Setelah keadaanku membaik dan mendapat ijin
dokter untuk melakukan rawat jalan, kegiatanku di rumah hanya rebahan,
duduk-duduk, nonton dan hal-hal membosankan lainnya. Kalau saja Reffan dan
Ichal tak menemaniku dan mengajakku bercanda, mungkin aku bakalan bosan akut
kalau bermalas-malasan terus seperti ini. Bik Atik juga selalu melarangku
setiap kali aku hendak membantunya memasak, bersih-bersih, nyetrika atau
melakukan kesibukan lain yang masih bisa di kerjakan beliau sendiri.
Yang paling menyenangkan, kalau mas Candra
sudah ada di rumah. Sebenarnya hanya hal-hal kecil yang dia lakukan, seperti
secara rutin dia mengecheck lukaku, menanyakan apakah aku sudah makan atau minum
obat, apakah aku ingin sesuatu atau saat dia dengan hati-hati memperlakukanku
setiap kali kami hendak tidur- begitu sampai dirumah, Ichal langsung memintaku
tidur dikamarnya dan setiap malam kami selalu tidur bertiga- agar Ichal tidak
menyenggol lukaku atau dia sendiri yang menahan diri untuk tidak merangkulku
selama lukaku belum sembuh benar. Semua hal kecil itu, semakin membuatku merasa
ceria dan hangat tiap kali di dekatnya. Aku suka senyumnya, aku suka cara
bicaranya, aku suka suaranya, aku suka cara dia memperlakukanku, aku suka semua
hal tentang dirinya.
“Kenapa Ga..??!” tanya mas Candra yang
menyadarkanku dari lamunan saat memandangnya.
Wajahku langsung bersemu merah melihat senyumnya.
“Gak… gak ada apa-apa.” bohongku lemah.
Kurasa dia tau apa yang kupikirkan, tapi tak
sedikitpun dia mengungkitnya. Aku tak tau? Apakah aku harus merasa senang atau
sedih dengan hal itu. Aku yakin dia tau aku menyukainya, tapi mas Candra tetap
bersikap seperti biasa dan tetap memperlakukanku dengan baik.
“Ayo tidur…!!” serunya lembut. Sebelum tidur, tak lupa dia
mengusap rambutku pelan.
Kadang
suka jengkel dengan luka ini. Aku kan kangen tidur dalam rangkulannya.
‘Ampun Ga….!!!! Apa yang kau pikirkan…???!’
teriak otak warasku. ‘Kamu harus sadar kalau mereka bukan keluargamu. Kamu
masih harus meninggalkan tempat ini kalau sudah sembuh nanti!! Kamu tak
berpikir untuk tinggal selamanya di sini kan..??!’
Ya….!! Aku sadar kalau aku tak boleh larut
dengan semua kebahagiaan ini. Aku semakin banyak berhutang padanya. Dan kalau
aku hanya berdiam diri di sini, bagaimana aku bisa membayar semua hutangku
padanya?
Handphone yang kuletakkan
di meja samping tempatku tidur bergetar, tanda ada sms masuk. Bukannya segera
membuka isi pesannya, aku justru memandangi nomer itu seolah aku tengah menatap
mimpi burukku.
Jantungku jadi
berdebar keras hanya untuk memencet tombol open message.
"Hallo
ay..."
Dua kata. Hanya dua
kata. Tapi kalimat itu berhasil membuat hati dan pikiranku kacau balau.
Dia kembali.!!!
Tapi aku justru di
liputi kebingungan. Apakah aku harus bahagia? Sedih? Takut? Marah? Atau benci?
Berbulan-bulan aku
menunggu kabar darinya. Giliran dia menyapaku, kenapa justru aku yang tak tahu
harus melakukan apa?
Ada sedikit
perasaan lega mengetahui dia masih ada. Tapi juga ada sedikit marah padanya.
Kenapa baru sekarang dia menghubungiku setelah setengah tahun meninggalkanku
tanpa kabar?
Dan.....
Dadaku jadi sesak
saat menatap ke depan, dimana Ichal dan Mas Candra tengah tertidur pulas.
Kenapa dia justru muncul saat di hatiku bermekaran bunga cinta pada dua orang
di hadapanku ini?
"Drrrrrtttttt..." handphoneku kembali bergetar.
"Udah tidur
ya?"
Apa yang harus
kulakukan...??! Aku tak ada pulsa untuk membalasnya. Lagipula, apa yang harus
kukatakan untuk menjawabnya.???
Tuhan....!!!!! Aku
bingung. Apa yang Kau rencanakan padaku.???!
"Aku telpon
ya" bunyi smsnya lagi. Refleks kumatikan handphoneku.
'Kenapa....???'
Justru aku yang
bertanya pada diriku sendiri saat ini. Kenapa aku mematikannya????
Entahlah...?!!! Aku
tak tau..??? Instingku mengatakan kalau aku harus melakukannya. Aku belum siap.
Aku belum bisa menghadapi situasi ini dengan benar.
'Pengecut..!!!'
ejek diriku sendiri.
Terserah..!!! Aku
hanya belum tau bagaimana dan apa yang sebaiknya kulakukan.??!
Malam ini, aku jadi
sulit hanya sekedar memejamkan mata. Kupandangi Ichal dan mas Candra sambil
berdikir Lafadz Allah dalam hatiku.
Aku memohon
petunjuk-Mu ya Rabb...!!!
Aku tau aku banyak
dosa. Tapi saat ini, aku tak ingin menghancurkan apapun yang ada. Aku tak bisa
melakukan kesalahan yang akan membuat dua orang yang paling kusayangi saat ini
berbalik membenciku. Aku tak akan sanggup menanggung kebencian mereka.
Lalu....!!! Apa
yang harus kulakukan...???
Allah....!!!! Bantu
hamba...!!!!
Kenapa aku jadi
takut seperti ini...??? Apa yang kutakutkan sebenarnya...??? Kebencian
mereka...??? Munculnya Adit..??? Apa....????
Arrrgghhh......!!!!
Pikiranku makin
kacau saja.
Mending kualihkan
perhatianku dengan mengelus rambut Ichal, menepuk-nepuk pelan lengannya atau
apapun yang bisa kulakukan tanpa membangunkan mereka. Sambil terus berdzikir,
kucoba mengenyahkan pikiran kacau ini dari otakku.
Kenapa kamu muncul
saat aku tak lagi memikirkanmu ay...????!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar