Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 34

  



   Candra Pov.

   Ini sudah hari ke-2, tapi Yoga tak kunjung menunjukkan tanda siuman.
   Perasaanku jadi tak menentu. Aku tak bisa kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kali.
   Apa yang menahanmu ..???
   Cepat sadar Ga…!!!

   Karena luka yang ada di punggungnya, Yoga terpaksa tidur dengan posisi miring. Disisi kanan wajahnya terdapat goresan-goresan luka. Kulit di sepanjang lengan, pinggul dan kakinya juga mengelupas. Aku tak sanggup menyaksikannya dalam keadaan seperti ini terlalu lama. Tapi aku juga tak bisa meninggalkannya.
   Aku merasa berdosa. Aku bersalah padanya, Tuhan…!!!
   Kalau saja aku menyusul mereka berdua, mungkin kejadiannya takkan seperti ini.

   “Kakak belum sadar, Yah..???” tanya ichal lirih.
   Aku hanya menggeleng sambil tersenyum menenangkannya. Kurangkul dan kupangku dia penuh sayang. Demi menyelamatkan anakku, dia rela menerima luka ini. Aku malu sekali padanya. Bahkan aku yang ayah kandungnya sendiri tak bisa melindungi anakku dengan baik.
   Ichal baik-baik saja. Hanya sedikit memar di keningnya karena benturan. Lagi-lagi itu karena Yoga yang melindunginya.
   “Bagaimana..???” tanya ayah sambil merengkuh bahuku. Kakak dan ibu juga ikut menjenguk.
   “Belum sadar. Dokter bilang dia sudah melewati masa kritis. Tapi….” aku menarik nafas berat. “Kuharap dia baik-baik saja.”
   Ayah tak mengatakan apa-apa lagi. Beliau hanya meremas bahuku dan menepuknya pelan. Kak Asty juga tak banyak bicara. Aku sedikit tertolong dengan dia menjaga sikapnya di sini. Aku sedang tak ingin bertengkar dengan siapapun saat ini.
   “Kamu jangan lupa istirahat Nak..!!” pesan ibu lembut. “Semoga dia cepat sadar.”
   “Kami pulang dulu Ndra.” ucap kak Asty berpamitan. “Jangan lupa istirahat.!!” aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

   Setelah keluargaku pulang, kembali hanya tinggal kami bertiga yang ada di ruangan ini.
   Ichal tak mau pulang ke rumah. Dia juga tak mau sekolah kalau Yoga belum siuman. Dia masih merasa bersalah, karena dialah Yoga terbaring tak sadarkan diri di sini.
   Kugenggam jemari tangan kirinya yang tak luka. Kuremas lembut, berharap dia dapat merasakannya.
   “Cepet sadar Ga…!!! Kami berdua akan selalu menjagamu disini.” bisikku lirih di telinganya.
   Hatiku sakit melihatnya tak merespon ucapanku. “Aku minta maaf Ga…!!! Tak seharusnya kau mengalami kejadian ini.”
   “Ayah…..!!” panggil Ichal lirih. “Ayah jangan nangis..!!!” serunya perih. Aku bahkan tidak menyadari ada air yang keluar di mataku. “Ichal yang salah…!! Kalau saja Ichal gak lari, kakak pasti gak bakalan tidur selama ini di sini.” Ichal terisak dan merangkulku erat.
   “Sssshhhh…..” kudekap dan kuusap lembut rambutnya. “Ayah gak papa. Ichal gak salah kok. Ini semua sudah kehendak Allah Chal. Jadi… Ichal jangan merasa bersalah seperti itu. Nanti kak Yoga semakin sedih kalau denger Ichal nangis.” tuturku lirih. “Kita berdoa saja, semoga kak Yoga bisa cepat siuman, ya..” ichal menghapus air matanya dan berusaha menghentikan tangisnya.
   Seandainya aku bisa seperti anakku yang bisa dengan mudahnya dinasehati dan disuruh berhenti menangis. Aku bahkan masih menyalahkan diriku atas kejadian yang menimpanya.
   ‘Cepet sadar Ga..!!! Aku gak mau kehilangan kamu.’ pintaku dalam hati.
   Selama ini aku selalu berpikir. Bagaimana caranya agar Yoga bisa tinggal lebih lama di rumahku? Aku tak perdulikan tekanan dan sindiran keluargaku setiap kali mereka membahas tentangnya. Aku yang menampung dia, jadi akulah yang bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang akan kuterima.     
   Dan selama ini, aku sering memikirkan apa arti semua perasaanku padanya. Senang saat melihatnya. Marah saat tau dia pergi dengan orang lain. Dan kenyamanan saat aku merangkulnya. Aku kira semua itu hanya karena aku menyukainya. Tapi ternyata perasaanku lebih dari sekedar suka. Aku sayang padanya.
   Apakah itu bisa di namakan cinta..???
   Aku tak perduli dengan definisi apapun yang ada. Yang jelas aku sayang padanya. Aku ingin selalu bersamanya.
   Aku sangat tidak siap dengan ucapannya tempo hari. Di tengah aku bingung memikirkan bagaimana caranya dia bisa tinggal lebih lama di sini, dia malah mengatakan kalau dia akan pergi meninggalkan kami. Tapi harusnya aku sadar. Dia punya hidup sendiri. Aku tak mungkin mengekangnya dan memaksakan kehendakku padanya.
   Tapi aku ingin dia tinggal lebih lama lagi denganku. Aku masih ingin selalu bersamanya.


   Hari beranjak malam. Ichal sudah dua malam ini tidur di sofa. Aku sudah memaksanya pulang, tapi aku sadar dia takkan bisa tidur tanpa aku dan Yoga disana. Jadi, tak ada yang bisa kulakukan untuk melarangnya menemaniku tidur di sini lagi malam ini.




   Yoga Pov.
   Aku merasa sunyi. Perlahan, kegelapan itu semakin menjauh dariku.
   Dan saat ini. Ketenangan yang kurasakan sangat membuatku nyaman dan enggan untuk bangun. Inilah yang kuinginkan. Hening. Tak harus merasakan sakit ataupun sedih dalam hatiku.
 
   Sampai aku melihat mereka berdua.
   Aku bimbang…..!!!
   Apakah aku harus tetap bertahan di sini atau menghampiri mereka…???


   “Selamat pagi kakak….” terdengar sebuah suara kecil menyapaku, di susul sebuah kecupan ringan di keningku.
   Ichal….!!! Bagaimana keadaannya…??? Apakah dia baik-baik saja..???
   “Selamat pagi Ga…” sapa sebuah suara lain. Suara lembut dan hangat yang sangat kusuka. “Waktunya bangun… !! Jangan buat kami menunggumu terlalu lama Ga…!!! Kami rindu untuk ngobrol bertiga lagi denganmu.” sebuah kecupan lembut mendarat dengan sangat hati-hati di keningku. “Kami sayang padamu.”
   Aku ingin bangun.!!!
   Aku ingin melihat mereka lagi.
   Kalau aku harus meninggalkan ketenangan ini untuk dapat melihat mereka kembali, aku akan menukarnya.

   Perlahan kubalas genggaman lembut mas Candra. Kucoba memaksimalkan semua fungsi organ tubuhku.
   Sakit….!!!
   Itu yang pertama kali kurasakan.
   Setiap tarikan nafas yang kulakukan, seakan merangsang rasa sakit itu menjalar ke otakku.

   “Yoga….” desah mas Candra memanggilku. Dia meremas jemariku lebih erat dan mengecupnya.
   “Kenapa Yah?” tanya Ichal penasaran.
   “Kak Yoga sadar, Chal.” jawab mas Candra sumringah.
   “Sungguh…???” tanyanya lagi tak percaya. Suara ranjang berderit seolah menandakan Ichal mendekat ke arahku. “Bagaimana ayah bisa tau…???” benar saja. Ichal ada di depanku saat ini.
   Terdengar suara tawa renyah mas Candra. “Kak Yoga membalas genggaman tangan ayah tadi.”
   “Sini-sini-sini….!!! Ichal juga mau pegang tangan kakak. Masa ayah terus yang memegangnya.” celetuk Ichal asal yang membuatku ingin tertawa saking gelinya. Tapi lagi-lagi aku harus menahan diri karena punggungku masih terasa sedikit nyeri.
   Ingin rasanya aku tersenyum saat sebuah tangan kecil menggenggam dan meremas jemariku. Tangan ichal. Si kecil yang paling kusayangi. Senang mengetahui dia baik-baik saja.
   Kubalas genggaman tangannya pelan. “Aarrgghh…. Ayaaahhh….. kakak membalasnya, hahaha….” seru Ichal terdengar sangat senang.
   Aku tak mau menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera membuka mata. Aku ingin melihat mereka.
   “Hei….” sapaku parau dengan senyum terbaik yang bisa kuberikan.
   “Hei….” sapa mas Candra sumringah. “Selamat pagi. Senang bisa melihatmu lagi.” ucapnya sambil mengecup keningku.
   “Ih ayaaaaahhhh…. Kok kecup-kecup kening kakak gitu..??? Kayak orang pacaran aja..??” celotehnya yang membuat kami berdua tertegun malu. Detik berikutnya, mas Candra tertawa lepas sambil merangkul anaknya dalam pangkuannya. Akupun tak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum bersama mereka.
   Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan mereka. Mereka adalah anugerah paling indah yang pernah kudapatkan. Terima kasih Ya Allah….!!! Engkau masih memberiku kesempatan untuk kembali menghirup udara-Mu. Dan mereka berdua…. Mereka adalah hal paling indah dalam hidupku.
   “Kakak cepat sembuh ya…!!! Ichal udah kangen pengen tidur bareng kakak dan ayah lagi di kamar.” celotehnya lagi yang membuatku dan mas Candra tersenyum simpul padanya.
   “Kakak juga pengen di kecup sama Ichal.” ucapku lirih.
   Tanpa meminta dua kali, Ichal langsung turun dari pangkuan ayahnya dan mengecup keningku lembut.
   “Terima kasih.” ucapku tulus.
   “Kembali…” sahutnya sumringah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar