Jumat, 06 Februari 2015

Choose Part 04

  



   "Mas, tamunya kok diacuhin?" tanya seorang pelanggan yang tahu aku tak memperdulikan Bayu yang daritadi nonton tivi sendirian.
   "Gak papa, buk. Dia sudah sering kesini kok. Jadi dicuekin juga dia santai saja." jawabku sekenanya.
   Semenjak kejadian itu, mas Candra tak pernah lagi datang kesini. Tapi dia tak melarang Ichal datang. Tiap sabtu malam, Ichal masih sering menginap di rumah dan terima kasih pada Tuhan, Bayu tak pernah datang tiap ada Ichal di rumah. Aku yakin dia tahu dan apapun alasannya, aku tak ingin dia melibatkan Ichal juga dalam masalahku.
  
   "Kulihat lelaki itu tak pernah menjengukmu. Apa dia sudah bosan padamu?"
   "Bisa kubantu?" tawarnya saat aku membersihkan lantai yang penuh dengan rambut pelangganku.
   "Kamu marah padaku?"
   "Kalau kamu seperti itu, aku akan lebih lama lagi di sini."
   Kesal karena tak kuhiraukan pertanyaannya, Bayu menutup pintu kasar dan kembali membalik tanda open jadi close. Dia meraihku dan memaksaku menatapnya. "Sampai kapan kamu akan mengacuhkanku? Kau tau semua itu percuma."
   "Kalau hanya ini yang bisa membuatmu muak padaku, aku akan melakukannya." sahutku dingin.
   "Percuma kamu melakukannya. Aku tak akan pernah muak padamu."
   "Kalau begitu aku akan pergi diam-diam supaya tak seorangpun tau keberadaanku."
   "Aku pasti bisa menemukanmu. Dan kuyakin kamu tak akan berani melakukannnya. Aku sudah tau dimana tempat tinggal lelaki itu dan keluarga besarnya. Tinggal mendatangi tempat kerjanya dan memberitahu mereka kalau salah seorang keluarganya menyimpan seorang lelaki di sini, dia pasti akan sangat murka dan membuat hidup lelaki itu semakin sulit."
   "Kamu...!!" kuketatkan gerahamku dan mencengkeram kerah bajunya. "Dia tak ada hubungannya dengan urusan kita. KENAPA KAMU MENYUSAHKANNYA, BANGSAT?!!" aku kalap dan mendorongnya ke daun pintu kamar sampai pintu terbuka dan membuat kami berdua tersungkur kelantai.
   Bayu menyeringai dengan lengan tetap mengunci pinggangku. "Ini baru kekasihku. Penuh emosi dan gairah. Kalau ini bisa membuatmu tak punya pilihan, aku akan melakukannya."
   Tubuhku gemetar menahan amarah di hatiku. Air mataku mengalir dan tubuhku lemah. "Jangan ganggu mereka, atau kau akan menemukan mayatku."
   "Aku yakin kamu takkan melakukannya." tantang Bayu sedikit ragu.
   "Aku tak pernah main-main dengan ucapanku." kutekankan setiap kata-kataku untuk mempertegas ancamanku.


   Sudah tiga minggu mas Candra tak mengunjungiku. Hal ini sangat jarang kulakukan, akhirnya aku meng-onlinekan semua akun sosial mediaku. Aku berharap mas Candra mau mencurahkan sedikit perasaannya lewat akun facebook atau tweeternya. Seperti orang bodoh, aku mengecek wallnya dan membuka-buka fotonya. Akun facebooknya sendiri di private dan aku masuk dalam list temannya yang tak sampai seratus orang. Tapi tak ada apa-apa. Dia bahkan jarang aktif di dunia maya.
   'Mas. Aku rindu.'
    Untung Ichal masih datang ke rumah sesekali. Jadi aku tak terlalu tersiksa oleh rasa rinduku. Ichal jadi penurut sekarang. Dia hanya menginap tiap malam minggu. Terkadang aku ingin mengajaknya menginap lebih sering, tapi aku tak boleh melakukannya. Aku harus membiasakan anak itu tanpa diriku.

   Hari Jum'at. Aku off hari ini karena tak mau ketinggalan sholat Jum'atku.
   Ada yang mengetuk pintu. Siapa? Kubuka tirai sedikit untuk melihat siapa yang datang, tapi dengan cepat langsung kututup kembali.
   'Bayu! Kamu benar-benar keterlaluan.'
   Apa yang harus kulakukan? Tak mungkin aku membiarkannya di luar. Tapi kalau aku membukanya, aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
   "Mbak...." sapaku pelan saat membuka pintu.
   Mbak Asty terperangah dengan apa yang dilihatnya. Matanya mendelik tak percaya.
   "Ada ap..?"
   Tanpa basa basi, mbak Asty langsung mendorongku kebelakang sehingga aku terjerembab menimpa kursi putar yang biasa digunakan tempat duduk pelangganku. Kursinya terdorong dan menghantam rak obat dan alat sampai semua berantakan.
   "Anak tak tau diri. Belum puas kamu menggoda adikku?" diraihnya kerah bajuku dan ditamparnya pipiku bertubi-tubi. "Harusnya aku tau kenapa Candra dan Ichal jarang pulang ke rumah belakangan ini. Dasar anak jalang! Tingkahmu sesuai dengan pekerjaanmu. Dasar lelaki berpenyakit. Mestinya orang sepertimu dimusnahkan dari dunia ini." Mbak Asty terus mengoceh sambil menarik dan mendorongku ke belakang sehingga semua perabotku berantakan. Beberapa luka gores menghiasi tubuhku karena pecahan kaca dan beberapa alat cukur yang kutata di rak alat.
   "Kalau kamu masih berhubungan dengan Candra, aku takkan segan-segan membuat hidupmu menderita. Camkan itu!!!" belum puas dengan apa yang dilakukannya, Mbak Asty kembali menghujaniku dengan tamparan keras sebelum akhirnya menjungkirkanku ke lantai. "Najis kamu!!!" umpatnya penuh penekanan.
   'Ya Rabb. Ujianmu terlalu menyakitkan bagiku.' rintihku dalam hati sambil tersenyum getir. Apakah aku ini benar-benar seorang lelaki? Kenapa aku bisa lembek begini? Apa yang salah denganku?


   Kasak kusuk tetanggapun mulai menyebar. Setiap orang membicarakan kejadian kedatangan mbak Asty tempo hari. Tapi mereka masih memasang wajah ramah saat bertatap muka denganku. Setelah itu, mereka kembali menggosipkanku di belakang.
   Rumah yang awalnya tenang perlahan mulai sering gaduh. Beberapa pelanggan perempuan yang sengaja mencari gara-gara selalu saja memaki dengan keras kalau aku tak becus menata rambut mereka. Keluhan-keluhan yang tak pernah kudapat sebelumnya perlahan selalu aku dapatkan, bahkan ada yang sampai meminta ganti rugi atas ketidak puasan yang mereka keluhkan.
   Tak cukup dengan itu, beberapa pria hidung belangpun mulai berdatangan ke rumah. Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan mengajakku bercumbu di kamar.
   Terkadang aku menertawakan diriku sendiri. Kenapa hidupku bak cerita drama begini? Aku kira semua gunjingan dan hinaan hanya ada di tivi saja, tapi sekarang ini? Yang kualami ini apa? Apakah ini nyata? Lucu benar hidupku. Lantas apa yang benar padaku? Apa Tuhan?!


   "Sudah selesai, Pak. Ada yang kurang?" tanyaku saat aku selesai finishing memotong rambut seorang pria yang kutaksir dia adalah seorang militer dari postur tubuh dan pakaiannya.
   "Perfect." sahutnya dengan senyum manis. Maka aku lepaskan kain penutup badan dan segera mengemasi peralatan. Namun kegiatanku terhenti saat dengan tiba-tiba dia merangkulku dan menggesekkan kejantanannya yang sudah mengeras dengan sengaja.
   "Pak!" sentakku melepaskan diri. "Perbuatan anda sangat tidak sopan!"
   "Hahaha... bukankah kamu juga sering melayani pria sepertiku? Ternyata rumor itu benar. Kamu manis dan menarik."
   "Kalau urusan anda sudah selesai. Anda bisa pergi sekarang!" usirku kasar.
   "Oh ayolah! Memangnya untuk apa kamu buka salon di rumah kalau bukan untuk layanan plus-plus." pria itu masih saja mencoba meraihku.
   "Kepala ada sudah rusak. Apa yang membuat anda berpikir seperti itu? Sebaiknya anda pergi sebelum kesopanan saya habis."
   "Oke!" serunya mengalah. Perlahan dia mengambil sejumlah uang dari dompet dan mengulurkannya padaku. Awalnya aku ragu untuk menerimanya. Emosi membuatku enggan menerima uang dari pria brengsek seperti itu. Tapi kuterima juga karena itu hakku. Dan aku menyesali keputusanku.
   Dengan tawa senang, pria itu menangkap tanganku dan mengunci pinggangku. "Aku suka anak yang galak sepertimu. Menggairahkan."
   "Brengsek! Lepaskan!!!" usahaku berontak seolah percuma, tapi aku tak mau menyerah.
   "Santai, sayang. Toh tak ada yang melihat kita. hahaha.."
   "Lepaskan aku, bangsat!!"
   Seolah tuli, pria itu tetap saja mencumbuku dan berusaha menyentuh bibirku. Aku tak mau kalah. Sudah cukup harga diriku di injak-injak oleh mereka. Kalau bertahan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan, maka aku akan melakukannya.
   Saat pria itu berhasil menghimpitku ke dinding, sebuah tangan mendarat di punggung pria itu dan menyentakkannya ke belakang. Tanpa pikir panjang, anak yang paling kusayang meluncurkan pukulan keras ke wajah pria brengsek itu bertubi-tubi.
   Tapi tubuh Ichal kalah besar. Pria itu dengan mudah mendorong Ichal kebelakang dan berusaha membalasnya. Kalau terus dibiarkan, Ichal bisa babak belur dihajarnya.
   Tanpa pikir panjang, kuraih kursi duduk plastik di dekatku dan kuhantamkan ke punggungnya, sehingga pria itu jatuh tersungkur di depan Ichal. "Sebaiknya anda cepat pergi dari sini, sebelum saya bersikap lebih kejam!" seruku dingin sambil membantu Ichal berdiri.
   "Kamu akan menyesal nanti!" ancam pria itu sambil berlalu dari hadapan kami.
   "Kamu gak apa-apa?" tanyaku mengecek keselamatannya. Aku tak ingin Ichal dapat masalah di rumah karena luka yang bisa saja dia dapatkan.
   "Mestinya Ichal yang tanya begitu ke kakak." sekarang ganti Ichal yang mengechek lengan dan wajahku. "Ini kenapa kak?" tanya Ichal yang melihat lebam di bibirku.
   "Gak papa. Cuma luka kecil saja." elakku meraih jemarinya yang menempel disana dan menurunkannya.
   "Ada apa kak? Kenapa orang tadi menyakiti kakak?" mata Ichal mulai basah. "Kenapa dia melakukan itu?"
   "Maaf, Chal!! Tak seharusnya kamu datang kesini."
   "Dan ngebiarin kakak diperlakukan seperti tadi? Kita pergi saja, kak!"
   "Pergi? Kita?" tanyaku yang mencerna tiap katanya.
   "Iya, kak. Ayah sering murung belakangan ini. Dan kemaren tante Asty mendatangi Ichal. Tante sudah tau kalau kakak tinggal disini. Mungkin itu sebabnya ayah sering murung. Lebih baik Ichal pergi sama kakak daripada kakak pergi sendirian lagi." Ichal mulai terisak di pelukanku. "Ichal gak mau pisah sama kakak lagi."
   "Sssshhh....!!!" desisku menenangkannya. "Kakak gak apa-apa, Chal. Kakak gak akan pergi dari sini. Kamu tenang aja!"
   "Janji kakak gak bakal ninggalin Ichal lagi!!"
   "Iya, Chal. Kakak janji."



   Saat kudengar deru mobil yang berhenti diluar rumah, aku terlonjak dan membuka tirai kamar. Tapi harapanku hampa, yang kulihat justru sosok orang yang paling kubenci dalam hidupku.
   Dengan langkah penuh amarah, aku membuka pintu. Bisa kulihat raut heran di wajah Bayu yang mendapatiku membukakan pintu untuknya.
   "Plakkkk...!!!" tamparan keras langsung kusarangkan di pipi kanannya. "Puas kamu menghancurkan hidupku? Manusia macam apa kamu? Binatang saja masih lebih berperasaan dari pada hati busukmu itu."
   "Aku hanya ingin kamu ikut denganku." jawabnya sembari mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan kanannya.
   "Sebaiknya kamu perbaiki dulu otakmu itu! Sampai kapanpun aku tak akan sudi ikut denganmu."
   "Apa yang kamu harapkan dari lelaki pengecut itu?"
   Sebelum sempat kusarangkan pukulan di wajahnya, Bayu lebih dulu menangkapnya dan mengunci tangan dan pingganggku. "Dia jauh lebih berperasaan daripada hewan gila sepertimu."
   "Kalau saja kamu mau memberi kesempatan padaku, aku pasti akan melakukan yang lebih baik darinya."
   "Mimpi kamu!"
   "Aku kira tak ada lagi yang perlu kau pertahankan disini. Jadi ikutlah bersamaku!"
   "Najis!!" aku terus berontak dari pitingannya. "Lepas, Bayu!"
   "Ikut dan kau bebas."
   "Bangsat!!" kutendang kakinya dan segera kulepas pitingannya. Secepat mungkin kusambar gunting yang ada di dekatku dan kuarahkan ke pusarku. "Kalaupun ada yang ikut bersamamu, itu adalah mayatku."
   Kalah gesit, Bayu berhasil melempar gunting yang kupegang. "Aku takkan membiarkanmu." Bayu langsung meraih tanganku dan menggeretku ke mobil.
   "Lepas, Bayu! Lepas!!" bentakku kasar yang kutahu percuma. Dengan kasar Bayu melemparku ke kursi belakang dan mengikat kaki serta tanganku. "Brengsek kamu!!"
   Tak ingin berdebat mulut, Bayu membiarkanku memakinya dan langsung menghidupkan mobil. Entah kemana dia membawaku pergi?
   Aku tak dapat memperkirakan berapa lama dia mengemudi. Tapi sepertinya tak sampai sejam dia menghentikan mobilnya dan membawaku masuk kesebuah rumah.
   "Disini kamu hanya akan bersamaku." ucapnya saat mengunci pintu depan dan mengangkatku dengan mudah ke dalam kamar.
   "Kamu gila, Bayu." umpatku saat dia merebahkanku ke ranjang.
   "Akan kubuktikan aku jauh lebih memuaskan dan hebat di ranjang daripada lelakimu itu."
   Entah cara pikir seperti apa yang dia miliki. Dengan mudah dia berhasrat untuk mencumbuku. "Hah! Kamu membawa handphone ya?!" serunya girang saat melepas celana jeansku. "Oke! Kita lihat saja, apakah anak itu akan mencarimu atau tidak? Biarkan dia bingung saat kau tak kunjung mengangkat telponnya. Hahaha..." dan dengan beringas dia mulai melucuti semua pakaianku.
   "Aaarrgghhh......!!!" kembali tubuhku menolak sentuhan. Tubuhku mengejang dan berontak, tapi Bayu makin bergairah terhadap penolakanku. "Hentikan, Bayu!! Hentikaaannn..!!!" air mataku mengalir bersamaan jantungku yang berdebar kian kencang.
   "Terus saja berontak dan aku makin bergairah menyetubuhimu."
   "Aarrrghhh... aaarrrgghh...!!!" aku menjerit seperti orang kesurupan sampai Bayu harus membekap mulutku. Aku takut sekali. Aku ingin dia menghentikan semua sentuhannya.
   Dengan ganas dia melumat dan mengunci bibirku. Lenganku dicengkeramnya kuat-kuat dan kakiku di tindihnya sampai akhirnya hal yang paling ku takutkan terjadi juga. Bayu mendapatkan semuanya.
   "Aaaarrrggghhh...." aku terus menjerit dan terisak. Otakku kacau dan semuanya seolah kusut. Aku bahkan sulit mengingat apa-apa lagi. Badanku gemetaran sampai Bayu harus mendekapku erat.




   Saat terbangun, aku merasakan sebuah dekapan hangat dibelakangku. Mas Candra? Kekasihku...???
   Kubalikkan tubuh dan merangkulnya erat. "Mas!! Aku rindu padamu." kutumpahkan tangisku di dadanya.
   Aku terus terisak sampai kedua lengan itu mendekapku erat. "Jangan meninggalkanku!! Aku membutuhkanmu!!"
   "Ga!" panggil suara itu lembut.
   Kutatap wajahnya. Candraku. Kekasihku. "Jangan pergi, mas! Maafkan aku!"
   Kurasakan sebuah jari mengusap sudut mataku. "Aku takkan pernah meninggalkanmu."
   Sebuah kecupan lembut mendarat dibibirku. Hangat dan sedikit berbeda, tapi aku membiarkannya. Lambat laun ciuman itu makin memaksa dan dekapan itu semakin erat. Kembali dia merabaku dan mencumbu tubuhku. Aku kembali mengejang dan berontak.
   "Jangan!! Jangan menyentuhku..!!!" berontakku menjauh. Tapi tubuhku lemah. Tiap sendiku terasa ngilu. "Mas! Maaf! Aku tak bisa."
   Tapi tetap saja Mas Candra mendesakku. Dia meraih lenganku dan mencengkeramnya kuat. "Aku takkan menyakitimu." ucapnya yang terdengar seperti bisikan.
   "Aku takut, mas." rintihku memelas.
   "Aku sayang padamu, Ga."
   "Aku juga sayang padamu." kembali air mataku menetes. 'Aku rindu padamu.' ku dekap erat bahunya. Tapi lagi-lagi dia mencumbuku, membuat tubuhku kembali mengejang.
   Kembali aku menjerit kesetanan tiap kali tubuhku menolak sentuhannya. "Bayu! Lepaskan aku! Pergiii..!!!" namun cumbuan itu semakin intens dan menuntut sampai kesadaranku kembali kacau.

   Entah sudah berapa hari aku berada di ruangan ini. Melingkar seperti bayi kedinginan. Rasanya enggan untuk beranjak dari sini. Aku bahkan tak ingin melihat cahaya matahari lagi.
   Sesekali kesadaranku muncul manakala Bayu tengah memandikanku di bathtub. Ada rasa nyeri di tiap jengkal tubuhku. Tapi jangankan mengeluh, untuk marahpun rasanya hatiku terasa kebas.
   "Kamu tak ingin makan, Ga?" kugelengkan kepalaku kaku di sandaran bathtub. "Jangan kuatir! Suatu saat nanti kamu akan terbiasa dengan semua ini. Awalnya memang sakit, tapi aku yakin kamu akan terbiasa denganku dan pada saatnya nanti kau pasti bisa menerimaku." sebuah kecupan lembut di berikan Bayu di bibirku.

   Lama-lama ciuman itu kembali menuntut dan tak lama, Bayu menyusulku masuk ke bathtub untuk kembali mencumbuku. Air hangat yang ada tak bisa mencegahku dari menggigil. Kalau memang aku akan terbiasa, kapan hal itu akan terjadi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar