“Justru aku yang seharusnya tanya, apa yang
kamu lakukan?” tanya dia balik. Posisi mas Candra yang memepetku ke dinding
membuatku mengejang. Dia masih mencengkeram pergelangan tanganku.
“A-aku hanya mo m-me-ngajak mas ma-kan
bareng,” jawabku memalingkan muka. Tuhan…!! Godaan ini menyiksaku. “Ma-af
ma-s…!!! Aku
gak tau kalo m-as …” aku tak bisa meneruskan kalimatku saking malunya. Wajahku
pasti seperti udang rebus sekarang.
“Aku apa…?” desahnya menatapku intes.
“M-mas… ak-ku keluar aja…” lututku rasanya
mau lepas. Jantungku berdegup bak genderang perang. Telingaku berdenging. Kaki
dan tanganku gemetaran hebat. “M-mas please…!!” desahku mengiba.
Bukannya segera keluar, aku malah merosot
kelantai saat mas Candra melepaskanku.
“Kamu gak papa Ga?” tanya mas Candra
terdengar kaget.
“Gak… gak papa mas.” kupejamkan
mataku supaya aku tak menyaksikan pemandangan yang tak seharusnya kulihat.
Mas Candra memegang lenganku dan membantuku
berdiri. “Kamu kenapa Ga? Kok gemetaran gitu?”
“Gak papa mas…” elakku masih terpejam. Aku
harus konsentrasi menata reaksi tubuhku yang berlebihan ini.
Salah langkah.
Saat aku membuka mata, mas Candra tengah
menatapku sambil tersenyum geli. Wajah kami terpaut tak sampai 30 centi dan itu
situasi panas buatku. Aku bisa merasakan nafasnya saat dia mendengus geli
padaku.
“Sudah enakan..???” tanyanya setengah
meledek.
Tak ada yang bisa kulakukan kecuali
menundukkan wajahku yang kembali memerah. “Ichal menunggu diruang makan. Aku
gak tau kalo…” kusensor ucapanku. “Maaf…!!!”
“Selamat ya…” entah aku yang salah tangkap
atau apa? Kenapa dia justru mengucapkan selamat padaku…??? Oh iya, aku kan baru
di wisuda.
Ucapan selamat darinya memang diiringi senyuman, tapi entah kenapa aku
menangkap kegetiran dalam suaranya.
“Makasih mas…” ucapku lirih. “Mas mau mandi
kan..?!” aku juga baru sadar kalau aku belum mandi. Ugh… memalukan. “Kalau
begitu, aku keluar dulu.”
“Mau mandi bareng?”
Deg..!!! Mampus
gw. Ini pasti candaan. Tapi tetap saja, aku terkena perangkapnya.
Tak pelak, aku langsung menunduk semakin dalam saking malunya.
“M-m-maaf mas…”
“Kenapa?”
“Aku keluar aja.”
Mas Candra memoyongkan bibirnya persis
seperti Ichal.
Menggemaskan.
“Kalo Ichal
yang minta, kamu pasti mandiin. Kalau aku yang minta, kamu mau gak..?!”
Aaaarrrgghhh…. Gurauanmu menyesatkanku
mas…!!! Ingin sekali kuteriakkan kalimat itu padanya.
“Jangan bercanda mas.!! Aku keluar.” mukaku
pasti sudah gak karu-karuan saking malunya.
“Ga….” panggil
mas Candra pelan, kembali meraih lenganku yang hendak keluar. “Selamat ya…”
lagi-lagi dia mengucapkannya lirih dan aku kembali menangkap kesan pilu dalam
nada suaranya. Mas Candra mengecup keningku dan mengusap rambutku lembut.
Sungguh situasi yang tidak tepat. Dia mengecupku dalam keadaan topless seperti
itu.??? Pasti otakku bakalan error malam ini. “Kita
makan bareng. Tunggu aku selesai mandi. Kamu juga. Sepertinya kamu juga baru
datang dan belum mandi. Iya kan..?!” aku cuma mesem kecut dan segera berlalu
dari kamar yang terasa panas ini.
Untuk yang terakhir kalinya, aku kembali
tidur bertiga dengan mereka. Kali ini aku yang meminta tidur ditengah. Mas
Candra sempat curiga padaku, tapi aku berusaha bersikap senormal mungkin dan
kuajak mereka ngobrol untuk mengalihkan perhatian.
“Udah baikan mas…??” tanyaku sambil menepuk
lembut lengan Ichal yang sudah terlelap.
“Baikan..???” ulangnya bingung.
“Masalah kemaren. Udah menemukan jalan
keluarnya?” aneh banget ucapanku, batinku geli.
“Oh…” lagi-lagi hanya itu reaksinya.
Sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama
dengannya, tapi aku tak punya bahan obrolan. Kalaupun ada, aku takut
kalau-kalau aku kelepasan bicara dan mas Candra akan mengetahui niatku yang
ingin pergi dari rumah ini.
Aku dilemma. Satu sisi aku harus segera
meninggalkan rumah ini dan mereka. Disisi lain, aku banyak berhutang padanya.
Kalau aku pergi begitu saja, aku akan dianggap sebagai orang yang tak tau diri.
Jadi, kuputuskan untuk pamit besok pagi saja.
“Udah tidur Ga?!”
“Hmmm-mmm…” jawabku bohong. Padahal mataku
masih nyalang.
“Ya udah...” desahnya dan mengecup
rambutku untuk kemudian mempererat
rangkulannya.
Aku ingin menikmati rangkulan ini untuk yang
terakhir kalinya. Aku akan merindukan kalian. Aku akan sangat merindukanmu mas.
Dadaku kembali sesak. Tenggorokanku terasa
kering menyakitkan. Dan sebulir air mata jatuh dari kedua sudut mataku.
Qiro’ah subuh aku terbangun. Mas Candra dan
Ichal masih tertidur dengan lelapnya. Aku memutar tubuhku menghadap mas Candra.
Aku ingin memandanginya sedikit lebih lama untuk mengingat bagaimana wajah
damainya saat tertidur pulas. Kuangkat sedikit badanku bertopang lenganku untuk
mengecup keningnya selembut dan sepelan mungkin supaya dia tak terbangun
karenanya.
“I Love U….” bisikku lirih dan menyentuh
bibir tipisnya dengan jari telunjukku. Dadaku kembali sesak. Tak mau
berlama-lama, aku bangkit perlahan dari ranjang.
Aku berputar kearah Ichal yang tengah
mendengkur halus. Wajahnya telihat damai. 'Semoga
mimpi indah Chal. Kakak sayang sama kamu.'
Perlahan kukecup keningnya dengan penuh
perasaan.
“Kakak akan sangat merindukanmu…” bisikku lirih di depan
wajah imutnya.
Segera kutadahi air mataku yang hampir jatuh
menetes di
pipi Ichal. Aku harus segera berbenah. Setelah puas
menatap wajah-wajah damai di depanku, aku segera beranjak keluar
kamar untuk mengemas barang-barangku.
“Tumben sudah bangun Ga?” sapa bik Atik yang
memergokiku tengah menatapnya dari pintu dapur.
“Iya bik. Lagi apa?” sahutku medekati
beliau.
“Nyuci beras Ga.” jawabnya
singkat.
“Ada yang bisa dibantu?” tawarku ragu.
“Gak usah Ga…!! Kan bisa ditinggal masak
nasinya. Setelah sholat, bibi tinggal kepasar bentar. Kalo gak keberatan, kamu
bisa bantu bibi nyapu-nyapu.” pintanya sungkan.
“Boleh. Yoga juga mau sholat dulu bik.”
“Oh, yaudah!! Sholat dulu gih..!!”
Akupun segera pergi kekamar mandi untuk
mandi sekedarnya, sholat dan berbenah barang sebelum menggantikan tugas Bik
atik menyapu rumah. Untuk yang terakhir kali, batinku pilu.
“Kakak kenapa?” tanya Ichal yang menangkap
wajah murungku.
“Kenapa apanya?” tanyaku pura-pura bodoh.
Kupasang kancing seragamnya dan kupakaikan celana pendeknya.
“Kakak kelihatan sedih,”
jelasnya.
“Ah, perasaan kamu aja.” sanggahku
dan memasang senyum terbaikku. “Chal…” panggilku sambil memandangnya sendu.
“Tuh kan… sedih
lagi….” serunya
lirih.
Aku tersenyum getir. Tak bisa kupungkiri,
aku berat sekali meninggalkan anak ini. “Kamu tambah cakep aja ya…” godaku
sambil menoel pipinya yang sukses membuat pipi Ichal bersemu merah karena malu.
“Hahaha… Ichal
kan emang cakep kak..” sahutnya narsis.
“Errgghhhmmmm…..”geramku saat merangkulnya.
“Adek kakak emang paling cakep sekebon binatang.”
“Ahhh… kakak….!!! Kok kebun binatang sih.?!”
rengeknya
tak terima.
“Hehehe… kamu adek kakak yang paling cakep
dan paling kakak sayang didunia ini Chal.”
“Ichal juga sayang sama kakak,” sahutnya dan
merangkulku erat.
‘Aku akan sangat merindukanmu sayang,’
rintihku dalam hati.
“Oke..” ucapku melepas rangkulanku. “Semua
sudah beres. Tinggal nunggu ayah kamu aja. Kakak keluar dulu ya.” pamitku
tersenyum kecil dan keluar kamar.
“Mas…” sapaku sambil mengetuk pintu kamarnya
pelan. Kubuka pintu kamarnya yang tak terkunci dan kudapati mas Candra tengah
membenahi kancing bajunya dan memasang dasi.
Tanpa permisi, aku meghampirinya. “Ichal
menunggumu,” ujarku sambil meraih dasinya yang belum terpasang dengan benar.
Aku tau ini tidak sopan. Sangat tidak sopan. Sepertinya aku sudah termakan
film-film romance yang menayangkan adegan romantis
sang istri yang membantu memasangkan dasi suaminya.
Mas Candra sedikit tersentak. Namun tak
urung, dia membiarkanku melakukannya. “Sekarang aku bisa mendapatkan kecupan
dikeningku kan?” pintaku lirih sambil tertunduk malu setelah merapikan letak
dasi dan kerah bajunya. Aku melakukannya karena aku berharap mendapat kecupan
terakhir darinya hari ini.
“Ada apa denganmu..??” tanya mas Candra geli
bercampur heran.
Aku memoyongkan bibirku dan menunjuk
keningku. Tak berapa lama, mas Candra tergelak dan meraih sisi wajahku untuh
kemudian mengecup keningku. Kecupan lembut dan hangat terakhir yang mungkin
takkan kudapatkan lagi setelah ini.
“Kamu….” seru
mas Candra ngambang menahan senyum gelinya.
“Sekarang… aku ada satu permintaan lagi.” ucapku
membuatnya mengangkat alis jengah. “Boleh aku mengecup keningmu…???” pintaku
lirih.
Kali ini tatapan mas Candra semakin
menyipit. Sepertinya dia curiga dengan gelagatku hari ini.
“Ada apa Ga…??!” tanyanya menyelidik.
Aku kembali memonyongkan bibirku. “Sekali…. saja.”
“Ada apa…??!” ulangnya yang tak urung
membungkukkan badannya supaya aku bisa mengecup keningnya.
Tanpa banyak bicara, kuraih sisi wajahnya yang
ditumbungi rambut tipis yang sudah waktunya dicukur itu. Perlahan kukecup
keningnya lembut. Kucurahkan semua perasaanku saat mengecupnya.
Sial…!!!
Lagi-lagi aku menangis karena tak sanggup
menahan sesak di
dadaku.
Mas Candra tersentak saat pipinya terkena
tetesan air mataku. Dia langsung berdiri tegak dan meraih lenganku. “Ada
apa….???” tanyanya
menuntut.
“Terima kasih….” ucapku
lirih dengan senyum dipaksakan.
“Ada apa Ga….??!”
ulangnya
tak sabar sedikit mengguncang tubuhku.
“Sudah waktunya aku pergi mas…” tubuh mas
candra mendadak beku mendengar penuturanku. “Aku tak bisa tinggal lebih lama
lagi disini. Aku tak bisa lebih lama lagi merepotkanmu.”
“Secepat itu…???” tanyanya dengan tatapan
pilu.
“Aku berhutang banyak padamu mas. Suatu saat
nanti, aku pasti akan membayarnya. Tapi tidak dengan kebaikan yang kalian
berikan padaku,
aku takkan pernah bisa menggantinya
dengan apapun.”
Mas Candra
masih diam membisu.
“Maafkan aku mas….!!!” rintihku
dan merangkul pinggangnya. “Aku tau aku egois. Aku tak tau diri. Aku….” aku
terisak didadanya. “Aku bahkan tidak tau bagaimana cara membalas semua kebaikan
kalian padaku.”
“Maafkan aku…”
“Braaaaakkkk…..!!!” aku terlonjak mendengar
pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar