Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 32

  



   “Justru aku yang seharusnya tanya, apa yang kamu lakukan?” tanya dia balik. Posisi mas Candra yang memepetku ke dinding membuatku mengejang. Dia masih mencengkeram pergelangan tanganku.
   “A-aku hanya mo m-me-ngajak mas ma-kan bareng,” jawabku memalingkan muka. Tuhan…!! Godaan ini menyiksaku. “Ma-af ma-s…!!! Aku gak tau kalo m-as …” aku tak bisa meneruskan kalimatku saking malunya. Wajahku pasti seperti udang rebus sekarang.
   “Aku apa…?” desahnya menatapku intes.
   “M-mas… ak-ku keluar aja…” lututku rasanya mau lepas. Jantungku berdegup bak genderang perang. Telingaku berdenging. Kaki dan tanganku gemetaran hebat. “M-mas please…!!” desahku mengiba.
   Bukannya segera keluar, aku malah merosot kelantai saat mas Candra melepaskanku.
   “Kamu gak papa Ga?” tanya mas Candra terdengar kaget.
   “Gak… gak papa mas.” kupejamkan mataku supaya aku tak menyaksikan pemandangan yang tak seharusnya kulihat.
   Mas Candra memegang lenganku dan membantuku berdiri. “Kamu kenapa Ga? Kok gemetaran gitu?”
   “Gak papa mas…” elakku masih terpejam. Aku harus konsentrasi menata reaksi tubuhku yang berlebihan ini.

   Salah langkah.
   Saat aku membuka mata, mas Candra tengah menatapku sambil tersenyum geli. Wajah kami terpaut tak sampai 30 centi dan itu situasi panas buatku. Aku bisa merasakan nafasnya saat dia mendengus geli padaku.
   “Sudah enakan..???” tanyanya setengah meledek.
   Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menundukkan wajahku yang kembali memerah. “Ichal menunggu diruang makan. Aku gak tau kalo…” kusensor ucapanku. “Maaf…!!!”
   “Selamat ya…” entah aku yang salah tangkap atau apa? Kenapa dia justru mengucapkan selamat padaku…??? Oh iya, aku kan baru di wisuda. Ucapan selamat darinya memang diiringi senyuman, tapi entah kenapa aku menangkap kegetiran dalam suaranya.
   “Makasih mas…” ucapku lirih. “Mas mau mandi kan..?!” aku juga baru sadar kalau aku belum mandi. Ugh… memalukan. “Kalau begitu, aku keluar dulu.”
   “Mau mandi bareng?”
   Deg..!!! Mampus gw. Ini pasti candaan. Tapi tetap saja, aku terkena perangkapnya. Tak pelak, aku langsung menunduk semakin dalam saking malunya.
   “M-m-maaf mas…”
   “Kenapa?”
   “Aku keluar aja.”
   Mas Candra memoyongkan bibirnya persis seperti Ichal. Menggemaskan.
   “Kalo Ichal yang minta, kamu pasti mandiin. Kalau aku yang minta, kamu mau gak..?!”
   Aaaarrrgghhh…. Gurauanmu menyesatkanku mas…!!! Ingin sekali kuteriakkan kalimat itu padanya.
   “Jangan bercanda mas.!! Aku keluar.” mukaku pasti sudah gak karu-karuan saking malunya.
   “Ga….” panggil mas Candra pelan, kembali meraih lenganku yang hendak keluar. “Selamat ya…” lagi-lagi dia mengucapkannya lirih dan aku kembali menangkap kesan pilu dalam nada suaranya. Mas Candra mengecup keningku dan mengusap rambutku lembut. Sungguh situasi yang tidak tepat. Dia mengecupku dalam keadaan topless seperti itu.??? Pasti otakku bakalan error malam ini. “Kita makan bareng. Tunggu aku selesai mandi. Kamu juga. Sepertinya kamu juga baru datang dan belum mandi. Iya kan..?!” aku cuma mesem kecut dan segera berlalu dari kamar yang terasa panas ini.    


   Untuk yang terakhir kalinya, aku kembali tidur bertiga dengan mereka. Kali ini aku yang meminta tidur ditengah. Mas Candra sempat curiga padaku, tapi aku berusaha bersikap senormal mungkin dan kuajak mereka ngobrol untuk mengalihkan perhatian.
   “Udah baikan mas…??” tanyaku sambil menepuk lembut lengan Ichal yang sudah terlelap.
   “Baikan..???” ulangnya bingung.
   “Masalah kemaren. Udah menemukan jalan keluarnya?” aneh banget ucapanku, batinku geli.
   “Oh…” lagi-lagi hanya itu reaksinya.
   Sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama dengannya, tapi aku tak punya bahan obrolan. Kalaupun ada, aku takut kalau-kalau aku kelepasan bicara dan mas Candra akan mengetahui niatku yang ingin pergi dari rumah ini.
   Aku dilemma. Satu sisi aku harus segera meninggalkan rumah ini dan mereka. Disisi lain, aku banyak berhutang padanya. Kalau aku pergi begitu saja, aku akan dianggap sebagai orang yang tak tau diri. Jadi, kuputuskan untuk pamit besok pagi saja.
   “Udah tidur Ga?!”
   “Hmmm-mmm…” jawabku bohong. Padahal mataku masih nyalang.
   “Ya udah...” desahnya dan mengecup rambutku  untuk kemudian mempererat rangkulannya.
   Aku ingin menikmati rangkulan ini untuk yang terakhir kalinya. Aku akan merindukan kalian. Aku akan sangat merindukanmu mas.
   Dadaku kembali sesak. Tenggorokanku terasa kering menyakitkan. Dan sebulir air mata jatuh dari kedua sudut mataku.



   Qiro’ah subuh aku terbangun. Mas Candra dan Ichal masih tertidur dengan lelapnya. Aku memutar tubuhku menghadap mas Candra. Aku ingin memandanginya sedikit lebih lama untuk mengingat bagaimana wajah damainya saat tertidur pulas. Kuangkat sedikit badanku bertopang lenganku untuk mengecup keningnya selembut dan sepelan mungkin supaya dia tak terbangun karenanya.

   “I Love U….” bisikku lirih dan menyentuh bibir tipisnya dengan jari telunjukku. Dadaku kembali sesak. Tak mau berlama-lama, aku bangkit perlahan dari ranjang.
   Aku berputar kearah Ichal yang tengah mendengkur halus. Wajahnya telihat damai. 'Semoga mimpi indah Chal. Kakak sayang sama kamu.'
   Perlahan kukecup keningnya dengan penuh perasaan. “Kakak akan sangat merindukanmu…” bisikku lirih di depan wajah imutnya.
   Segera kutadahi air mataku yang hampir jatuh menetes di pipi Ichal. Aku harus segera berbenah. Setelah puas menatap wajah-wajah damai di depanku, aku segera beranjak keluar kamar untuk mengemas barang-barangku.

   “Tumben sudah bangun Ga?” sapa bik Atik yang memergokiku tengah menatapnya dari pintu dapur.
   “Iya bik. Lagi apa?” sahutku medekati beliau.
   “Nyuci beras Ga.” jawabnya singkat.
   “Ada yang bisa dibantu?” tawarku ragu.
   “Gak usah Ga…!! Kan bisa ditinggal masak nasinya. Setelah sholat, bibi tinggal kepasar bentar. Kalo gak keberatan, kamu bisa bantu bibi nyapu-nyapu.” pintanya sungkan.
   “Boleh. Yoga juga mau sholat dulu bik.”
   “Oh, yaudah!! Sholat dulu gih..!!”
   Akupun segera pergi kekamar mandi untuk mandi sekedarnya, sholat dan berbenah barang sebelum menggantikan tugas Bik atik menyapu rumah. Untuk yang terakhir kali, batinku pilu.


   “Kakak kenapa?” tanya Ichal yang menangkap wajah murungku.
   “Kenapa apanya?” tanyaku pura-pura bodoh. Kupasang kancing seragamnya dan kupakaikan celana pendeknya.
   “Kakak kelihatan sedih,” jelasnya.
   “Ah, perasaan kamu aja.” sanggahku dan memasang senyum terbaikku. “Chal…” panggilku sambil memandangnya sendu.
   “Tuh kan… sedih lagi….” serunya lirih.
   Aku tersenyum getir. Tak bisa kupungkiri, aku berat sekali meninggalkan anak ini. “Kamu tambah cakep aja ya…” godaku sambil menoel pipinya yang sukses membuat pipi Ichal bersemu merah karena malu.
   “Hahaha… Ichal kan emang cakep kak..” sahutnya narsis.
   “Errgghhhmmmm…..”geramku saat merangkulnya. “Adek kakak emang paling cakep sekebon binatang.”
   “Ahhh… kakak….!!! Kok kebun binatang sih.?!” rengeknya tak terima.
   “Hehehe… kamu adek kakak yang paling cakep dan paling kakak sayang didunia ini Chal.”
   “Ichal juga sayang sama kakak,” sahutnya dan merangkulku erat.
   ‘Aku akan sangat merindukanmu sayang,’ rintihku dalam hati.
   “Oke..” ucapku melepas rangkulanku. “Semua sudah beres. Tinggal nunggu ayah kamu aja. Kakak keluar dulu ya.” pamitku tersenyum kecil dan keluar kamar.



   “Mas…” sapaku sambil mengetuk pintu kamarnya pelan. Kubuka pintu kamarnya yang tak terkunci dan kudapati mas Candra tengah membenahi kancing bajunya dan memasang dasi.
   Tanpa permisi, aku meghampirinya. “Ichal menunggumu,” ujarku sambil meraih dasinya yang belum terpasang dengan benar. Aku tau ini tidak sopan. Sangat tidak sopan. Sepertinya aku sudah termakan film-film romance yang menayangkan adegan romantis sang istri yang membantu memasangkan dasi suaminya.   
   Mas Candra sedikit tersentak. Namun tak urung, dia membiarkanku melakukannya. “Sekarang aku bisa mendapatkan kecupan dikeningku kan?” pintaku lirih sambil tertunduk malu setelah merapikan letak dasi dan kerah bajunya. Aku melakukannya karena aku berharap mendapat kecupan terakhir darinya hari ini.
   “Ada apa denganmu..??” tanya mas Candra geli bercampur heran.
   Aku memoyongkan bibirku dan menunjuk keningku. Tak berapa lama, mas Candra tergelak dan meraih sisi wajahku untuh kemudian mengecup keningku. Kecupan lembut dan hangat terakhir yang mungkin takkan kudapatkan lagi setelah ini.
   “Kamu….” seru mas Candra ngambang menahan senyum gelinya.
   “Sekarang… aku ada satu permintaan lagi.” ucapku membuatnya mengangkat alis jengah. “Boleh aku mengecup keningmu…???” pintaku lirih.
   Kali ini tatapan mas Candra semakin menyipit. Sepertinya dia curiga dengan gelagatku hari ini.
   “Ada apa Ga…??!” tanyanya menyelidik.
   Aku kembali memonyongkan bibirku. “Sekali…. saja.”
   “Ada apa…??!” ulangnya yang tak urung membungkukkan badannya supaya aku bisa mengecup keningnya.
   Tanpa banyak bicara, kuraih sisi wajahnya yang ditumbungi rambut tipis yang sudah waktunya dicukur itu. Perlahan kukecup keningnya lembut. Kucurahkan semua perasaanku saat mengecupnya.
   Sial…!!!
   Lagi-lagi aku menangis karena tak sanggup menahan sesak di dadaku.
   Mas Candra tersentak saat pipinya terkena tetesan air mataku. Dia langsung berdiri tegak dan meraih lenganku. “Ada apa….???” tanyanya menuntut.
   “Terima kasih….” ucapku lirih dengan senyum dipaksakan.
   “Ada apa Ga….??!ulangnya tak sabar sedikit mengguncang tubuhku.
   “Sudah waktunya aku pergi mas…” tubuh mas candra mendadak beku mendengar penuturanku. “Aku tak bisa tinggal lebih lama lagi disini. Aku tak bisa lebih lama lagi merepotkanmu.”
   “Secepat itu…???” tanyanya dengan tatapan pilu.
   “Aku berhutang banyak padamu mas. Suatu saat nanti, aku pasti akan membayarnya. Tapi tidak dengan kebaikan yang kalian berikan padaku, aku takkan pernah bisa menggantinya dengan apapun.”
   Mas Candra masih diam membisu.
   “Maafkan aku mas….!!!” rintihku dan merangkul pinggangnya. “Aku tau aku egois. Aku tak tau diri. Aku….” aku terisak didadanya. “Aku bahkan tidak tau bagaimana cara membalas semua kebaikan kalian padaku.”
   “Maafkan aku…”

   “Braaaaakkkk…..!!!” aku terlonjak mendengar pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar