Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 33

  



   “Kakak mau pergi…???” tanya ichal setengah marah padaku. “Kakak mau meninggalkan Ichal sendiri disini….???” tak lama matanya sudah basah dengan air mata yang mengalir lancar di pipinya. “Kakak tega ninggalin Ichal sendiri…???”
   Seluruh persendian tubuhku seakan lemas. Kenapa aku harus menghadapi situasi ini..???
   “Chal….” panggilku dengan suara tercekik karena kerongkonganku terasa sangat menyakitkan. Perlahan aku berjalan ke arahnya.
   “Kakak gak sayang Ichal…???? Kakak sudah bosan sama Ichal….??? Apa Ichal nakal kak…??? Ichal janji….. Ichal akan jadi anak yang baik….!!” airmatanya seperti ribuan tombak yang menusuk-nusuk jantungku. “Jangan pergi kak….!!! Ichal gak mau ditinggal sendiri….”
   “Chal…..” suarakupun hampir hilang karena tenggorokanku yang semakin tercekat. “Maaf…..!!!”
   “Kalau kakak pergi, Ichal juga akan pergi dari sini…” ujarnya dan segera pergi meninggalkanku dan mas Candra yang masih berdiri mematung tanpa bicara sepatah katapun daritadi.
   Aku tersentak saat mendengar suara pintu depan di buka. “Ichal….” panggilku dengan suara serak dan langsung berlari mengejarnya.
   Ichal membuka pagar rumah dengan susah payah dan kembali berlari keluar.
  
   ‘Mau kemana dia…???’

   Pikiranku merespon ngeri dengan tindakannya. Pagi ini jam sibuk. Jalanan pasti sedang ramai-ramainya orang lalu lalang. Aku tak mau….

   TIDAAAAAKKKKK……!!!!

   Aku segera berlari sekuat tenaga mengejarnya.
   “CHAAAALLLL…..!!!! BERENTI….!!!!” teriakku serak menyusulnya.
   Harus kuakui. Walaupun kecil, tapi lari anak itu kencang juga. Sedangkan aku..??? Aku orang yang paling payah kalau disuruh berlari. Paru-paruku serasa ditekan saking sakitnya. Aku tak sanggup berlari, tapi kengerianku mengalahkan kerja paruku.
   “CHAAAALLLLL……!!!” teriakku lagi memanggilnya. Jangankan menoleh, berhenti sejenakpun dia tak melakukannya. Dia semakin dekat dengan jalan raya.
   “CHAAALLLLL…..!!! TUNGGU…..!!!”
   Aku tak bisa. Kalau aku menyerah, aku tak mau mendapati pikiran burukku jadi kenyataan nantinya.
  
   Sial…!!!
  
   Ichal sudah sampai di jalan raya dan masih saja berlari di pinggir trotoar.
   “CHAAAALLLL….!!!” orang-orang yang dipinggir jalan hanya melihat kami dengan tololnya. Mungkin mereka juga bingung mau membantu apa?
  
   Ooohhh… Tidaaaakkkk….!!!
   
   Ichal berhenti dan hendak menyebrang. Apa sih yang ada dipikiran anak itu..???
   Aku semakin mempercepat langkahku.
   “Tiiinnnn…. Tiiiinnn…..!!!” suara klakson mobil silih berganti mendapati Ichal yang maju mundur hendak menyeberang.
   “CHAAALLLLL…..” teriakku lagi. Dia melihatku dengan air mata yang masih setia membanjiri pipinya.
   “CHAAAALLLLL…. TIDAAAAAKKKK…..!!!” teriakku kesetanan karena anak itu nekat maju selangkah demi selangkah menyebrangi jalan.
   “JANGAAAANNN……!!!” aku hampir sampai.
   “Tiiiinnnnnnnnnnn…….” bunyi klakson sepeda yang terus berbunyi membuatku di puncak panik.
   “TIDAAAKKKKK……..!!!!!” segera kuraih tubuhnya dan kudekap seerat-eratnya.
   Satu sepeda motor berhasil menghindari kami. Aku segera menepi dengan Ichal dalam dekapanku.
   Tapi kami kembali di kejutkan dengan suara klakson sepeda yang tiba-tiba muncul dari belakang mobil yang melewati kami.
   Aku pasrah. Satu-satunya hal yang kupertahankan adalah menjaga Ichal tetap aman dalam dekapanku. Kulingkarkan lenganku melindungi kepalanya.
   Na’as…!!!
   Kaca spion dan stang setir sepeda motor orang tersebut sukses menyentuh punggungku dan mendorongku ke depan sehingga aku jatuh terjerembab.
   Sepeda tiger tersebut langsung oleng, membuat penumpangnya melesat ke arah trotoar. Sepedanya terangkat dan jatuh berputar. Semua kendaraan lain langsung menepi berusaha menghindari tabrakan beruntun.
   Tak cukup sampai di sini kesialanku.
   Sepeda tersebut masih berputar dan nyusruk dengan pasti kearah kami berdua. Aku yang meringis menahan sakit akibat luka dorongan dan lengan yang sobek karena tergesek jalan aspal kembali di buat panik olehnya.
   Tapi aku tak bisa bangun. Ichal sepertinya tak sadarkan diri karena benturan saat kami terjatuh tadi. Tuhan…!!! Selamatkan dia….!!! Kalaupun harus ada yang mati, kumohon…!! Ambil saja nyawaku sebagai gantinya.
   Sepeda motor itu masih saja bergerak ke arah kami. Dengan sedikit sisa kekuatan yang kupunya, aku memutar tubuhku kearah yang sama dengan arah gerak motor tersebut. Aku harus membuat Ichal terlindungi. Itu yang penting.
   Hampir saja…!!!
   Sedikit telat aku memutar tubuh. Ichal pasti akan kena dorong ban depan sepeda itu. Tapi…..

   “AAARRRRRGGHHHHH…….!!!!” aku berteriak kesakitan saat sepeda tersebut kembali memutar dan ban belakangnya yang masih berputar menggosok pinggang dan pundakku. Kutelungkupkan kepalaku agar terhindar dari gesekan roda tersebut.
   Na’asnya… roda tersebut tetap bertahan berputar di punggungku.
   “AAAARRRRGGGGGHHHHH…….” teriakan dan tangisku berderai memekakkan telinga.
   Menyakitkan Tuhan…..!!!!
   “AAAAAARRRGGGGHHHHHHH………..!!!!!” kembali aku berteriak lirih. Sepeda tersebut terus bergerak menggeserku ke depan dan menyobek semua kulit tubuhku yang mencium aspal.
   Aku tak sanggup lagi. Untuk berteriakpun suaraku tak mau keluar. Seakan melesat, perlahan kegelapan mulai merambatiku. Kegelapan yang menyakitkan.
   Aku ingin rasa sakit ini berakhir. Aku tak sanggup menahan siksaan ini lagi.
   Bantu aku Tuhan…..!!!!
   Bebaskan aku dari rasa sakit ini….!!!

   Aku tak bisa merasakan apa-apa lagi. Pendengaranku semakin melemah dan perlahan kegelapan ini merenggut kesadaranku sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar