Candra Pov.
Ini sudah hari ke-2, tapi Yoga tak kunjung menunjukkan
tanda siuman.
Perasaanku jadi tak menentu. Aku tak bisa
kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kali.
Apa yang menahanmu ..???
Cepat sadar Ga…!!!
Karena luka yang ada di punggungnya, Yoga
terpaksa tidur dengan posisi miring. Disisi kanan wajahnya terdapat
goresan-goresan luka. Kulit di sepanjang lengan, pinggul dan kakinya juga
mengelupas. Aku tak sanggup menyaksikannya dalam keadaan seperti ini terlalu
lama. Tapi aku juga tak bisa meninggalkannya.
Aku merasa berdosa. Aku bersalah padanya,
Tuhan…!!!
Kalau saja aku menyusul mereka berdua,
mungkin kejadiannya takkan seperti ini.
“Kakak belum sadar, Yah..???” tanya ichal
lirih.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum
menenangkannya. Kurangkul dan kupangku dia penuh sayang. Demi menyelamatkan
anakku, dia rela menerima luka ini. Aku malu sekali padanya. Bahkan aku yang
ayah kandungnya sendiri tak bisa melindungi anakku dengan baik.
Ichal baik-baik saja. Hanya sedikit memar di
keningnya karena benturan. Lagi-lagi itu karena Yoga yang melindunginya.
“Bagaimana..???” tanya ayah sambil merengkuh
bahuku. Kakak dan ibu juga ikut menjenguk.
“Belum sadar. Dokter bilang dia sudah
melewati masa kritis. Tapi….” aku menarik nafas berat. “Kuharap dia baik-baik
saja.”
Ayah tak mengatakan apa-apa lagi. Beliau
hanya meremas bahuku dan menepuknya pelan. Kak Asty juga tak banyak bicara. Aku
sedikit tertolong dengan dia menjaga sikapnya di sini. Aku sedang tak ingin
bertengkar dengan siapapun saat ini.
“Kamu jangan lupa istirahat Nak..!!” pesan
ibu lembut. “Semoga dia cepat sadar.”
“Kami pulang dulu Ndra.” ucap kak Asty berpamitan.
“Jangan lupa istirahat.!!” aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Setelah keluargaku pulang, kembali hanya
tinggal kami bertiga yang ada di ruangan ini.
Ichal tak mau pulang ke rumah. Dia juga tak
mau sekolah kalau Yoga belum siuman. Dia masih merasa bersalah, karena dialah
Yoga terbaring tak sadarkan diri di sini.
Kugenggam jemari tangan kirinya yang tak
luka. Kuremas lembut, berharap dia dapat merasakannya.
“Cepet sadar Ga…!!! Kami berdua akan selalu
menjagamu disini.” bisikku lirih di telinganya.
Hatiku sakit melihatnya tak merespon
ucapanku. “Aku minta maaf Ga…!!! Tak seharusnya kau mengalami kejadian ini.”
“Ayah…..!!” panggil Ichal lirih. “Ayah
jangan nangis..!!!” serunya perih. Aku bahkan tidak menyadari ada air yang
keluar di mataku. “Ichal yang salah…!! Kalau saja Ichal gak lari, kakak pasti
gak bakalan tidur selama ini di sini.” Ichal terisak dan merangkulku erat.
“Sssshhhh…..” kudekap dan kuusap lembut
rambutnya. “Ayah gak papa. Ichal gak salah kok. Ini semua sudah kehendak Allah
Chal. Jadi… Ichal jangan merasa bersalah seperti itu. Nanti kak Yoga semakin
sedih kalau denger Ichal nangis.” tuturku lirih. “Kita berdoa saja, semoga kak
Yoga bisa cepat siuman, ya..” ichal menghapus air matanya dan berusaha
menghentikan tangisnya.
Seandainya
aku bisa seperti anakku yang bisa dengan mudahnya dinasehati dan disuruh
berhenti menangis. Aku bahkan masih menyalahkan diriku atas kejadian yang
menimpanya.
‘Cepet sadar Ga..!!! Aku gak mau kehilangan
kamu.’ pintaku dalam hati.
Selama ini aku selalu berpikir. Bagaimana
caranya agar Yoga bisa tinggal lebih lama di rumahku? Aku tak perdulikan
tekanan dan sindiran keluargaku setiap kali mereka membahas tentangnya. Aku
yang menampung dia, jadi akulah yang bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi
yang akan kuterima.
Dan selama ini, aku sering memikirkan apa
arti semua perasaanku padanya. Senang saat melihatnya. Marah saat tau dia pergi
dengan orang lain. Dan kenyamanan saat aku merangkulnya. Aku kira semua itu
hanya karena aku menyukainya. Tapi ternyata perasaanku lebih dari sekedar suka.
Aku sayang padanya.
Apakah itu bisa di namakan cinta..???
Aku tak perduli dengan definisi apapun yang
ada. Yang jelas aku sayang padanya. Aku ingin selalu bersamanya.
Aku sangat tidak siap dengan ucapannya tempo
hari. Di tengah aku bingung memikirkan bagaimana caranya dia bisa tinggal lebih
lama di sini, dia malah mengatakan kalau dia akan pergi meninggalkan kami. Tapi
harusnya aku sadar. Dia punya hidup sendiri. Aku tak mungkin mengekangnya dan
memaksakan kehendakku padanya.
Tapi aku ingin dia tinggal lebih lama lagi
denganku. Aku masih ingin selalu bersamanya.
Hari beranjak malam. Ichal sudah dua malam
ini tidur di sofa. Aku sudah memaksanya pulang, tapi aku sadar dia takkan bisa
tidur tanpa aku dan Yoga disana. Jadi, tak ada yang bisa kulakukan untuk melarangnya
menemaniku tidur di sini lagi malam ini.
Yoga Pov.
Aku merasa sunyi. Perlahan, kegelapan itu
semakin menjauh dariku.
Dan saat ini. Ketenangan yang kurasakan
sangat membuatku nyaman dan enggan untuk bangun. Inilah yang kuinginkan. Hening.
Tak harus merasakan sakit ataupun sedih dalam hatiku.
Sampai
aku melihat mereka berdua.
Aku bimbang…..!!!
Apakah aku harus tetap bertahan di sini atau
menghampiri mereka…???
“Selamat pagi kakak….” terdengar sebuah
suara kecil menyapaku, di susul sebuah kecupan ringan di keningku.
Ichal….!!! Bagaimana keadaannya…??? Apakah
dia baik-baik saja..???
“Selamat pagi Ga…” sapa sebuah suara lain.
Suara lembut dan hangat yang sangat kusuka. “Waktunya bangun… !! Jangan buat
kami menunggumu terlalu lama Ga…!!! Kami rindu untuk ngobrol bertiga lagi
denganmu.” sebuah kecupan lembut mendarat dengan sangat hati-hati di keningku.
“Kami sayang padamu.”
Aku ingin bangun.!!!
Aku ingin melihat mereka lagi.
Kalau aku harus meninggalkan ketenangan ini
untuk dapat melihat mereka kembali, aku akan menukarnya.
Perlahan kubalas genggaman lembut mas
Candra. Kucoba memaksimalkan semua fungsi organ tubuhku.
Sakit….!!!
Itu yang pertama kali kurasakan.
Setiap tarikan nafas yang kulakukan, seakan
merangsang rasa sakit itu menjalar ke otakku.
“Yoga….” desah mas Candra memanggilku. Dia
meremas jemariku lebih erat dan mengecupnya.
“Kenapa Yah?” tanya Ichal penasaran.
“Kak Yoga sadar, Chal.” jawab mas Candra
sumringah.
“Sungguh…???” tanyanya lagi tak percaya.
Suara ranjang berderit seolah menandakan Ichal mendekat ke arahku. “Bagaimana
ayah bisa tau…???” benar saja. Ichal ada di depanku saat ini.
Terdengar suara tawa renyah mas Candra. “Kak
Yoga membalas genggaman tangan ayah tadi.”
“Sini-sini-sini….!!! Ichal juga mau pegang
tangan kakak. Masa ayah terus yang memegangnya.” celetuk Ichal asal yang
membuatku ingin tertawa saking gelinya. Tapi lagi-lagi aku harus menahan diri
karena punggungku masih terasa sedikit nyeri.
Ingin rasanya aku tersenyum saat sebuah
tangan kecil menggenggam dan meremas jemariku. Tangan ichal. Si kecil yang
paling kusayangi. Senang mengetahui dia baik-baik saja.
Kubalas genggaman tangannya pelan.
“Aarrgghh…. Ayaaahhh….. kakak membalasnya, hahaha….” seru Ichal terdengar
sangat senang.
Aku tak mau menunggu lebih lama lagi. Aku
ingin segera membuka mata. Aku ingin melihat mereka.
“Hei….” sapaku parau dengan senyum terbaik
yang bisa kuberikan.
“Hei….” sapa mas Candra sumringah. “Selamat
pagi. Senang bisa melihatmu lagi.” ucapnya sambil mengecup keningku.
“Ih ayaaaaahhhh…. Kok kecup-kecup kening
kakak gitu..??? Kayak orang pacaran aja..??” celotehnya yang membuat kami
berdua tertegun malu. Detik berikutnya, mas Candra tertawa lepas sambil
merangkul anaknya dalam pangkuannya. Akupun tak bisa menahan diri untuk ikut
tersenyum bersama mereka.
Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan
mereka. Mereka adalah anugerah paling indah yang pernah kudapatkan. Terima
kasih Ya Allah….!!! Engkau masih memberiku kesempatan untuk kembali menghirup
udara-Mu. Dan mereka berdua…. Mereka adalah hal paling indah dalam hidupku.
“Kakak cepat sembuh ya…!!! Ichal udah kangen
pengen tidur bareng kakak dan ayah lagi di kamar.” celotehnya lagi yang
membuatku dan mas Candra tersenyum simpul padanya.
“Kakak juga pengen di kecup sama Ichal.” ucapku
lirih.
Tanpa meminta dua kali, Ichal langsung turun
dari pangkuan ayahnya dan mengecup keningku lembut.
“Terima kasih.” ucapku tulus.
“Kembali…” sahutnya sumringah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar