Jumat, 06 Februari 2015

Tuhan, Rasa Ini Menyiksaku

    

   Sebuah one shoot yang tiba-tiba ingin kutuliskan. Tokoh dan setting kubuat sama dengan cerbung BOY. Tapi perlu diingat. Ini hanya pinjam tokoh dan setting saja. Gak ada hubungannya dengan ending BOY nantinya.
   ****




   ‘Aku benar!! Yang kulakukan ini adalah hal yang benar’ bathinku maksa.
   Jujur, aku dilemma. Satu sisi aku rindu setengah mati dengan mereka. Sisi lain, aku tak ingin mengusik hidup mereka.
   ‘Tapi aku rinduuuuu….!!!!’
   Ucapan itu seakan berteriak kencang ditelingaku.
   ‘Kamu gak boleh kesana Ga!! Itu hanya akan membuatmu terus berada dilubang derita.’
   ‘Jangan pergi Ga!!! Kamu gak boleh mengikuti keinginan sesaatmu!!’
   Sepertinya kinerja otak dan ototku sedang tak terhubung dengan baik. Otakku melarang, kakiku melangkah. Walaupun dia terus berteriak jangan, kakiku tetap saja melangkah mantap kearah stasiun kota.
   ‘Kamu akan menyesal nanti Ga..!! camkan itu..!!’ hujat hatiku kesal dengan keputusanku yang memilih duduk manis diatas kereta.



   ‘Kamu benar Ga!! Yang kamu lakukan ini sudah tepat..!!!’ bathinku memberi support.
   Ternyata Surabaya makin panas saja. Jam 4 sore, suhunya masih saja bikin gerah. Apakah ini memang gerah karena udara yang panas atau gerah karena aku terlalu gugup dengan semakin dekatnya aku kerumah mas Candra?



   Langkah demi langkah semakin mendekati kediaman mereka. Aku rindu Ichal, aku rindu gelak tawa dan rengek manjanya. Aku juga rindu mas Candra, aku rindu dengan kebaikan hati dan pelukan hangatnya.
   ‘Kamu akan menyesal Ga..!!! Mungkin mereka akan membencimu dan tak ingin mengenalmu lagi.’
   ‘Aku sudah siap dengan resiko itu. Aku hanya ingin melihat wajah mereka.’
   ‘Dan kalau mereka tak mau bertemu denganmu?’
   ‘Tak ada salahnya dicoba.’
   ‘Kalau mereka menahanmu bagaimana? Mereka selalu berhasil membuatmu bertahan disana kan?’
   Langkahku mulai goyah. ‘Apakah keputusanku ini benar?’
   Aku berhenti sejenak dan berpikir ulang. Bagaimana kalau aku benar-benar mendapat penolakan? Bagaimana kalau nanti Ichal nangis dan ingin ikut bersamaku? Bagaimana kalau nanti mas Candra mengiba didepanku dan memintaku tinggal?
   Pikiran-pikiran negative semakin gencar menyerangku. Aku lemah. Langkahku mulai mundur kebelakang. Ingin rasanya berbalik dan pulang.
   ‘Pulang sana Ga…!! Dan kamu hanya akan semakin menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada didepan mata.’
   Benar. Aku tak boleh menyerah. Aku sudah sampai disini. Akan sangat sia-sia jika aku kembali dan tak melihat mereka barang sebentar saja.
   Kutekadkan diri melangkah semakin dekat.
  

   Tapi……
   Lagi-lagi langkahku terhenti.
   Didepan halaman rumah mas Candra, terparkir dua mobil yang sudah sangat kukenal merupakan mobil milik mbak Asty dan pak Surya.
   Sial benar nasibku. Jauh-jauh kesini, malah tak bisa apa-apa. Harusnya aku sadar. Ini kan hari minggu. Mereka pasti kesini untuk berkumpul atau keluar bersama.
   Akhirnya, aku hanya bisa terduduk lesu diteras samping depan rumah yang berseberangan dengan rumah mas Candra. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah aku harus menunggu? Atau aku pulang saja?
   Atau…..
   Kurasa itu bukan pertimbangan. Tapi bunuh diri. Aku tak mungkin nekat masuk kesana dengan adanya keluarga mas Candra disana.
   Tuhan…..!!! Rasa ini menyiksaku...!!!
   Aku jadi teringat kenangan-kenanganku bersama mereka dirumah itu. Keceriaan Ichal, bik Atik yang baik hati, dan mas Candra yang penuh pengertian. Aku tersenyum, tapi air mataku tak punya malu untuk keluar seenaknya.
   “Chal……!!! Mas……!!! Aku rindu kalian berdua.” desahku lirih dan menghapus air mataku.
  
   Langit mulai bergerak menuju gelap. Tapi ragaku tak juga kunjung bergerak dan pergi dari tempatku terduduk. Aku ingin menunggu mereka pergi, mungkin mas Candra akan keluar mengantar mereka. Bukankah itu yang selalu dilakukannya setiap kali keluarganya berkunjung kerumahnya.

   Bagus….!!!
   Langit seakan ingin mengusirku dari sini. Langit gelap datang, petirpun ikut berdendang.
   Tak bisakah kalian bersabar untukku??? Jangan menangis disini.!!! Hatiku sudah sesak dengan tangisku sendiri. Jangan kau tambah lagi dengan pengusiran secara terang-teranganmu itu.
   Aku jadi mengutuk langit yang tak mau mengasihaniku.

   ‘Mereka keluar…’
   Aku langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Kedua mobil itu keluar secara perlahan dan teratur.
   Sesuai dugaanku. Mas Candra mengantar mereka.

   Tuhan……!!!
   Jantungku berdesir. Ini kali pertama setelah lebih dari 1 tahun aku tak melihat wajah itu secara langsung. Dia masih tetap tampan seperti dulu. Hanya tubuhnya sedikit susut.
   Senyumnya…….
   Tuhan….!!! Betapa aku merindukan senyuman itu.
   Airmataku kembali mengalir. Aku mencintaimu mas. Aku rindu sekali padamu.
   Tanganku melayang mengudara seolah meraih sisi wajahnya. Ingin sekali aku menyentuh pipi itu. Ingin sekali aku mengusap sisi wajah itu. Aku ingin sekali merangkul dan merasakan hangat dada itu.
   Aku tak sanggup seperti ini. Air mataku semakin deras membasahi pipi.

   'JANGAN……!!!!'
   Ingin rasanya aku berteriak supaya dia mengurungkan niatnya yang hendak menghilang dari pandanganku.
   ‘Telpon dia Ga…!!!’ bentak hatiku tergesa.
   Tanpa pikir panjang, aku segera merogoh saku dan kupencet dial ke nomer yang sudah beribu-ribu kali kupandangi dari hapeku.
   “Tuuuuuttt…….”
   “Tuuuuuuuttttt……”
   Mas Candra mengurungkan niatnya untuk melangkah masuk. Angkat mas….!!! Please…!!!
   “Tuuuuttttt…..”
   Alhamdulillah, mas Candra mengantongi handphonenya disaku celananya.
   “Hallo,”
   lagi-lagi jantungku kembali berdesir. Suara itu. Betapa aku sangat merindukannya. Ternyata nomernya masih sama.
   “Hallo,” sapa mas Candra lagi. Karena aku tak kunjung menjawabnya, dia menutup sambungan.
   Ayolah Ga….!!! Apa hanya segitu saja keberanianmu???
   Kuulang lagi menghubunginya.
   “Hallo….” kini nada suaranya sedikit naik.
   “Iya hallo,” sahutku sedikit parau.
   “Ini siapa?” tanyanya langsung.
   “Apa kabar mas?” dari situ tak ada suara apapun yang bisa kudengar. “Mas…..???”
   “Yoga…..” desahnya haru.
   “Iya mas.”
   “Dimana kamu Ga…??? Bagaimana keadaanmu..??? Sedang apa kamu sekarang??? Apa kamu baik-baik saja??? Kamu dimana..???” mas Candra menggempurku dengan berbagai pertanyaannya.
   “Aku baik mas. Kalian juga baik kan?!”
   “Ga…. Kami merindukanmu. Dimana kamu sekarang?” tanyanya sendu.
   “Aku juga merindukan kalian mas. Sangat.”
   “Kamu dimana Ga???” tanyanya lagi.
   “Aku….. aku tak bisa menjawabnya mas.” jawabku getir.
   ‘Aku disini….!!!! Aku didekatmu mas….’ ingin rasanya aku meneriakkan kata itu.
   “Ichal…. Sehat kan…. Mas….???” tanyaku tersendat.
   “Ga….. “ panggilnya sendu. “Kamu…. Menangis…??”
   “Aku hanya kangen sama kalian.”
   “Kamu dimana ga…??? Katakan..!!! Kami akan menyusulmu.”
   “Enggak mas. Gak usah..!!! Aku lebih baik begini.”
   Suara gemuruh langit membuat mas Candra kembali melangkah masuk.
   “Jangan pergi mas…!!!” pintaku langsung. Detik berikutnya, aku mengutuk kebodohanku.
   “Jangan pergi…???” tanya mas Candra bingung.
   “Mmmm… mm-mmaksudku… jangan…” bodoh kamu Yoga. “Enggak mas. Aku Cuma lagi nonton TV aja. Hehe…”
   Lagi-lagi suara petir membuatku resah. Please….!!! Jangan masuk dulu mas.!!! Aku juga ingin melihat Ichal.
   Kulihat mas Candra diam ditempat. Dia diam dalam artian diam sediam-diamnya. Tak bergerak sedikitpun.
   “Ga….???”
   “Iya mas…??”  aku sedikit terlonjak saat mendengar suara petir disusul suara geledek yang menggelegar keras.
   Aku tak tau ada apa? Mas Candra terlihat gusar sambil melihat keberbagai arah.
   “Ga… kamu dimana..???” tanyanya setengah berteriak.
   “Aku….”
   “Kamu disini kan…?!! Kamu dimana Ga…?!!”
   “Kenapa… mas… berkata begitu..???” tanyaku mulai panic.
   “Aku dengar suara petir barusan. Kamu dimana Ga..?!! Keluar Ga…!!!”
    Bodoh-bodoh-bodoh…..!!! selalu saja melakukan kesalahan.
   “Please Ga…!!! Aku ingin melihatmu.” pinta mas Candra mengiba.
   Aku rapuh. Ingin sekali aku menghambur dan memeluknya. Aku disini mas. Didepanmu. Air mataku sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang keluar. Aku ingin menangis dan menjerit sekerasnya. Aku rindu dia Tuhan. Aku sangat merindukannya. Apa yang harus kulakukan.???
   Hujan tak mau menahan lagi. Mereka turun dengan derasnya. Tak butuh waktu lama, mas Candra sudah basah kuyup dibuatnya. Sedangkan aku? Aku terselamatkan oleh atap rumah tempatku sembunyi.
   “Ga…..!!!” serunya lagi.
   “Masuk mas…!!!” pintaku sesenggukan.
   “Kamu beneran disini kan..???”
   “Masuk mas…!!! Nanti kamu sakit.”
   “Enggak…!!!” tolaknya tegas. “Aku gak akan masuk kalau kamu gak mau keluar.”
   “Aku gak bisa mas…..” Tuhan…!!! Aku ingin sekali menjerit saat ini. “Ayolah mas….!!! Nanti kamu bisa sakit. Kasihan Ichal kalau mas sakit nanti.”
   Mas Candra terdiam. Kupikir dia mengikuti permintaanku.
   Detik berikutnya, aku semakin mengutuki kebodohanku. Mas Candra berteriak memanggil Ichal. Dia berteriak menyuruh Ichal menghampirinya yang artinya mereka berdua akan hujan-hujanan.
   Kulihat mereka berbicara. Detik berikutnya Ichal menerima telponku sambil menangis.
   “Kakak….. ini Ichal kak…”
   “Chal…..” panggilku dengan suara semakin tercekat.
   Hujan sialan…!!! Dia mengganggu penglihatanku sehingga aku tak bisa melihat wajah Ichal dengan jelas.
   “Kak….” dan suara telponpun terputus.
   Aaarrrggghhhhhhhhh………. Tuhannnnnnn……!!!!! Aku tak sanggup. Dadaku rasanya sesak sekali.
   “Ga……” teriak mas Candra memanggilku. Handphonenya ditepuk-tepuk dan dilempar begitu saja kejalan.
   “Kak….” panggil Ichal tak kalah kencangnya.
   Aku hancur. Mereka berteriak-teriak sambil berjalan kesana kemari mencariku.
   Kalian salah arah. Jangan mencariku kesana..!!! aku disini…!!!

   Mas Candra terus berjalan mencariku. Ichal berbalik arah menuju tempatku. Kalau tadi aku berharap mereka berputar arah, sekarang aku malah takut Ichal menemukanku.
   Semakin dekat…. Dan semakin dekat.
   Aku bisa melihat wajah Ichal yang basah kuyup mencariku sambil sesekali memanggil namaku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Mulutku berucap tapi tak ada suara disana. Aku ingin meraihnya tapi aku takut melakukannya.
   Ichal terus melihat sekeliling, sampai akhirnya pandangannya terhenti padaku.
   Dadaku sakit. Airmataku terus mengalir. Ichal berdiri diam menatapku. Tubuh basah dan bibirnya yang bergetar masih saja terbuka ingin memanggilku.
   “Ka-kak…..” ucap Ichal terbata.
   Aku tak bisa. Aku tak bisa terus berdiri diam ditempatku. Kulangkahkan kakiku kearahnya perlahan. Dalam jarak yang semakin dekat, Ichal tetap diam menatapku.
   “Ichal….” panggilku parau. Aku berlutut agar bisa sejajar dengannya. Kurentangkan tanganku memintanya datang kepelukanku.
   “Kakak…..” panggil Ichal lirih dan menghambur dalam dekapanku. Dia menangis hebat dileherku. “Kakak…” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
   “Maafkan kakak Chal..!! Kakak sudah jahat sama kamu.”
   “Kak…..”
   “Kakak kangen sama kamu Chal. Kangen banget….” seruku dibarengi isak tangis kami berdua.
   “Ga…” seru sebuah suara yang membuatku membeku. Dia merengkuh bahuku. Apakah aku sudah siap dengan semua ini????
   “Masuk Ga…!!! Ayo….!!!” menyadari keadaan Ichal yang juga hujan-hujanan, akupun menuruti ucapan mas Candra untuk masuk kedalam rumah.

   “Bik……!!!” seru mas Candra memanggil bik Atik.
    Tak butuh waktu lama, bik Atik langsung muncul dengan tergopoh.
   “Iya De-nnnn…..” sahutnya terputus begitu melihat kami bertiga basah kuyup dan pandangan beliau berhenti padaku. “Yoga…..???? Ya Allah, Yoga…!!! Dari mana saja kamu nak…???” seru bik Atik dan langsung merangkulku. “Ya Allah, Ga…!! Bibik kangen banget sama kamu…” bik Atikpun ikutan menangis saat memelukku.
   “Bik… Yoga basah kuyup.” seruku sungkan.
   “Tolong ambilkan handuk buat kami bertiga bik.!!” Seru mas Candra yang segera diiyakan oleh bik Atik.


   Malam ini, kami bertiga kembali tidur bersama dikamar Ichal. Ichal tidur ditengah. Dia seakan tak mau melepasku barang semenitpun. Mandi, minta aku yang mandiin. Ganti baju minta aku yang bantu-padahal sekarang dia sudah semakin besar- dan makanpun minta disuapin. Seperti saat ini, dia tak mau melepas rangkulannya saat kami mengobrol diranjangnya sambil tiduran.
   “Kakak jangan pergi lagi ya….!!!” pinta Ichal entah sudah yang keberapa kali.
   “Kakak gak bisa janji Chal. Tapi mungkin kakak akan mengunjungi kalian lagi nanti.” jawabku jujur.
   “Kakak tega banget sama Ichal.!!” lagi-lagi dia mewek dipelukanku.
   “Maaf Chal….!!! Tapi kakak beneran gak bisa.”
   “Ichal masih kangen kaaaaakkkkk…..!!!” dan menangislah dia.
   “Sssshhhh… Chal…!! Anak cowok gak boleh cengeng.” ucapku sambil mengusap rambutnya.
   “Biarin…!!!” bantahnya. “Ichal akan terus nangis kalau kakak pergi lagi.”
   “Chal….!!!” panggilku lirih mendongakkan wajahnya. “Kakak harus kerja.” bohongku. “Bagaimana kakak bisa kerja kalau kakak tinggal disini??”
   “Ayah juga kerja. Kakak disini aja!! Biar ayah yang cari uang, kakak temenin Ichal dirumah.” jawabnya polos.
   Aku tersnyum geli dibuatnya. Mas Candra juga diam saja daritadi memperhatikan kami berdua. “Kamu ada-ada aja Chal.” ucapku geli. “Udah malam. Ayo tidur…!!!”
   “Gak mau..!!! Nanti kakak pergi lagi.” bantahnya lagi.
   “Enggak Chal. Kakak janji akan nginep malam ini.”
   “Janji…!!!” seru ichal menjulurkan kelingkingnya.
   “Janji.” jawabku menautkan kedua jari kelingking kami. “Ayo tidur!!”
  



   “Dia sudah tidur?!” tanya mas Candra pelan. Aku mengangguk mengiyakan.
   “Kemana mas?” tanyaku heran saat mas candra bangkit dari tidurnya. Pertanyaan bodoh. Mungkin dia mau kekamar mandi atau kemana, itu kan bukan urusanku.
   Dia tak menjawabnya. Namun detik berikutnya, aku baru sadar waktu mas Candra mengitari ranjang menuju sampingku. “Sekarang waktuku.” seru mas Candra menaikkan lutut kirinya.
   “Sempit mas…” sanggahku bingung mau berbuat apa.
   “Sebentar..” mas Candra menyuruhku geser sedikit supaya dia bisa mudah mengangkat Ichal dan menidurkannya ditempat mas Candra tadinya.
   “Nanti kalau terbangun, dia bisa marah lho,” ucapku tersenyum geli.
   “Enggak kalau kamu tidur ditengah.” jawabnya enteng.
   Posisi yang konyol. Kenapa jadi aku yang berada ditengah sekarang?
   Tanpa ijin atau basa-basi, mas Candra langsung main rangkul saja padaku. Tapi tak kupungkiri, aku memang merindukannya. Bukankah ini yang kuinginkan? Bertemu mereka dan kembali merasakan rangkulan hangatnya.
   “Kenapa kamu pergi Ga..??” tanya mas Candra lirih ditelingaku.
   “Gak papa mas. Menurutku itu yang terbaik untuk kita semua.”
   “Kamu gak tau bagaimana sedihnya Ichal saat kamu tinggalkan. Aku juga….” suaranya semakin lirih.
   “Maaf mas..!!!” ucapku sangat menyesal.
   “Kamu sungguh gak mau memberitahukan dimana kamu tinggal sekarang?”
   “Untuk apa mas?”
   “Aku janji takkan mengganggumu. Tapi kumohon Ga!! Beritahu dimana alamatmu!! Ichal sering sakit-sakitan sejak saat itu. Aku tak mau dia menderita lagi nantinya.”
   “Tapi…”
   “Demi aku Ga. Kalau kamu masih mencintaiku.” ucapan mas Candra kembali membuatku pilu. Air matakupun kembali mengalir.   
   “Aku gak mau merusak hidupmu mas…”
   “Hidup yang mana Ga??? Hidup kami sudah hancur sejak kepergianmu. Apa kamu gak pernah sekalipun merindukan kami.?”
   Aku berbalik arah menghadapnya. “Justru kedatanganku karena aku tak sanggup menahan rinduku mas.”
   Sesaat mas Candra terdiam melihatku yang berlinang air mata. Disentuhnya pipiku dan diusapnya lembut air mataku.
   “Lalu kenapa kamu pergi?”
   “Jangan bicarakan yang lalu mas.!! Aku kesini hanya ingin melihat kalian. Melihat…mu.”
   Kembali mas Candra merengkuh pipiku. Satu kecupan yang sangat kurindukan mendarat dikeningku.
   “Maaf atas keegoisanku mas..!! Tapi aku tak mampu membohongi diriku. Aku merindukanmu,” desahku pelan dan melingkarkan lenganku dipinggangnya.
   “Aku juga rindu padamu, Ga. Sangat…” sahutnya dan membalas rangkulanku.
   Apakah yang kulakukan ini benar? Aku tak tau apa saja yang telah terjadi selama kepergianku. Aku tak tahu, apakah mas Candra sudah ada calon untuk ibunya Ichal atau belum? Apakah besok aku bisa pergi dari sini? Dan apa konsekuensi yang akan kutanggung dari semua ini? Aku tak tahu..???
   Yang kutau hanya aku sudah ada disini. Bertemu Ichal, bertemu mas Candra dan aku sekarang sedang ada dalam dekapan hangatnya. Dekapan yang selalu kurindukan dalam setiap malamku yang sendirian. Aku mencintaimu mas. Aku cinta kalian berdua.



   THE END


     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar