikir. Kalau ayah dan kakak itu saling mencintai. Padahal kalian kan sama-sama lelaki.”
   “Ih, masih kecil jangan suka mikir aneh-aneh ah! Sayang itu gak memandang jenis dan orang, Chal. Sayang kakak ke ayah kamu sama seperti sayang kakak ke kamu.”
   “Tapi tetep aja beda kak, Ichal bisa merasakannya. Apalagi kalau lagi tidur bertiga, ayah sering meluk kakak dengan mesranya. Seperti orang pacaran aja. Hahaha…”
   “Udah ah! Kok jadi ngelantur gini sih?” sela kakak terkesan malas.
   “Tapi kalaupun kakak sama ayah saling menyayangi, Ichal gak keberatan kok. Kakak kan orang tua Ichal juga.” ucapku mempererat pelukanku.
   “Terima kasih.” desah kak Yoga lirih kembali membelai rambutku lembut. 




   YOGA.

   Penuturan Ichal tadi mau tak mau membuatku kepikiran. Entah sejauh apa hal yang dia tangkap tentang hubunganku dengan mas candra? Aku tak bisa bernapas lega hanya karena dia bilang tak masalah kalaupun aku menjalin cinta dengan ayahnya. Dia masih kecil. Pola pikirnya masih belum sempurna. Sekarang dia bisa saja bilang iya, tapi setelah dia beranjak lebih dewasa dan mengerti tentang bagaimana dunia yang aku dan ayahnya masuki sekarang, aku tak berani menjamin dia tetap punya pendapat yang sama.
   Tapi bagaimanapun juga, aku sedikit bernafas lega. Setidaknya dia bisa menerima apa yang dia lihat dan tahu tentang kami berdua.
   ‘Hahaha….’ rasanya aku ingin menertawakan diri sendiri. ‘Dia masih kecil, Ga. Bagaimana kamu bisa beranggapan dia mengerti dengan apa yang diucapkannya?’
   ‘Entahlah? Apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan mereka.’ kuusap lembut rambut  anak yang begitu aku sayangi ini. Sebenarnya aku tak keberatan tidur berdua dengannya di kamarku. Tapi dia menolak. Entah kenapa malam ini dia memilih tidur di kamarnya?



   Kudengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. ‘Malam-malam begini?’ gumamku dalam hati dan segera beranjak dari ranjang untuk membuka pintu.
   Belum sempat dia mengetuk pintu, aku sudah lebih dulu membukanya. “Ada apa, Mas?”
   “Ichal di sini?” tanya mas Candra dengan tangan masih mengudara.
   “Iya. Dia sudah tidur. Ada apa?” tanyaku lagi dan mempersilahkannya masuk.
   “Dia sms. Katanya ada yang mau dibicarakan?!”
  
   DEG!!!

   “A-apa yang dia katakan?” tanyaku sedikit gugup.
   “Aku belum sempat membalasnya karena aku lagi di jalan.” jawab mas Candra acuh sambil melonggarkan dasinya. “Ada apa?” lanjutnya yang menangkap gelagatku.
   “Mas baru pulang ya?” kucoba alihkan topik pembicaraan.
   “Iya, dari Jogja. Ada apa?” ulangnya tak bisa kukelabuhi.
   Kuhela nafas pelan. “Sebaiknya mas mandi dulu! Nanti aku katakan setelah mas makan. Aku akan siapkan semuanya.”
   “Ga…” panggil mas Candra menghentikan langkahku yang hendak menyiapkan bajunya.
   “Iya mas?”
   Perlahan dia mendekatiku dan merangkulku lembut. Dikecupnya keningku penuh perasaan dan ditemukannya kedua ujung hidung kami. “Aku rindu padamu.”
   “Aku juga.” sahutku tak mampu menyembunyikan perasaanku. Hatiku jadi sesak mendengar penuturannya. “Tak seharusnya mas kemari. Bagaimana dengan Reny dan Sinta, mas?”
   “Ada bik Atik yang menemani mereka.”
   “Tetap ini bukan hal yang bisa dibenarkan mas.”
   “Aku meminta padamu! Sekali ini biarkan aku menginap di rumahmu.”
   “Rumahmu juga, mas.” jawabku lemah merasa tak sanggup menolaknya. Akhirnya aku mengalah. “Aku siapkan dulu pakaianmu.”
   “Maaf, Ga!” cegahnya meraih pergelangan tanganku yang masih menghadapnya.
   “Untuk apa?”
   “Untuk semua ini.”
   Kusunggingkan senyum tulusku. “Tak ada yang perlu dimaafkan mas. Ayo mandi dulu! Udah hampir jam dua belas.”



   “Apa yang ingin kau bicarakan tadi?” tanya mas Candra disela suapan makannya.
   “Haha… masih inget aja mas?” jawabku lagi-lagi terlihat gugup. “Nanti saja setelah makan.”
   “He.em.” jawabnya singkat dan melanjutkan acara makan yang sudah tak bisa disebut makan malam itu.


   “Jadi?!” tanya mas Candra setelah kami berbaring santai di tempat tidur. Untuk sekian tahun lamanya, kali ini kurasakan lagi moment malam paling membahagiakan dalam hidupku.
   “Apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
   “Kamu sengaja ya?” tegurnya mempererat pelukannya.
   Tuhan, harusnya aku tak membiarkan semua ini. Ada wanita dan bayi yang menunggu kekasihku ini di rumahnya. Tiba-tiba aku merasa seperti seorang yang jahat, yang dengan teganya merampas suami dan anaknya.
   “Ga?” panggil mas Candra yang tak kunjung mendapatkan respon dariku.
   “Aku jahat banget.”
   “Maksudmu?”
   “Aku seperti seorang simpanan yang dengan teganya merebut  pelukan dan hati suami serta anaknya.” kupejamkan mata untuk menata kembali hati yang mulai semrawut ini.
   Lama tak ada sahutan darinya. “Kamu bukan simpanan.” ucap mas Candra penuh penekanan. “Kamu sudah lebih dulu bersama kami jauh sebelum aku bersama Reni.”
   “Tetap saja ini gak mengubah semuanya. Aku bukan apa-apa kalian lagi.”
   “Berhenti berpikir seperti itu dan jawab saja pertanyaanku!” tegasnya terdengar kesal dan kembali merapatkan pelukannya. “Apa yang ingin kamu bicarakan tadi?”
   “Ichal tau, mas.” desahku sendu.
   “Tau…. apa?” tanyanya tersendat.
   “Dia mengerti ada apa diantara kita selama ini.”
   Hening. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibirnya. Hanya hembusan nafas yang terasa di ubun-ubunkulah yang memberitahu kalau mas Candra masih terjaga.
   “Lalu?” ucapnya setelah sekian lama kami terdiam.
   “Dia menerimanya, tapi tetap saja dia masih anak kecil yang belum mengerti tentang apa yang diucapkannya.”
   “Begitu?” bukan nada lega yang kutangkap dari ucapannya, tapi keraguanlah yang terasa.
   “Aku malu padanya. Ketahuan telah mencintai ayahnya selama ini dan mendapat pengertiannya, itu semua jauh lebih buruk daripada celaan yang harusnya kuterima.”
   “Sudahlah!” desahnya pelan membenahi pelukannya. “Aku tahu anakku. Setidaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang Ichal.”
   “Dia juga menceritakan kalau ada teman pria di kelasnya yang menyukai dia.”
   Lagi-lagi mas Candra terdiam kaku.
   “Aku tak bisa menutupi ketakutanku. Aku gak mau dia juga menjalani kehidupan seperti ini.”
   Masih tak ada jawaban darinya.
   “Kamu jangan memarahinya mas, ataupun menegurnya. Aku tak ingin dia nekat karena kita membatasi ruang geraknya.”
   “Kita awasi saja!” jawab mas Candra akhirnya. “Dia pasti nurut kalau kamu yang mengarahkannya, Ga. Dia sayang padamu.”
   “Sebesar rasa sayangnya padamu.” sambungku pelan. “Akan kulakukan yang terbaik untuknya.”
   “Aku tahu kamu mampu.” dan kami mulai berkutat dengan pikiran masing-masing. “Ayo tidur!”
   “Hmmm…” gumamku mengiyakan.
   Kupikir mas Candra akan langsung memejamkan mata setelah mengecup rambutku. Tapi secara tiba-tiba dibaliknya tubuhku menghadapnya.
   “Aku ingin kau tidur menghadapku, Ga!” desahnya mengunci pinggangku. “Aku benar-benar merindukanmu.”
   “Aku juga.” maafkan aku Tuhan! Aku kalah dengan keinginan hatiku.
   Dikecupnya keningku, bibirnya turun untuk menelusuri hidungku dan berhenti di bibirku. Kurasakan kembali sentuhan itu. Tuhan…. sentuhan itu masih sama seperti dulu.
   “Aku mencintaimu.” desahnya saat ditemukannya kedua ujung hidung kami.
   Dapat kurasakan deru nafasnya yang terasa hangat dan menggelitik kalbuku. “Aku juga mencintaimu.”

   Hampir saja kami berdua terlelap, sanyup kudengar suara pintu kamarku diketuk.
   “Kak?” panggil Ichal dengan suara beratnya.
   Segera aku beranjak dari ranjang. Kulihat mas Candra juga ikutan terjaga. “Ichal mas.” ucapku pelan dan segera membuka pintu.
   “Ayah udah datang ya?” gumamnya setelah pintu kamarku terbuka.
   “Ada apa, Chal?” sahut mas Candra dengan suara terkesan tenang, padahal aku tau dia pasti juga sedikit gugup saat ini.
   Segera Ichal masuk dan langsung merebahkan badan di tengah ranjang. “Ichal mau tidur di sini.”  
   Kulihat mas Candra hanya mengangkat alis jengah kemudian menatapku. Entah kenapa aku justru merasa lucu dengan hal itu.
   “Boleh!” jawabku dan menyusulnya ke tempat tidur. “Tapi kamu mesti ingat! Kamu itu udah gedhe. Jadi jangan banyak tingkah! Ntar kita berdua malah jatuh ke lantai karena tingkahmu itu.”
   “Hahahaha…. Iya kak. Ichal janji bakal diem deh.” janjinya untuk kemudian merangkulku. Kulihat mas Candra kurang suka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Aku hanya bisa menyunggingkan senyum geli melihat ekspresinya itu.
   “Udah…!!! Gak papa.” ucapku tanpa suara. Mas Candra hanya memonyongkan bibir tanpa bisa bicara apapun.
   Tak lama Ichal mendongakkan wajahnya. “Kakak bisa geser ke tengah kalo ayah merasa terganggu.” ucapnya yang sepertinya mengerti akan kekesalan ayahnya. Bukannya shock atau kikuk, aku justru merasa geli dengan sikap dua orang di depanku saat ini.
   “Kalian berdua benar-benar membuatku gila.” seruku tertawa kecil sambil merubah posisi tidurku. Jadi saat ini akulah yang berada di tengah.
   “Ichal udah tahu, Yah. Jadi ayah gak perlu sungkan.” ucap Ichal dengan mata terpejam dan sembunyi di dadaku. “Ichal cuma pengen tidur betiga. Seperti dulu.” lambat laun suara Ichal kian sendu. Apakah ini alasan dia meminta ayahnya untuk pulang kemari?
   Perlahan kuraih jemari kiri mas Candra. Kugenggam dan kusandarkan di atas pinggangku dan pinggang Ichal yang tengah merangkulku. “Bukankah sekarang kita sudah tidur bertiga?” sahutku tersenyum lembut.
   Mas Candra merapatkan tubuhnya kepunggungku. “Ayah minta maaf, Chal!” ucap mas Candra tulus.
   “Gak papa, Yah. Ichal akan coba untuk mengerti. Selama ayah dan kakak selalu ada buat Ichal, itu udah sangat cukup kok.” lagi-lagi penerimaan Ichal justru membuatku makin malu.
   Tak ada lagi kata di antara kita bertiga sampai lambat laun rasa ngantuk kembali menyergap menyelimuti mata. Kuharap semua ini bukan awal dari kehancuran kami semua ya Rabb. Bantu aku menjaga keutuhan hati dan cinta mereka. Aku tak akan meminta apapun, hanya keutuhan rumah tangga mas Candra yang aku harapkan saat ini. Jangan sampai hubungan mereka hancur hanya karena keberadaanku. Bantu aku!  

       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar