"Mas, tamunya
kok diacuhin?" tanya seorang pelanggan yang tahu aku tak memperdulikan
Bayu yang daritadi nonton tivi sendirian.
"Gak papa,
buk. Dia sudah sering kesini kok. Jadi dicuekin juga dia santai saja."
jawabku sekenanya.
Semenjak kejadian
itu, mas Candra tak pernah lagi datang kesini. Tapi dia tak melarang Ichal
datang. Tiap sabtu malam, Ichal masih sering menginap di rumah dan terima kasih
pada Tuhan, Bayu tak pernah datang tiap ada Ichal di rumah. Aku yakin dia tahu
dan apapun alasannya, aku tak ingin dia melibatkan Ichal juga dalam masalahku.
"Kulihat
lelaki itu tak pernah menjengukmu. Apa dia sudah bosan padamu?"
"Bisa
kubantu?" tawarnya saat aku membersihkan lantai yang penuh dengan rambut
pelangganku.
"Kamu marah
padaku?"
"Kalau kamu
seperti itu, aku akan lebih lama lagi di sini."
Kesal karena tak
kuhiraukan pertanyaannya, Bayu menutup pintu kasar dan kembali membalik tanda
open jadi close. Dia meraihku dan memaksaku menatapnya. "Sampai kapan kamu
akan mengacuhkanku? Kau tau semua itu percuma."
"Kalau hanya
ini yang bisa membuatmu muak padaku, aku akan melakukannya." sahutku
dingin.
"Percuma kamu
melakukannya. Aku tak akan pernah muak padamu."
"Kalau begitu
aku akan pergi diam-diam supaya tak seorangpun tau keberadaanku."
"Aku pasti
bisa menemukanmu. Dan kuyakin kamu tak akan berani melakukannnya. Aku sudah tau
dimana tempat tinggal lelaki itu dan keluarga besarnya. Tinggal mendatangi
tempat kerjanya dan memberitahu mereka kalau salah seorang keluarganya
menyimpan seorang lelaki di sini, dia pasti akan sangat murka dan membuat hidup
lelaki itu semakin sulit."
"Kamu...!!" kuketatkan gerahamku dan mencengkeram kerah
bajunya. "Dia tak ada hubungannya dengan urusan kita. KENAPA KAMU MENYUSAHKANNYA,
BANGSAT?!!" aku kalap dan mendorongnya ke daun pintu kamar sampai pintu
terbuka dan membuat kami berdua tersungkur kelantai.
Bayu menyeringai
dengan lengan tetap mengunci pinggangku. "Ini baru kekasihku. Penuh emosi
dan gairah. Kalau ini bisa membuatmu tak punya pilihan, aku akan
melakukannya."
Tubuhku gemetar
menahan amarah di hatiku. Air mataku mengalir dan tubuhku lemah. "Jangan
ganggu mereka, atau kau akan menemukan mayatku."
"Aku yakin
kamu takkan melakukannya." tantang Bayu sedikit ragu.
"Aku tak
pernah main-main dengan ucapanku." kutekankan setiap kata-kataku untuk
mempertegas ancamanku.
Sudah tiga minggu
mas Candra tak mengunjungiku. Hal ini sangat jarang kulakukan, akhirnya aku
meng-onlinekan semua akun sosial mediaku. Aku berharap mas Candra mau
mencurahkan sedikit perasaannya lewat akun facebook atau tweeternya. Seperti
orang bodoh, aku mengecek wallnya dan membuka-buka fotonya. Akun facebooknya
sendiri di private dan aku masuk dalam list temannya yang tak sampai seratus orang.
Tapi tak ada apa-apa. Dia bahkan jarang aktif di dunia maya.
'Mas. Aku rindu.'
Untung Ichal masih
datang ke rumah sesekali. Jadi aku tak terlalu tersiksa oleh rasa rinduku.
Ichal jadi penurut sekarang. Dia hanya menginap tiap malam minggu. Terkadang
aku ingin mengajaknya menginap lebih sering, tapi aku tak boleh melakukannya.
Aku harus membiasakan anak itu tanpa diriku.
Hari Jum'at. Aku
off hari ini karena tak mau ketinggalan sholat Jum'atku.
Ada yang mengetuk
pintu. Siapa? Kubuka tirai sedikit untuk melihat siapa yang datang, tapi dengan
cepat langsung kututup kembali.
'Bayu! Kamu
benar-benar keterlaluan.'
Apa yang harus
kulakukan? Tak mungkin aku membiarkannya di luar. Tapi kalau aku membukanya,
aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
"Mbak...." sapaku pelan saat membuka pintu.
Mbak Asty
terperangah dengan apa yang dilihatnya. Matanya mendelik tak percaya.
"Ada
ap..?"
Tanpa basa basi,
mbak Asty langsung mendorongku kebelakang sehingga aku terjerembab menimpa
kursi putar yang biasa digunakan tempat duduk pelangganku. Kursinya terdorong
dan menghantam rak obat dan alat sampai semua berantakan.
"Anak tak tau
diri. Belum puas kamu menggoda adikku?" diraihnya kerah bajuku dan
ditamparnya pipiku bertubi-tubi. "Harusnya aku tau kenapa Candra dan Ichal
jarang pulang ke rumah belakangan ini. Dasar anak jalang! Tingkahmu sesuai
dengan pekerjaanmu. Dasar lelaki berpenyakit. Mestinya orang sepertimu
dimusnahkan dari dunia ini." Mbak Asty terus mengoceh sambil menarik dan
mendorongku ke belakang sehingga semua perabotku berantakan. Beberapa luka
gores menghiasi tubuhku karena pecahan kaca dan beberapa alat cukur yang kutata
di rak alat.
"Kalau kamu
masih berhubungan dengan Candra, aku takkan segan-segan membuat hidupmu
menderita. Camkan itu!!!" belum puas dengan apa yang dilakukannya, Mbak
Asty kembali menghujaniku dengan tamparan keras sebelum akhirnya
menjungkirkanku ke lantai. "Najis kamu!!!" umpatnya penuh penekanan.
'Ya Rabb. Ujianmu
terlalu menyakitkan bagiku.' rintihku dalam hati sambil tersenyum getir. Apakah
aku ini benar-benar seorang lelaki? Kenapa aku bisa lembek begini? Apa yang
salah denganku?
Kasak kusuk
tetanggapun mulai menyebar. Setiap orang membicarakan kejadian kedatangan mbak
Asty tempo hari. Tapi mereka masih memasang wajah ramah saat bertatap muka
denganku. Setelah itu, mereka kembali menggosipkanku di belakang.
Rumah yang awalnya
tenang perlahan mulai sering gaduh. Beberapa pelanggan perempuan yang sengaja
mencari gara-gara selalu saja memaki dengan keras kalau aku tak becus menata
rambut mereka. Keluhan-keluhan yang tak pernah kudapat sebelumnya perlahan
selalu aku dapatkan, bahkan ada yang sampai meminta ganti rugi atas ketidak
puasan yang mereka keluhkan.
Tak cukup dengan
itu, beberapa pria hidung belangpun mulai berdatangan ke rumah. Beberapa dari
mereka bahkan terang-terangan mengajakku bercumbu di kamar.
Terkadang aku
menertawakan diriku sendiri. Kenapa hidupku bak cerita drama begini? Aku kira
semua gunjingan dan hinaan hanya ada di tivi saja, tapi sekarang ini? Yang
kualami ini apa? Apakah ini nyata? Lucu benar hidupku. Lantas apa yang benar
padaku? Apa Tuhan?!
"Sudah
selesai, Pak. Ada yang kurang?" tanyaku saat aku selesai finishing
memotong rambut seorang pria yang kutaksir dia adalah seorang militer dari
postur tubuh dan pakaiannya.
"Perfect." sahutnya dengan senyum manis. Maka aku lepaskan
kain penutup badan dan segera mengemasi peralatan. Namun kegiatanku terhenti
saat dengan tiba-tiba dia merangkulku dan menggesekkan kejantanannya yang sudah
mengeras dengan sengaja.
"Pak!"
sentakku melepaskan diri. "Perbuatan anda sangat tidak sopan!"
"Hahaha...
bukankah kamu juga sering melayani pria sepertiku? Ternyata rumor itu benar.
Kamu manis dan menarik."
"Kalau urusan
anda sudah selesai. Anda bisa pergi sekarang!" usirku kasar.
"Oh ayolah!
Memangnya untuk apa kamu buka salon di rumah kalau bukan untuk layanan
plus-plus." pria itu masih saja mencoba meraihku.
"Kepala ada
sudah rusak. Apa yang membuat anda berpikir seperti itu? Sebaiknya anda pergi
sebelum kesopanan saya habis."
"Oke!"
serunya mengalah. Perlahan dia mengambil sejumlah uang dari dompet dan
mengulurkannya padaku. Awalnya aku ragu untuk menerimanya. Emosi membuatku
enggan menerima uang dari pria brengsek seperti itu. Tapi kuterima juga karena
itu hakku. Dan aku menyesali keputusanku.
Dengan tawa senang,
pria itu menangkap tanganku dan mengunci pinggangku. "Aku suka anak yang
galak sepertimu. Menggairahkan."
"Brengsek!
Lepaskan!!!" usahaku berontak seolah percuma, tapi aku tak mau menyerah.
"Santai,
sayang. Toh tak ada yang melihat kita. hahaha.."
"Lepaskan aku,
bangsat!!"
Seolah tuli, pria
itu tetap saja mencumbuku dan berusaha menyentuh bibirku. Aku tak mau kalah.
Sudah cukup harga diriku di injak-injak oleh mereka. Kalau bertahan adalah
satu-satunya hal yang bisa kulakukan, maka aku akan melakukannya.
Saat pria itu
berhasil menghimpitku ke dinding, sebuah tangan mendarat di punggung pria itu
dan menyentakkannya ke belakang. Tanpa pikir panjang, anak yang paling kusayang
meluncurkan pukulan keras ke wajah pria brengsek itu bertubi-tubi.
Tapi tubuh Ichal kalah besar. Pria itu dengan
mudah mendorong Ichal kebelakang dan berusaha membalasnya. Kalau terus
dibiarkan, Ichal bisa babak belur dihajarnya.
Tanpa pikir
panjang, kuraih kursi duduk plastik di dekatku dan kuhantamkan ke punggungnya,
sehingga pria itu jatuh tersungkur di depan Ichal. "Sebaiknya anda cepat
pergi dari sini, sebelum saya bersikap lebih kejam!" seruku dingin sambil
membantu Ichal berdiri.
"Kamu akan
menyesal nanti!" ancam pria itu sambil berlalu dari hadapan kami.
"Kamu gak apa-apa?" tanyaku mengecek
keselamatannya. Aku tak ingin Ichal dapat masalah di rumah karena luka yang
bisa saja dia dapatkan.
"Mestinya
Ichal yang tanya begitu ke kakak." sekarang ganti Ichal yang mengechek
lengan dan wajahku. "Ini kenapa kak?" tanya Ichal yang melihat lebam
di bibirku.
"Gak papa.
Cuma luka kecil saja." elakku meraih jemarinya yang menempel disana dan
menurunkannya.
"Ada apa kak?
Kenapa orang tadi menyakiti kakak?" mata Ichal mulai basah. "Kenapa
dia melakukan itu?"
"Maaf, Chal!!
Tak seharusnya kamu datang kesini."
"Dan ngebiarin
kakak diperlakukan seperti tadi? Kita pergi saja, kak!"
"Pergi?
Kita?" tanyaku yang mencerna tiap katanya.
"Iya, kak.
Ayah sering murung belakangan ini. Dan kemaren tante Asty mendatangi Ichal.
Tante sudah tau kalau kakak tinggal disini. Mungkin itu sebabnya ayah sering
murung. Lebih baik Ichal pergi sama kakak daripada kakak pergi sendirian
lagi." Ichal mulai terisak di pelukanku. "Ichal gak mau pisah sama
kakak lagi."
"Sssshhh....!!!"
desisku menenangkannya. "Kakak gak apa-apa, Chal. Kakak gak akan pergi
dari sini. Kamu tenang aja!"
"Janji kakak
gak bakal ninggalin Ichal lagi!!"
"Iya, Chal.
Kakak janji."
Saat kudengar deru
mobil yang berhenti diluar rumah, aku terlonjak dan membuka tirai kamar. Tapi
harapanku hampa, yang kulihat justru sosok orang yang paling kubenci dalam
hidupku.
Dengan langkah
penuh amarah, aku membuka pintu. Bisa kulihat raut heran di wajah Bayu yang
mendapatiku membukakan pintu untuknya.
"Plakkkk...!!!"
tamparan keras langsung kusarangkan di pipi kanannya. "Puas kamu
menghancurkan hidupku? Manusia macam apa kamu? Binatang saja masih lebih
berperasaan dari pada hati busukmu itu."
"Aku hanya
ingin kamu ikut denganku." jawabnya sembari mengusap sudut bibirnya dengan
punggung tangan kanannya.
"Sebaiknya
kamu perbaiki dulu otakmu itu! Sampai kapanpun aku tak akan sudi ikut
denganmu."
"Apa yang kamu
harapkan dari lelaki pengecut itu?"
Sebelum sempat
kusarangkan pukulan di wajahnya, Bayu lebih dulu menangkapnya dan mengunci
tangan dan pingganggku. "Dia jauh lebih berperasaan daripada hewan gila
sepertimu."
"Kalau saja
kamu mau memberi kesempatan padaku, aku pasti akan melakukan yang lebih baik
darinya."
"Mimpi
kamu!"
"Aku kira tak
ada lagi yang perlu kau pertahankan disini. Jadi ikutlah bersamaku!"
"Najis!!"
aku terus berontak dari pitingannya. "Lepas, Bayu!"
"Ikut dan kau
bebas."
"Bangsat!!" kutendang kakinya dan segera kulepas pitingannya.
Secepat mungkin kusambar gunting yang ada di dekatku dan kuarahkan ke pusarku.
"Kalaupun ada yang ikut bersamamu, itu adalah mayatku."
Kalah gesit, Bayu
berhasil melempar gunting yang kupegang. "Aku takkan membiarkanmu."
Bayu langsung meraih tanganku dan menggeretku ke mobil.
"Lepas, Bayu!
Lepas!!" bentakku kasar yang kutahu percuma. Dengan kasar Bayu melemparku
ke kursi belakang dan mengikat kaki serta tanganku. "Brengsek kamu!!"
Tak ingin berdebat
mulut, Bayu membiarkanku memakinya dan langsung menghidupkan mobil. Entah
kemana dia membawaku pergi?
Aku tak dapat
memperkirakan berapa lama dia mengemudi. Tapi sepertinya tak sampai sejam dia
menghentikan mobilnya dan membawaku masuk kesebuah rumah.
"Disini kamu
hanya akan bersamaku." ucapnya saat mengunci pintu depan dan mengangkatku
dengan mudah ke dalam kamar.
"Kamu gila,
Bayu." umpatku saat dia merebahkanku ke ranjang.
"Akan
kubuktikan aku jauh lebih memuaskan dan hebat di ranjang daripada lelakimu
itu."
Entah cara pikir
seperti apa yang dia miliki. Dengan mudah dia berhasrat untuk mencumbuku.
"Hah! Kamu membawa handphone ya?!" serunya girang saat melepas celana
jeansku. "Oke! Kita lihat saja, apakah anak itu akan mencarimu atau tidak?
Biarkan dia bingung saat kau tak kunjung mengangkat telponnya. Hahaha..."
dan dengan beringas dia mulai melucuti semua pakaianku.
"Aaarrgghhh......!!!" kembali tubuhku menolak sentuhan.
Tubuhku mengejang dan berontak, tapi Bayu makin bergairah terhadap penolakanku.
"Hentikan, Bayu!! Hentikaaannn..!!!" air mataku mengalir bersamaan
jantungku yang berdebar kian kencang.
"Terus saja
berontak dan aku makin bergairah menyetubuhimu."
"Aarrrghhh...
aaarrrgghh...!!!" aku menjerit seperti orang kesurupan sampai Bayu harus
membekap mulutku. Aku takut sekali. Aku ingin dia menghentikan semua
sentuhannya.
Dengan ganas dia
melumat dan mengunci bibirku. Lenganku dicengkeramnya kuat-kuat dan kakiku di
tindihnya sampai akhirnya hal yang paling ku takutkan terjadi juga. Bayu
mendapatkan semuanya.
"Aaaarrrggghhh...." aku terus menjerit dan terisak. Otakku
kacau dan semuanya seolah kusut. Aku bahkan sulit mengingat apa-apa lagi.
Badanku gemetaran sampai Bayu harus mendekapku erat.
Saat terbangun, aku
merasakan sebuah dekapan hangat dibelakangku. Mas Candra? Kekasihku...???
Kubalikkan tubuh
dan merangkulnya erat. "Mas!! Aku rindu padamu." kutumpahkan tangisku
di dadanya.
Aku terus terisak
sampai kedua lengan itu mendekapku erat. "Jangan meninggalkanku!! Aku
membutuhkanmu!!"
"Ga!"
panggil suara itu lembut.
Kutatap wajahnya.
Candraku. Kekasihku. "Jangan pergi, mas! Maafkan aku!"
Kurasakan sebuah
jari mengusap sudut mataku. "Aku takkan pernah meninggalkanmu."
Sebuah kecupan lembut
mendarat dibibirku. Hangat dan sedikit berbeda, tapi aku membiarkannya. Lambat
laun ciuman itu makin memaksa dan dekapan itu semakin erat. Kembali dia
merabaku dan mencumbu tubuhku. Aku kembali mengejang dan berontak.
"Jangan!!
Jangan menyentuhku..!!!" berontakku menjauh. Tapi tubuhku lemah. Tiap
sendiku terasa ngilu. "Mas! Maaf! Aku tak bisa."
Tapi tetap saja Mas
Candra mendesakku. Dia meraih lenganku dan mencengkeramnya kuat. "Aku
takkan menyakitimu." ucapnya yang terdengar seperti bisikan.
"Aku takut,
mas." rintihku memelas.
"Aku sayang
padamu, Ga."
"Aku juga
sayang padamu." kembali air mataku menetes. 'Aku rindu padamu.' ku dekap
erat bahunya. Tapi lagi-lagi dia mencumbuku, membuat tubuhku kembali mengejang.
Kembali aku
menjerit kesetanan tiap kali tubuhku menolak sentuhannya. "Bayu! Lepaskan
aku! Pergiii..!!!" namun cumbuan itu semakin intens dan menuntut sampai
kesadaranku kembali kacau.
Entah sudah berapa
hari aku berada di ruangan ini. Melingkar seperti bayi kedinginan. Rasanya
enggan untuk beranjak dari sini. Aku bahkan tak ingin melihat cahaya matahari
lagi.
Sesekali
kesadaranku muncul manakala Bayu tengah memandikanku di bathtub. Ada rasa nyeri
di tiap jengkal tubuhku. Tapi jangankan mengeluh, untuk marahpun rasanya hatiku
terasa kebas.
"Kamu tak
ingin makan, Ga?" kugelengkan kepalaku kaku di sandaran bathtub.
"Jangan kuatir! Suatu saat nanti kamu akan terbiasa dengan semua ini.
Awalnya memang sakit, tapi aku yakin kamu akan terbiasa denganku dan pada
saatnya nanti kau pasti bisa menerimaku." sebuah kecupan lembut di berikan
Bayu di bibirku.
Lama-lama ciuman
itu kembali menuntut dan tak lama, Bayu menyusulku masuk ke bathtub untuk
kembali mencumbuku. Air hangat yang ada tak bisa mencegahku dari menggigil.
Kalau memang aku akan terbiasa, kapan hal itu akan terjadi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar