‘Tapi apakah aku takkan menyakitinya kalau
aku menolaknya…??? Bisa jadi dia justru akan sangat kecewa dan merasa ditolak.
Aku tak bisa…!!! Aku tak mau membuatnya sedih. Aku tak mau melihat kekecewaan
dimatanya. Aku ingin membahagiakannya…!!!’
‘Tapi yang kau lakukan ini salah Ga…!!!’
‘Lalu apa yang benar..??? Apa
dengan menolaknya dan meninggalkannya pergi, itu adalah pilihan yang
benar..???’
‘Setidaknya dengan begitu kau tak
mengotorinya.’
‘Apakah itu berarti cintaku kotor padanya..?’
‘Cinta tidak kotor, tapi nafsulah yang
selalu mengotorinya.’
‘Tapi….’
Bantahanku jelas menolak semua norma yang
ada. Aku membiarkan diriku berkubang dosa. Setidaknya aku ingin membuatnya
bahagia. Kalau dengan menyerahkan seluruh diriku padanya adalah hal yang bisa
membahagiakannya, maka aku akan memberikannya.
Kuyakinkan diriku kalau yang kulakukan ini
benar. Ya… aku benar. Lagipula, bisa saja ini adalah yang pertama dan terakhir kali
kami melakukannya.
Temperatur tubuh kami berdua semakin naik.
Bintik-bintik kecil keringat bulai bermunculan di kening,
punggung, tangan dan hampir di sekujur tubuh kami berdua. Ranjang semakin menciptakan
suara berderit yang bisa saja membangunkan Ichal yang tengah terlelap.
Mas Candra bangkit dari ranjang. Dia
menarikku ikut bangun dan kembali merangkulku
erat sambil berdiri di lantai yang beralas karpet tebal.
Satu-persatu kain yang menutup tubuh kami
berdua mulai terlepas. Lagi-lagi aku membiarkannya. Tapi kenapa hati ini masih
saja terasa sakit. Tak bisa kupungkiri, hatiku masih terus menggumamkan kata
kami akan berpisah. Aku harus meninggalkannya. Jadi inilah kebahagiaan puncak
terakhir yang kudapatkan...???
Mas Candra terus melumat bibirku, pipi dan
leherku. Tindihan tubuhnya diatas tubuhku yang terbaring di lantai
tak membuatku mengeluh akan berat badannya. Ataupun saat tubuh
kami menyatu. Rasa sakit di tubuhku masih kalah dengan rasa
sakit di
hatiku.
Gairah dan pilu bercampur menjadi satu, mungkin
itulah ungkapan yang sedikit mendekati apa yang tengah kurasakan saat ini.
Setiap hentakan dan ciumannya seakan menyebabkan nyeri yang tak hanya dialami
oleh kulit dan organ tubuhku, tapi hatiku yang paling telak terkena efek dari
sentuhannya.
“I love you….” kugumamkan
kalimat itu saat dia dengan gagahnya menyatukan diriku dengannya.
Mas Candra tersenyum dan kembali mengecup
bibirku. “I
love you.”
Aku bahagia mas. Apalagi yang kuinginkan
dalam hidupku…??? Aku sudah mendapatkan semuanya. Cinta, kasih sayang,
perhatian, sentuhan dan ini….. akupun sudah mendapatkan apa yang paling
membuatku penasaran dan tak mau berhenti berjalan di jalur
ini.
Kini aku sudah mendapat semuanya. Semuanya
darimu. Lalu… apa lagi yang kubutuhkan…???
Tanpa sadar aku kembali menitihkan air mata.
“Apa aku menyakitimu….???” tanya mas
mengkhawatirkanku.
Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Aku
bahagia mendapatkanmu mas. Aku…” kembali air mataku mengalir dari tepi ujung
bulu mataku.
Mas Candra mengecup mataku yang terpejam. Disesapnya
air mata yang mengalir itu. Aku terperanjat. “Mas….” panggilku tak enak hati.
“Air mata kebahagiaanmu…. Aku juga ingin
merasakannya.” jawabnya sambil tersenyum hangat. Senyum paling manis dan paling
mengagumkan yang pernah
kulihat.
Kembali tanganku yang gemetar
meraih sisi wajahnya. “Aku mencintaimu….” air mataku semakin tak bisa
kubendung. Hatiku kian sakit menatap wajah rupawan yang dihiasi senyum itu.
Kuraih dan kudekap lembut punggung berkeringatnya. Aku tak mau
dia ragu, aku tak mau dia menghentikan apa yang telah kami mulai malam ini.
Rintihan kesakitan dan sesak dihatiku kian
beradu saat mas Candra mencapai puncaknya. Dia mengecup kening, ujung hidung
dan bibirku untuk kemudian meraup tubuhku dalam dekapannya dengan tubuh yang
masih menyatu.
“Aku tak menyesal telah
mencintaimu…”desahnya disela pundak dan leherku. “Aku yakin itu…!!”
Hatiku semakin sakit. Aku mengerang kecil
menahan setiap pukulan nyeri di dadaku. Aku mencintainya
Tuhan….!!! Aku menyalahi kodrat-Mu. Dan aku menyeretnya dalam kubangan kegelapan
hidupku.
Kalau boleh meminta, aku ingin tinggal lebih
lama lagi dengannya, Tuhan…!!! Aku mencintainya…. Aku terlalu mencintainya.
Tapi aku sadar, aku tak boleh meminta lebih dari ini bukan..???
Kudekap punggungnya semakin erat seolah aku
tak ingin melepasnya. Aku ingin mengingat setiap inchi lekuk tubuh indahnya.
Kupatri dalam memori otakku betapa lembut dan halusnya kulit tubuh yang
kusentuh saat ini. Kuusap rambut basahnya dan kurekam dengan baik dalam ingatanku.
Aku ingin mengingat semuanya. Aku ingin menyimpan kenangan paling indah dan
menyakitkan ini dalam hati dan pikiranku selamanya. Aku akan mengabadikan
semuanya. Ini akan menjadi akhir pencarianku. Aku tak menginginkan apa-apa lagi
setelahnya. Ini semua sudah cukup memenuhi seluruh isi ruang di hatiku.
‘Aku mencintaimu… kamulah akhir dari kisah
cintaku mas. Akan kupastikan aku tak menyalahi janjiku.’
Dulu aku berpikir Aditlah cinta sejatiku.
Tapi sekarang, aku justru terbelenggu dengan pesonamu.
Daffa benar. Kamu ada dan
nyata. Kamu baik dan perhatian padaku. Jadi atas dasar apa aku harus menolakmu...???
Kalau dulu aku pernah berjanji akan berhenti
setelah aku menemukanmu, orang yang memenuhi seluruh isi hatiku dengan semua
kasih sayang, cinta dan perhatianmu. Sekarang aku berjanji.
Aku berjanji akan memenuhi sumpahku itu untuk tidak mencari yang lain. Karena
hanya kamu, kamulah satu-satunya yang bisa memberi semua itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar