Sebuah one shoot yang tiba-tiba ingin
kutuliskan. Tokoh dan setting kubuat sama dengan cerbung BOY. Tapi perlu
diingat. Ini hanya pinjam tokoh dan setting saja. Gak ada hubungannya dengan
ending BOY nantinya.
****
‘Aku benar!! Yang kulakukan ini adalah hal
yang benar’ bathinku maksa.
Jujur, aku dilemma. Satu sisi aku rindu
setengah mati dengan mereka. Sisi lain, aku tak ingin mengusik hidup mereka.
‘Tapi aku rinduuuuu….!!!!’
Ucapan itu seakan berteriak kencang
ditelingaku.
‘Kamu gak boleh kesana Ga!! Itu hanya akan
membuatmu terus berada dilubang derita.’
‘Jangan pergi Ga!!! Kamu gak boleh mengikuti
keinginan sesaatmu!!’
Sepertinya kinerja otak dan ototku sedang
tak terhubung dengan baik. Otakku melarang, kakiku melangkah. Walaupun dia
terus berteriak jangan, kakiku tetap saja melangkah mantap kearah stasiun kota.
‘Kamu akan menyesal nanti Ga..!! camkan
itu..!!’ hujat hatiku kesal dengan keputusanku yang memilih duduk manis diatas
kereta.
‘Kamu benar Ga!! Yang kamu lakukan ini sudah
tepat..!!!’ bathinku memberi support.
Ternyata Surabaya makin panas saja. Jam 4
sore, suhunya masih saja bikin gerah. Apakah ini memang gerah karena udara yang
panas atau gerah karena aku terlalu gugup dengan semakin dekatnya aku kerumah
mas Candra?
Langkah demi langkah semakin mendekati
kediaman mereka. Aku rindu Ichal, aku rindu gelak tawa dan
rengek manjanya. Aku juga rindu mas Candra, aku rindu dengan kebaikan hati dan
pelukan hangatnya.
‘Kamu akan menyesal Ga..!!! Mungkin
mereka akan membencimu dan tak ingin mengenalmu lagi.’
‘Aku sudah siap dengan resiko itu. Aku hanya
ingin melihat wajah mereka.’
‘Dan kalau mereka tak mau bertemu denganmu?’
‘Tak ada salahnya dicoba.’
‘Kalau mereka menahanmu bagaimana? Mereka
selalu berhasil membuatmu bertahan disana kan?’
Langkahku mulai goyah. ‘Apakah keputusanku
ini benar?’
Aku berhenti sejenak dan berpikir ulang.
Bagaimana kalau aku benar-benar mendapat penolakan? Bagaimana kalau nanti Ichal
nangis dan ingin ikut bersamaku? Bagaimana kalau nanti mas Candra mengiba
didepanku dan memintaku tinggal?
Pikiran-pikiran negative semakin gencar
menyerangku. Aku lemah. Langkahku mulai mundur kebelakang. Ingin rasanya berbalik
dan pulang.
‘Pulang sana Ga…!! Dan kamu hanya akan
semakin menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada didepan mata.’
Benar. Aku tak boleh menyerah. Aku sudah
sampai disini. Akan sangat sia-sia jika aku kembali dan tak melihat mereka
barang sebentar saja.
Kutekadkan diri melangkah semakin dekat.
Tapi……
Lagi-lagi langkahku terhenti.
Didepan halaman rumah mas Candra, terparkir
dua mobil yang sudah sangat kukenal merupakan mobil milik mbak Asty dan pak
Surya.
Sial benar nasibku. Jauh-jauh kesini, malah
tak bisa apa-apa. Harusnya aku sadar. Ini kan hari minggu. Mereka pasti kesini
untuk berkumpul atau keluar bersama.
Akhirnya, aku hanya bisa terduduk lesu
diteras samping depan rumah yang berseberangan dengan rumah mas Candra.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah aku harus menunggu?
Atau aku pulang saja?
Atau…..
Kurasa itu bukan pertimbangan. Tapi bunuh
diri. Aku tak mungkin nekat masuk kesana dengan adanya keluarga mas Candra
disana.
Tuhan…..!!!
Rasa ini menyiksaku...!!!
Aku jadi teringat kenangan-kenanganku
bersama mereka dirumah itu. Keceriaan Ichal, bik Atik yang baik hati, dan mas
Candra yang penuh pengertian. Aku tersenyum, tapi
air mataku tak punya malu untuk keluar seenaknya.
“Chal……!!! Mas……!!! Aku rindu kalian
berdua.” desahku
lirih dan menghapus air mataku.
Langit mulai bergerak menuju gelap. Tapi
ragaku tak juga kunjung bergerak dan pergi dari tempatku terduduk. Aku ingin
menunggu mereka pergi, mungkin mas Candra akan keluar mengantar mereka.
Bukankah itu yang selalu dilakukannya setiap kali keluarganya berkunjung
kerumahnya.
Bagus….!!!
Langit seakan ingin mengusirku dari sini.
Langit gelap datang, petirpun ikut berdendang.
Tak bisakah kalian bersabar untukku???
Jangan menangis disini.!!! Hatiku sudah sesak dengan tangisku sendiri. Jangan
kau tambah lagi dengan pengusiran secara terang-teranganmu itu.
Aku jadi mengutuk langit yang tak mau
mengasihaniku.
‘Mereka keluar…’
Aku langsung mencari tempat untuk
bersembunyi. Kedua mobil itu keluar secara perlahan dan teratur.
Sesuai dugaanku. Mas Candra mengantar
mereka.
Tuhan……!!!
Jantungku berdesir. Ini kali pertama setelah
lebih dari 1 tahun aku tak melihat wajah itu secara langsung. Dia masih tetap
tampan seperti dulu. Hanya tubuhnya sedikit susut.
Senyumnya…….
Tuhan….!!! Betapa aku merindukan senyuman
itu.
Airmataku kembali mengalir. Aku mencintaimu
mas. Aku rindu sekali padamu.
Tanganku melayang mengudara seolah meraih
sisi wajahnya. Ingin sekali aku menyentuh pipi itu. Ingin sekali aku mengusap
sisi wajah itu. Aku ingin sekali merangkul dan merasakan hangat dada itu.
Aku tak sanggup seperti ini. Air mataku
semakin deras membasahi pipi.
'JANGAN……!!!!'
Ingin rasanya aku berteriak supaya dia mengurungkan
niatnya yang hendak menghilang dari pandanganku.
‘Telpon dia Ga…!!!’ bentak hatiku tergesa.
Tanpa pikir panjang, aku segera merogoh saku
dan kupencet dial ke nomer yang sudah beribu-ribu kali kupandangi dari hapeku.
“Tuuuuuttt…….”
“Tuuuuuuuttttt……”
Mas Candra mengurungkan niatnya untuk
melangkah masuk. Angkat mas….!!! Please…!!!
“Tuuuuttttt…..”
Alhamdulillah, mas Candra mengantongi
handphonenya disaku celananya.
“Hallo,”
lagi-lagi jantungku kembali berdesir. Suara
itu. Betapa aku sangat merindukannya. Ternyata nomernya masih sama.
“Hallo,” sapa mas Candra lagi. Karena aku
tak kunjung menjawabnya, dia menutup sambungan.
Ayolah Ga….!!! Apa hanya segitu saja
keberanianmu???
Kuulang lagi menghubunginya.
“Hallo….” kini
nada suaranya sedikit naik.
“Iya hallo,” sahutku sedikit parau.
“Ini siapa?” tanyanya langsung.
“Apa kabar mas?” dari situ tak ada suara
apapun yang bisa kudengar. “Mas…..???”
“Yoga…..” desahnya haru.
“Iya mas.”
“Dimana kamu Ga…??? Bagaimana keadaanmu..???
Sedang
apa kamu sekarang??? Apa kamu baik-baik saja??? Kamu dimana..???”
mas Candra menggempurku dengan berbagai pertanyaannya.
“Aku baik mas. Kalian juga baik kan?!”
“Ga…. Kami merindukanmu. Dimana kamu
sekarang?” tanyanya sendu.
“Aku juga merindukan kalian mas. Sangat.”
“Kamu dimana Ga???” tanyanya lagi.
“Aku….. aku tak bisa menjawabnya mas.” jawabku
getir.
‘Aku disini….!!!! Aku didekatmu mas….’ ingin
rasanya aku meneriakkan kata itu.
“Ichal…. Sehat kan…. Mas….???” tanyaku
tersendat.
“Ga….. “ panggilnya sendu. “Kamu….
Menangis…??”
“Aku hanya kangen sama
kalian.”
“Kamu dimana ga…??? Katakan..!!! Kami
akan menyusulmu.”
“Enggak mas. Gak usah..!!! Aku lebih baik
begini.”
Suara gemuruh langit membuat mas Candra
kembali melangkah masuk.
“Jangan pergi mas…!!!” pintaku langsung.
Detik berikutnya, aku mengutuk kebodohanku.
“Jangan pergi…???” tanya mas Candra bingung.
“Mmmm… mm-mmaksudku… jangan…” bodoh kamu
Yoga. “Enggak mas. Aku Cuma lagi nonton TV aja. Hehe…”
Lagi-lagi suara petir membuatku resah.
Please….!!! Jangan masuk dulu mas.!!! Aku juga ingin melihat Ichal.
Kulihat mas Candra diam ditempat. Dia diam
dalam artian diam sediam-diamnya. Tak bergerak sedikitpun.
“Ga….???”
“Iya mas…??”
aku sedikit terlonjak saat mendengar suara petir disusul suara geledek
yang menggelegar keras.
Aku
tak tau ada apa? Mas Candra terlihat gusar sambil melihat keberbagai arah.
“Ga… kamu dimana..???” tanyanya setengah
berteriak.
“Aku….”
“Kamu disini kan…?!! Kamu dimana Ga…?!!”
“Kenapa… mas… berkata begitu..???” tanyaku
mulai panic.
“Aku dengar suara petir barusan. Kamu dimana
Ga..?!! Keluar
Ga…!!!”
Bodoh-bodoh-bodoh…..!!! selalu saja
melakukan kesalahan.
“Please Ga…!!! Aku ingin melihatmu.” pinta
mas Candra mengiba.
Aku rapuh. Ingin sekali aku menghambur dan
memeluknya. Aku disini mas. Didepanmu. Air mataku sudah tak terhitung lagi
berapa banyak yang keluar. Aku ingin menangis dan menjerit sekerasnya. Aku
rindu dia Tuhan. Aku sangat merindukannya. Apa yang harus kulakukan.???
Hujan tak mau menahan lagi. Mereka turun
dengan derasnya. Tak butuh waktu lama, mas Candra
sudah basah kuyup dibuatnya. Sedangkan aku? Aku terselamatkan oleh atap rumah
tempatku sembunyi.
“Ga…..!!!” serunya lagi.
“Masuk mas…!!!” pintaku sesenggukan.
“Kamu beneran disini kan..???”
“Masuk mas…!!! Nanti kamu sakit.”
“Enggak…!!!” tolaknya tegas. “Aku gak akan
masuk kalau kamu gak mau keluar.”
“Aku gak bisa mas…..” Tuhan…!!! Aku ingin
sekali menjerit saat ini. “Ayolah mas….!!! Nanti
kamu bisa sakit. Kasihan Ichal kalau mas sakit nanti.”
Mas Candra terdiam. Kupikir dia mengikuti
permintaanku.
Detik berikutnya, aku semakin mengutuki
kebodohanku. Mas Candra berteriak memanggil Ichal. Dia berteriak menyuruh Ichal
menghampirinya yang artinya mereka berdua akan hujan-hujanan.
Kulihat mereka berbicara. Detik berikutnya Ichal
menerima telponku sambil menangis.
“Kakak….. ini Ichal kak…”
“Chal…..” panggilku dengan suara semakin
tercekat.
Hujan sialan…!!! Dia mengganggu
penglihatanku sehingga aku tak bisa melihat wajah Ichal dengan jelas.
“Kak….” dan
suara telponpun terputus.
Aaarrrggghhhhhhhhh………. Tuhannnnnnn……!!!!!
Aku tak sanggup. Dadaku rasanya sesak sekali.
“Ga……” teriak mas Candra memanggilku.
Handphonenya ditepuk-tepuk dan dilempar begitu saja kejalan.
“Kak….” panggil
Ichal tak kalah kencangnya.
Aku hancur. Mereka berteriak-teriak sambil
berjalan kesana kemari mencariku.
Kalian salah arah. Jangan mencariku
kesana..!!! aku disini…!!!
Mas Candra terus berjalan mencariku. Ichal
berbalik arah menuju tempatku. Kalau tadi aku berharap mereka berputar arah, sekarang
aku malah takut Ichal
menemukanku.
Semakin dekat…. Dan semakin dekat.
Aku bisa melihat wajah Ichal yang basah
kuyup mencariku sambil sesekali memanggil namaku. Aku tak bisa berkata apa-apa.
Mulutku berucap tapi tak ada suara disana. Aku ingin meraihnya tapi aku takut
melakukannya.
Ichal terus melihat sekeliling, sampai
akhirnya pandangannya terhenti padaku.
Dadaku sakit. Airmataku terus mengalir.
Ichal berdiri diam menatapku. Tubuh basah dan bibirnya yang bergetar masih saja
terbuka ingin memanggilku.
“Ka-kak…..” ucap Ichal terbata.
Aku tak bisa. Aku tak bisa terus berdiri
diam ditempatku. Kulangkahkan kakiku kearahnya perlahan. Dalam jarak yang
semakin dekat, Ichal
tetap diam menatapku.
“Ichal….” panggilku
parau.
Aku berlutut agar bisa sejajar dengannya. Kurentangkan tanganku memintanya
datang kepelukanku.
“Kakak…..” panggil Ichal
lirih dan menghambur dalam dekapanku. Dia menangis hebat dileherku. “Kakak…”
hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Maafkan kakak Chal..!!
Kakak
sudah jahat sama kamu.”
“Kak…..”
“Kakak kangen sama kamu Chal. Kangen
banget….” seruku
dibarengi isak tangis kami berdua.
“Ga…” seru sebuah suara yang membuatku
membeku. Dia merengkuh bahuku. Apakah aku sudah siap dengan semua ini????
“Masuk Ga…!!! Ayo….!!!” menyadari
keadaan Ichal
yang juga hujan-hujanan, akupun menuruti ucapan mas Candra untuk masuk kedalam
rumah.
“Bik……!!!” seru mas Candra memanggil bik
Atik.
Tak butuh waktu lama, bik Atik langsung
muncul dengan tergopoh.
“Iya De-nnnn…..” sahutnya terputus begitu
melihat kami bertiga basah kuyup dan pandangan beliau berhenti padaku.
“Yoga…..???? Ya Allah, Yoga…!!! Dari mana saja kamu nak…???” seru bik Atik dan
langsung merangkulku. “Ya Allah, Ga…!! Bibik kangen banget sama kamu…” bik
Atikpun ikutan menangis saat memelukku.
“Bik… Yoga basah kuyup.” seruku
sungkan.
“Tolong ambilkan handuk buat kami bertiga
bik.!!” Seru mas Candra
yang segera diiyakan oleh bik Atik.
Malam ini, kami bertiga kembali tidur
bersama dikamar Ichal. Ichal tidur ditengah. Dia seakan tak mau melepasku
barang semenitpun. Mandi, minta aku yang mandiin. Ganti baju minta aku yang bantu-padahal
sekarang dia sudah semakin besar- dan makanpun minta disuapin.
Seperti
saat ini, dia tak mau melepas rangkulannya saat kami mengobrol diranjangnya
sambil tiduran.
“Kakak jangan pergi lagi ya….!!!” pinta
Ichal
entah sudah yang keberapa kali.
“Kakak gak bisa janji Chal. Tapi mungkin
kakak akan mengunjungi kalian lagi nanti.” jawabku
jujur.
“Kakak tega banget sama Ichal.!!” lagi-lagi
dia mewek dipelukanku.
“Maaf Chal….!!! Tapi kakak beneran gak
bisa.”
“Ichal masih kangen kaaaaakkkkk…..!!!” dan
menangislah dia.
“Sssshhhh… Chal…!! Anak cowok gak boleh
cengeng.” ucapku
sambil mengusap rambutnya.
“Biarin…!!!” bantahnya. “Ichal akan terus
nangis kalau kakak pergi lagi.”
“Chal….!!!” panggilku
lirih mendongakkan wajahnya. “Kakak harus kerja.” bohongku.
“Bagaimana kakak bisa kerja kalau kakak tinggal disini??”
“Ayah juga kerja. Kakak disini aja!! Biar
ayah yang cari uang,
kakak temenin Ichal
dirumah.” jawabnya
polos.
Aku tersnyum geli dibuatnya. Mas Candra juga
diam saja daritadi memperhatikan kami berdua. “Kamu ada-ada aja Chal.” ucapku
geli. “Udah malam. Ayo tidur…!!!”
“Gak mau..!!! Nanti kakak pergi lagi.” bantahnya
lagi.
“Enggak Chal. Kakak janji akan nginep malam
ini.”
“Janji…!!!” seru ichal menjulurkan
kelingkingnya.
“Janji.” jawabku
menautkan kedua jari kelingking kami. “Ayo tidur!!”
“Dia sudah tidur?!” tanya mas Candra pelan.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Kemana mas?” tanyaku heran saat mas candra
bangkit dari tidurnya. Pertanyaan bodoh. Mungkin dia mau kekamar mandi atau
kemana, itu kan bukan urusanku.
Dia tak menjawabnya. Namun detik berikutnya,
aku baru sadar waktu mas Candra mengitari ranjang menuju sampingku. “Sekarang
waktuku.” seru
mas Candra menaikkan lutut kirinya.
“Sempit mas…” sanggahku bingung mau berbuat
apa.
“Sebentar..” mas Candra menyuruhku geser
sedikit supaya dia bisa mudah mengangkat Ichal dan menidurkannya ditempat mas
Candra tadinya.
“Nanti kalau terbangun, dia bisa marah lho,”
ucapku tersenyum geli.
“Enggak kalau kamu tidur ditengah.” jawabnya
enteng.
Posisi yang konyol. Kenapa jadi aku yang
berada ditengah sekarang?
Tanpa ijin atau basa-basi, mas Candra
langsung main rangkul saja padaku. Tapi tak kupungkiri, aku memang merindukannya.
Bukankah ini yang kuinginkan? Bertemu mereka dan kembali merasakan rangkulan
hangatnya.
“Kenapa kamu pergi Ga..??” tanya mas Candra
lirih ditelingaku.
“Gak papa mas. Menurutku itu yang terbaik
untuk kita semua.”
“Kamu gak tau bagaimana sedihnya Ichal
saat kamu tinggalkan. Aku juga….” suaranya semakin lirih.
“Maaf mas..!!!” ucapku sangat menyesal.
“Kamu sungguh gak mau memberitahukan dimana
kamu tinggal sekarang?”
“Untuk apa mas?”
“Aku janji takkan mengganggumu. Tapi kumohon
Ga!! Beritahu dimana alamatmu!! Ichal sering sakit-sakitan sejak saat itu. Aku
tak mau dia menderita lagi nantinya.”
“Tapi…”
“Demi aku Ga. Kalau kamu masih mencintaiku.”
ucapan
mas Candra
kembali membuatku pilu. Air matakupun kembali mengalir.
“Aku gak mau merusak hidupmu mas…”
“Hidup yang mana Ga??? Hidup kami sudah
hancur sejak kepergianmu. Apa kamu gak pernah sekalipun merindukan kami.?”
Aku berbalik arah menghadapnya. “Justru
kedatanganku karena aku tak sanggup menahan rinduku mas.”
Sesaat mas Candra terdiam melihatku yang
berlinang air mata. Disentuhnya pipiku dan diusapnya lembut air mataku.
“Lalu kenapa kamu pergi?”
“Jangan bicarakan yang lalu mas.!! Aku
kesini hanya ingin melihat kalian. Melihat…mu.”
Kembali mas Candra merengkuh pipiku. Satu
kecupan yang sangat kurindukan mendarat dikeningku.
“Maaf atas keegoisanku mas..!! Tapi
aku tak mampu membohongi diriku. Aku merindukanmu,” desahku pelan dan
melingkarkan lenganku dipinggangnya.
“Aku juga rindu padamu, Ga. Sangat…”
sahutnya dan membalas rangkulanku.
Apakah yang kulakukan ini benar? Aku tak tau
apa saja yang telah terjadi selama kepergianku. Aku tak tahu, apakah mas Candra
sudah ada calon untuk ibunya Ichal atau belum?
Apakah besok aku bisa pergi dari sini? Dan apa konsekuensi yang akan kutanggung
dari semua ini? Aku tak tahu..???
Yang kutau hanya aku sudah ada disini.
Bertemu Ichal, bertemu mas Candra dan aku sekarang sedang ada dalam dekapan
hangatnya. Dekapan yang selalu kurindukan dalam setiap malamku yang sendirian.
Aku mencintaimu mas. Aku cinta kalian berdua.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar