Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 43

  



   ‘Tapi apakah aku takkan menyakitinya kalau aku menolaknya…??? Bisa jadi dia justru akan sangat kecewa dan merasa ditolak. Aku tak bisa…!!! Aku tak mau membuatnya sedih. Aku tak mau melihat kekecewaan dimatanya. Aku ingin membahagiakannya…!!!’
   ‘Tapi yang kau lakukan ini salah Ga…!!!’
   ‘Lalu apa yang benar..??? Apa dengan menolaknya dan meninggalkannya pergi, itu adalah pilihan yang benar..???’
   ‘Setidaknya dengan begitu kau tak mengotorinya.’
   ‘Apakah itu berarti cintaku kotor padanya..?’
   ‘Cinta tidak kotor, tapi nafsulah yang selalu mengotorinya.’
   ‘Tapi….’
   Bantahanku jelas menolak semua norma yang ada. Aku membiarkan diriku berkubang dosa. Setidaknya aku ingin membuatnya bahagia. Kalau dengan menyerahkan seluruh diriku padanya adalah hal yang bisa membahagiakannya, maka aku akan memberikannya.
   Kuyakinkan diriku kalau yang kulakukan ini benar. Ya… aku benar. Lagipula, bisa saja ini adalah yang pertama dan terakhir kali kami melakukannya.
   Temperatur tubuh kami berdua semakin naik. Bintik-bintik kecil keringat bulai bermunculan di kening, punggung, tangan dan hampir di sekujur tubuh kami berdua. Ranjang semakin menciptakan suara berderit yang bisa saja membangunkan Ichal yang tengah terlelap.
   Mas Candra bangkit dari ranjang. Dia menarikku ikut bangun dan kembali merangkulku erat sambil berdiri di lantai yang beralas karpet tebal.
   Satu-persatu kain yang menutup tubuh kami berdua mulai terlepas. Lagi-lagi aku membiarkannya. Tapi kenapa hati ini masih saja terasa sakit. Tak bisa kupungkiri, hatiku masih terus menggumamkan kata kami akan berpisah. Aku harus meninggalkannya. Jadi inilah kebahagiaan puncak terakhir yang kudapatkan...???
   Mas Candra terus melumat bibirku, pipi dan leherku. Tindihan tubuhnya diatas tubuhku yang terbaring di lantai tak membuatku mengeluh akan berat badannya. Ataupun saat tubuh kami menyatu. Rasa sakit di tubuhku masih kalah dengan rasa sakit di hatiku.
   Gairah dan pilu bercampur menjadi satu, mungkin itulah ungkapan yang sedikit mendekati apa yang tengah kurasakan saat ini. Setiap hentakan dan ciumannya seakan menyebabkan nyeri yang tak hanya dialami oleh kulit dan organ tubuhku, tapi hatiku yang paling telak terkena efek dari sentuhannya.
   “I love you….” kugumamkan kalimat itu saat dia dengan gagahnya menyatukan diriku dengannya.
   Mas Candra tersenyum dan kembali mengecup bibirku. “I love you.
   Aku bahagia mas. Apalagi yang kuinginkan dalam hidupku…??? Aku sudah mendapatkan semuanya. Cinta, kasih sayang, perhatian, sentuhan dan ini….. akupun sudah mendapatkan apa yang paling membuatku penasaran dan tak mau berhenti berjalan di jalur ini.
   Kini aku sudah mendapat semuanya. Semuanya darimu. Lalu… apa lagi yang kubutuhkan…???
   Tanpa sadar aku kembali menitihkan air mata.
   “Apa aku menyakitimu….???” tanya mas mengkhawatirkanku.
   Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Aku bahagia mendapatkanmu mas. Aku…” kembali air mataku mengalir dari tepi ujung bulu mataku.
   Mas Candra mengecup mataku yang terpejam. Disesapnya air mata yang mengalir itu. Aku terperanjat. “Mas….” panggilku tak enak hati.
   “Air mata kebahagiaanmu…. Aku juga ingin merasakannya.” jawabnya sambil tersenyum hangat. Senyum paling manis dan paling mengagumkan yang pernah kulihat.
   Kembali tanganku yang gemetar meraih sisi wajahnya. “Aku mencintaimu….” air mataku semakin tak bisa kubendung. Hatiku kian sakit menatap wajah rupawan yang dihiasi senyum itu. Kuraih dan kudekap lembut punggung berkeringatnya. Aku tak mau dia ragu, aku tak mau dia menghentikan apa yang telah kami mulai malam ini.
   Rintihan kesakitan dan sesak dihatiku kian beradu saat mas Candra mencapai puncaknya. Dia mengecup kening, ujung hidung dan bibirku untuk kemudian meraup tubuhku dalam dekapannya dengan tubuh yang masih menyatu.

   “Aku tak menyesal telah mencintaimu…”desahnya disela pundak dan leherku. “Aku yakin itu…!!”
   Hatiku semakin sakit. Aku mengerang kecil menahan setiap pukulan nyeri di dadaku. Aku mencintainya Tuhan….!!! Aku menyalahi kodrat-Mu. Dan aku menyeretnya dalam kubangan kegelapan hidupku.
   Kalau boleh meminta, aku ingin tinggal lebih lama lagi dengannya, Tuhan…!!! Aku mencintainya…. Aku terlalu mencintainya. Tapi aku sadar, aku tak boleh meminta lebih dari ini bukan..???
   Kudekap punggungnya semakin erat seolah aku tak ingin melepasnya. Aku ingin mengingat setiap inchi lekuk tubuh indahnya. Kupatri dalam memori otakku betapa lembut dan halusnya kulit tubuh yang kusentuh saat ini. Kuusap rambut basahnya dan kurekam dengan baik dalam ingatanku. Aku ingin mengingat semuanya. Aku ingin menyimpan kenangan paling indah dan menyakitkan ini dalam hati dan pikiranku selamanya. Aku akan mengabadikan semuanya. Ini akan menjadi akhir pencarianku. Aku tak menginginkan apa-apa lagi setelahnya. Ini semua sudah cukup memenuhi seluruh isi ruang di hatiku.
   ‘Aku mencintaimu… kamulah akhir dari kisah cintaku mas. Akan kupastikan aku tak menyalahi janjiku.’
   Dulu aku berpikir Aditlah cinta sejatiku. Tapi sekarang, aku justru terbelenggu dengan pesonamu.
   Daffa benar. Kamu ada dan nyata. Kamu baik dan perhatian padaku. Jadi atas dasar apa aku harus menolakmu...???

   Kalau dulu aku pernah berjanji akan berhenti setelah aku menemukanmu, orang yang memenuhi seluruh isi hatiku dengan semua kasih sayang, cinta dan perhatianmu. Sekarang aku berjanji. Aku berjanji akan memenuhi sumpahku itu untuk tidak mencari yang lain. Karena hanya kamu, kamulah satu-satunya yang bisa memberi semua itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar