“Kakak mau pergi…???” tanya ichal setengah
marah padaku. “Kakak mau meninggalkan Ichal sendiri disini….???” tak
lama matanya sudah basah dengan air mata yang
mengalir lancar di
pipinya. “Kakak tega ninggalin Ichal
sendiri…???”
Seluruh persendian tubuhku seakan lemas.
Kenapa aku harus menghadapi situasi ini..???
“Chal….” panggilku
dengan suara tercekik karena kerongkonganku terasa sangat menyakitkan. Perlahan
aku berjalan ke
arahnya.
“Kakak gak sayang Ichal…???? Kakak sudah
bosan sama Ichal….???
Apa Ichal
nakal kak…??? Ichal janji….. Ichal akan jadi anak yang baik….!!” airmatanya
seperti ribuan tombak yang menusuk-nusuk jantungku. “Jangan pergi kak….!!!
Ichal gak mau ditinggal sendiri….”
“Chal…..” suarakupun hampir hilang karena
tenggorokanku yang semakin tercekat. “Maaf…..!!!”
“Kalau kakak pergi, Ichal juga akan pergi
dari sini…” ujarnya dan segera pergi meninggalkanku dan mas Candra
yang masih berdiri mematung tanpa bicara sepatah katapun daritadi.
Aku tersentak saat mendengar suara pintu
depan di
buka. “Ichal….” panggilku
dengan suara serak dan langsung berlari mengejarnya.
Ichal membuka pagar rumah dengan susah payah
dan kembali berlari
keluar.
‘Mau kemana dia…???’
Pikiranku merespon ngeri dengan tindakannya.
Pagi ini jam sibuk. Jalanan pasti sedang ramai-ramainya orang lalu lalang. Aku
tak mau….
TIDAAAAAKKKKK……!!!!
Aku segera berlari sekuat tenaga
mengejarnya.
“CHAAAALLLL…..!!!! BERENTI….!!!!” teriakku
serak menyusulnya.
Harus kuakui. Walaupun kecil, tapi lari anak
itu kencang juga. Sedangkan aku..??? Aku orang yang paling payah kalau
disuruh berlari. Paru-paruku serasa ditekan saking sakitnya. Aku tak sanggup
berlari, tapi kengerianku mengalahkan kerja paruku.
“CHAAAALLLLL……!!!” teriakku lagi
memanggilnya. Jangankan menoleh, berhenti sejenakpun dia tak melakukannya. Dia
semakin dekat dengan jalan raya.
“CHAAALLLLL…..!!! TUNGGU…..!!!”
Aku tak bisa. Kalau aku menyerah, aku tak
mau mendapati pikiran burukku jadi kenyataan nantinya.
Sial…!!!
Ichal sudah sampai di jalan
raya dan masih saja berlari di pinggir trotoar.
“CHAAAALLLL….!!!” orang-orang
yang dipinggir jalan hanya melihat kami dengan tololnya. Mungkin mereka juga
bingung mau membantu apa?
Ooohhh… Tidaaaakkkk….!!!
Ichal berhenti dan hendak menyebrang. Apa
sih yang ada dipikiran anak itu..???
Aku semakin mempercepat langkahku.
“Tiiinnnn…. Tiiiinnn…..!!!” suara klakson
mobil silih berganti mendapati Ichal yang maju mundur hendak menyeberang.
“CHAAALLLLL…..” teriakku lagi. Dia melihatku
dengan air
mata yang masih setia membanjiri pipinya.
“CHAAAALLLLL…. TIDAAAAAKKKK…..!!!” teriakku
kesetanan karena anak itu nekat maju selangkah demi selangkah menyebrangi
jalan.
“JANGAAAANNN……!!!” aku hampir
sampai.
“Tiiiinnnnnnnnnnn…….” bunyi
klakson sepeda yang terus berbunyi membuatku di puncak
panik.
“TIDAAAKKKKK……..!!!!!” segera kuraih
tubuhnya dan kudekap seerat-eratnya.
Satu sepeda motor berhasil menghindari kami.
Aku segera menepi dengan Ichal dalam dekapanku.
Tapi kami kembali di kejutkan
dengan suara klakson sepeda yang tiba-tiba muncul dari belakang mobil yang
melewati kami.
Aku pasrah. Satu-satunya hal yang
kupertahankan adalah menjaga Ichal tetap aman dalam dekapanku.
Kulingkarkan lenganku melindungi kepalanya.
Na’as…!!!
Kaca spion dan stang setir sepeda motor
orang tersebut sukses menyentuh punggungku dan mendorongku ke depan
sehingga aku jatuh terjerembab.
Sepeda tiger tersebut langsung oleng,
membuat penumpangnya melesat ke arah trotoar. Sepedanya terangkat
dan jatuh berputar. Semua kendaraan lain langsung menepi berusaha menghindari
tabrakan beruntun.
Tak cukup sampai di sini
kesialanku.
Sepeda tersebut masih berputar dan nyusruk
dengan pasti kearah kami berdua. Aku yang meringis menahan sakit akibat luka
dorongan dan lengan yang sobek karena tergesek jalan aspal kembali di buat
panik
olehnya.
Tapi aku tak bisa bangun. Ichal sepertinya
tak sadarkan diri karena benturan saat kami terjatuh tadi. Tuhan…!!! Selamatkan
dia….!!! Kalaupun harus ada yang mati, kumohon…!! Ambil saja nyawaku sebagai
gantinya.
Sepeda motor itu masih saja bergerak ke arah
kami. Dengan sedikit sisa kekuatan yang kupunya, aku memutar tubuhku kearah
yang sama dengan arah gerak motor tersebut. Aku harus membuat
Ichal terlindungi. Itu yang penting.
Hampir saja…!!!
Sedikit telat aku memutar tubuh. Ichal pasti
akan kena dorong ban depan sepeda itu. Tapi…..
“AAARRRRRGGHHHHH…….!!!!” aku
berteriak kesakitan saat sepeda tersebut kembali memutar dan ban belakangnya
yang masih berputar menggosok pinggang dan pundakku. Kutelungkupkan kepalaku
agar terhindar dari gesekan roda tersebut.
Na’asnya… roda tersebut tetap bertahan
berputar di
punggungku.
“AAAARRRRGGGGGHHHHH…….” teriakan
dan tangisku berderai memekakkan telinga.
Menyakitkan Tuhan…..!!!!
“AAAAAARRRGGGGHHHHHHH………..!!!!!” kembali aku berteriak lirih.
Sepeda
tersebut terus bergerak menggeserku ke depan
dan menyobek semua kulit tubuhku yang mencium aspal.
Aku tak sanggup lagi. Untuk
berteriakpun suaraku tak mau keluar. Seakan melesat, perlahan kegelapan mulai
merambatiku. Kegelapan yang menyakitkan.
Aku ingin rasa sakit ini berakhir. Aku tak sanggup
menahan siksaan ini lagi.
Bantu aku Tuhan…..!!!!
Bebaskan aku dari rasa sakit ini….!!!
Aku tak bisa merasakan apa-apa lagi.
Pendengaranku semakin melemah dan perlahan kegelapan ini merenggut kesadaranku
sepenuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar