"Eh, lo Fan." seruku saat membukakan pintu depan.
"Ayo masuk!" ucapku mempersilahkan.
"Duduk dulu! Gw buatin minum ya." seruku dan langsung menuju dapur.
"Siapa Ga?" tanya bi Atik yang sedang sibuk membuat sayur sop.
"Reffan bi." sahutku singkat.
"Oh," reaksinya biasa. "Eh, Ga. Kamu sama Reffan sudah kenal lama ya? Kok kamu berani banget bersikap gak sopan gitu sama dia."
"Lama banget bik. Cuma baru ketemu lagi sekarang. Reffan sih sudah kebal digituin bik. Dia malah gak punya sopan santun sama sekali kalo datang kekostan Yoga dulu." jelasku emosional. "Yoga kedepan dulu ya," pamitku setelah selesai membuat es sirup rasa jeruk satu gelas dan ketaruh diatas nampan plastic kecil.
“Gak kerja lo fan?” tanyaku saat memasuki ruang tamu dimana Reffan tengah duduk manis disana.
“Enggak.” Jawabnya singkat dan …
“Ayo diminum!” seruku mempersilahkan.
“Iya, terima kasih.” Jawabnya sopan. Dari sini aku sudah mulai berpikir lain tentang anak yang duduk didepanku ini.
Sepertinya Reffan menangkap kediamanku. Dia hanya tersenyum manis saat mendapatiku tengah menatapnya sambil mengerutkan dahi.
“Kenapa Ga?” tanyanya sopan masih dengan senyuman tersungging dibibirnya.
“Raffa….” Ucapku seakan tercekat. Entah kenapa, saat ini aku jadi gelisah? Kenapa lagi-lagi aku terlambat menyadarinya.
Pria yang ada dihadapanku ini hanya tersenyum simpul sambil terus menghabiskan minumnya. Jantungku kembali berdebar keras dan menatapnya tak percaya.
“Kamu ada kegiatan hari ini?” tanya anak yang kuyakini adalah Raffa itu dengan santainya.
Aku terdiam tak langsung menjawabnya. Aku masih kagok menghadapinya.
“Ga…” panggilnya menyadarkanku.
“Iya?” jawabku seolah kaget.
Lagi-lagi dia tersenyum geli. Benar, senyumnya dan Reffan memang berbeda. “Kamu ada kegiatan gak hari ini?” tanyanya lagi.
“Gak ada.” Jawabku singkat dan pelan.
“Mau pergi denganku?” tanyanya -sambil meletakkan gelas minuman yang isinya sudah habis diteguknya- yang terkesan meminta.
“Kemana?” tanyaku ragu.
Raffa mengangkat bahu. “Entahlah? Jalan aja.” Jawabnya acuh.
Aku diam sejenak, berpikir. “Tunggu sebentar!” ucapku dan beranjak pergi.
Aku menuju dapur tempat bik Atik sedang sibuk memasak. “Bik!” panggilku pelan setelah berada disampingnya. “Yoga mau pergi dengan Raffa. Nanti kalau Ichal atau mas Candra tanya Yoga, bilang aja Yoga keluar.”
“Raffa..??” tanya bik atik bingung.
“Iya bik, ternyata yang datang bukan Reffan tapi Raffa.” Bik Atik hanya mengangguk seolah paham. “Yoga pergi dulu ya bik. Maaf gak bisa bantu masak!” ucapku lagi-lagi sungkan. Akhir-akhir ini aku sering banget absen bantu bik Atik masak dan ngurus rumah. Semoga beliau tidak marah padaku.
“Iya, gak papa Ga. Hati-hati dijalan ya!” pesannya lembut.
“Insya Allah. Terima kasih ya bik. Asslm’alkum.” Ucapku dan pergi meninggalkan beliau.
"Kita mo kemana Fa?" tanyaku yang lagi-lagi tak bisa menutupi kecanggunganku duduk disebelah Raffa.
Aku kira Raffa kesini naik sepeda. Tenyata dia membawa mobil Suzuki Swift warna hitam. Selama perjalanan, kami tak banyak bercakap-cakap. Padahal waktu yang sudah kami habiskan untuk perjalanan ini sudah terbilang menyiksa bathin. Hampir satu jam perjalanan, Raffa tak juga menunjukkan kalau kami sudah sampai ditempat tujuan.
Perjalanan kali ini terasa semakin menanjak. Sepertinya kami menuju areal pegunungan. Pemandangan yang disajikanpun semakin menggoda indra penglihatan kita. Jurang-jurang, sawah tadah hujan dan pepohonan yang tampak hijau. Aku langsung berinisiatif untuk mencoba menghirup udara yang biasanya terasa memanjakan hidung.
"Boleh aku buka kacanya?" tanyaku meminta ijin.
Raffa hanya tersenyum mengiyakan dan kembali fokus pada jalan.
Ternyata benar. Udaranya terasa sejuk. Padahal saat ini sudah memasuki tengah hari yang di daerah Surabaya suhunya pasti membuat kita ingin bertelanjang badan saking gerahnya.
"Kita hampir sampai." seru Raffa setelah kami memasuki areal perumahan yang jalannya sedikit berbelok-belok.
Perjalanan kami selanjutnya sudah seperti Lagu ninja Hatori yang mendaki gunung lewati lembah. Benar-benar naik turun. Naik turunnyapun tak tanggung-tanggung, sangat curam dan menyiksa kerja mesin mobil yang mengangkut kami berdua.
Sampai akhirnya aku melihat papan dengan gambar air terjun dengan tulisan Pemandian Air panas dan Air Terjun. Dan satu nama yang membuatku mengerutkan dahi berpikir.
"Pacet?" gumamku pelan.
"Belum pernah kesini?" tanya Raffa kemudian.
"Belum. Cuma sepertinya pernah dengar nama itu?"
Raffa tersenyum kecil dan kembali fokus menyetir.
Setelah membayar tiket masuk dan parkir, dia mengajakku keluar untuk jalan-jalan.
"Mau mandi? Air panas disini lumayan terkenal." aku menggeleng ragu dengan tawaran Raffa barusan. Mandi bareng? Kurasa bukan hal yang bagus untuk dilakukan.
"Kenapa?"
"Gak bawa baju ganti." jawabku sekedarnya setelah mikir lama.
"Ada layanan pinjam baju renang disitu." jelasnya yang seperti bersikukuh pengen ngajak aku masuk.
"Kalo kamu pengen mandi, gak ada salahnya kita masuk." jawabku sambil tersenyum malu. "Tapi aku gak ikut mandi."
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
Aku hanya mendengus geli sekaligus malu. "Aku gak bisa renang." jawabku pelan.
"Maaf...!!" ucap Raffa kurang jelas.
"Aku... gak bisa renang," jawabku lagi menatapnya. Silahkan permalukan aku. Aku pasrah deh, batinku mengeluh.
Raffa hanya menahan senyum sambil menepuk pundakku. "Kalau begitu kita naik keatas saja. Sepertinya disana juga bagus." serunya menunjuk puncak yang dihuni pepohonan cemara dan deretan gubuk. Entah gubuk apa itu?
Setelah melakukan pendakian yang kalau boleh ngeluh, aku pasti sudah menjerit kelelahan. Kakiku rasanya pegal dan sakit sekali mendaki bukit yang kami sendiri tak tau ingin kemana? Hanya mengikuti arus sungai sebagai penunjuk arah.
Setelah menemukan tempat yang dirasa nyaman dengan pemandangan yang indah, Raffa menghentikan jalannya. Kami masih berada diareal sungai dengan satu sisi kami bisa melihat pemandangan disekitar bawah bukit. Sangat teduh dan sejuk udara disini. Pemandangannya? Jangan tanya, bagus dan memanjakan mata.
Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya dan kuhembuskan, begitu berulang-ulang. Raffa yang melihatku hanya tersenyum kecil sembari sibuk mencari tempat untuk duduk.
"Kamu sering kesini?" tanyaku pada Raffa sambil bermain air sungai dengan tanganku.
"Pernah sekali kesini dengan teman-teman, tapi gak sampe masuk kemari." jawab Raffa santai. "Duduk sini Ga!" pintanya sambil menepuk tanah kering disampingnya.
Lama kami duduk dalam diam.Kenapa aku sulit sekali mencari bahan obrolan dengan anak satu ini? Beda sekali dengan Reffan, dengannya aku bisa bebas ngomong dan ngomel-ngomel seenaknya.
"Kamu kelihatan berbeda sekarang." ucap Raffa pelan dengan pandangan tetap kedepan.
"Lebih baik atau lebih buruk?" tanyaku bermaksud bercanda.
"Lebih baik," jawabnya pelan dan tersenyum.
Lagi-lagi kami terdiam, tak tau apa yang harus kami bicarakan.
'Pelase don't stop the music....' handphoneku berdering tanda panggilan masuk.
"Hallo, Asslm'alkum," salamku setelah menerimanya.
"Walaikumslam. Kakak dimana?" tanya Ichal langsung.
"Kakak lagi keluar nih chal, sama kak Raffa."
"Iya, kemana?"
"Ke Pacet."
"Dimana itu?"
"Jauh Chal, kenapa?"
"Ichal gak ada teman kak. Kakak cepet pulang dong..!!!" pintanya manja.
"Iya Chal. Kakak tanya kak Raffanya dulu ya?!" aku menutup lubang telpon dan bicara pada Raffa. "masih lama gak Fa?"
Raffa hanya diam, tanpa senyum atau apapun.
"Fa....!!!!" panggilku lagi. Dia masih saja diam.
"Chal?" panggilku ditelpon.
"Iya kak. Masih lama gak?"
"Bentar lagi kita pulang kok." jawabku sepihak. Habisnya Raffa tak juga menjawabku.
"Bener ya!! Awas kalo pulang malem. Ichal bilangin ayah, supaya kakak dimarahin," ancamnya.
"Eh? kok gitu?"
"Pokoknya kakak jangan lama-lama. Ichal sendirian dirumah." ini anak, masih kecil sudah kayak presiden saja, main perintah seenaknya.
"Iya," jawabku sedikit males.
"Ichal tunggu lho. Hati-hati dijalan ya!" pesannya sok dewasa.
"Iya kakak......" jawabku meledeknya sebel.
"Hahaha.... asslm'alkum," pamitnya menutup telpon.
"Walaikumsalam."
Aku menghela nafas berat. Dasar anak kecil. Tapi kalo sampai Ichal laporan ke Mas Candra yang bukan-bukan, bisa beneran kena marah akau nanti.
"Fa.... kita pulang yuk!" ajakku beranjak dari dudukku.
"Bentar Ga!" cegahnya sambil menangkap pergelangan tanganku.
"Ini sudah sore Fa." ucapku yang menyadari saat ini hampir jam empat sore. Bisa kemalaman kita sampai Surabaya nanti. "Nanti kalo kita kemaleman gimana?"
Raffa masih saja menatapku dalam diam. Tak sabar, kuraih tangannya untuk kutarik supaya dia mau berdiri.
Berat sodara-sodara. Secara Raffa jauh lebih tinggi dan berisi daripada aku. "Fa......." erangku tak mau menyerah.
Akhirnya Raffa menurut dan mau berdiri. "Kamu berat banget yak. Ayo pulang!!" ucapku dan berbalik arah hendak jalan lebih dulu.
Baru jalan 3 langkah, Raffa kembali menangkap pergelangan tanganku. "Bisa bicara sebentar Ga..?!"
"Bicara apa lagi Fa?" keluhku pelan.
"Sebentar saja Ga..!!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar