Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 35

  



   Setelah keadaanku membaik dan mendapat ijin dokter untuk melakukan rawat jalan, kegiatanku di rumah hanya rebahan, duduk-duduk, nonton dan hal-hal membosankan lainnya. Kalau saja Reffan dan Ichal tak menemaniku dan mengajakku bercanda, mungkin aku bakalan bosan akut kalau bermalas-malasan terus seperti ini. Bik Atik juga selalu melarangku setiap kali aku hendak membantunya memasak, bersih-bersih, nyetrika atau melakukan kesibukan lain yang masih bisa di kerjakan beliau sendiri.
   Yang paling menyenangkan, kalau mas Candra sudah ada di rumah. Sebenarnya hanya hal-hal kecil yang dia lakukan, seperti secara rutin dia mengecheck lukaku, menanyakan apakah aku sudah makan atau minum obat, apakah aku ingin sesuatu atau saat dia dengan hati-hati memperlakukanku setiap kali kami hendak tidur- begitu sampai dirumah, Ichal langsung memintaku tidur dikamarnya dan setiap malam kami selalu tidur bertiga- agar Ichal tidak menyenggol lukaku atau dia sendiri yang menahan diri untuk tidak merangkulku selama lukaku belum sembuh benar. Semua hal kecil itu, semakin membuatku merasa ceria dan hangat tiap kali di dekatnya. Aku suka senyumnya, aku suka cara bicaranya, aku suka suaranya, aku suka cara dia memperlakukanku, aku suka semua hal tentang dirinya.
   “Kenapa Ga..??!” tanya mas Candra yang menyadarkanku dari lamunan saat memandangnya.
   Wajahku langsung bersemu merah melihat senyumnya. “Gak… gak ada apa-apa.” bohongku lemah.
   Kurasa dia tau apa yang kupikirkan, tapi tak sedikitpun dia mengungkitnya. Aku tak tau? Apakah aku harus merasa senang atau sedih dengan hal itu. Aku yakin dia tau aku menyukainya, tapi mas Candra tetap bersikap seperti biasa dan tetap memperlakukanku dengan baik.
   “Ayo tidur…!!” serunya lembut. Sebelum tidur, tak lupa dia mengusap rambutku pelan.
   Kadang suka jengkel dengan luka ini. Aku kan kangen tidur dalam rangkulannya.
   ‘Ampun Ga….!!!! Apa yang kau pikirkan…???!’ teriak otak warasku. ‘Kamu harus sadar kalau mereka bukan keluargamu. Kamu masih harus meninggalkan tempat ini kalau sudah sembuh nanti!! Kamu tak berpikir untuk tinggal selamanya di sini kan..??!’
   Ya….!! Aku sadar kalau aku tak boleh larut dengan semua kebahagiaan ini. Aku semakin banyak berhutang padanya. Dan kalau aku hanya berdiam diri di sini, bagaimana aku bisa membayar semua hutangku padanya?

   Handphone yang kuletakkan di meja samping tempatku tidur bergetar, tanda ada sms masuk. Bukannya segera membuka isi pesannya, aku justru memandangi nomer itu seolah aku tengah menatap mimpi burukku.
   Jantungku jadi berdebar keras hanya untuk memencet tombol open message.
   "Hallo ay..."
   Dua kata. Hanya dua kata. Tapi kalimat itu berhasil membuat hati dan pikiranku kacau balau.
  
   Dia kembali.!!!
   Tapi aku justru di liputi kebingungan. Apakah aku harus bahagia? Sedih? Takut? Marah? Atau benci?
   Berbulan-bulan aku menunggu kabar darinya. Giliran dia menyapaku, kenapa justru aku yang tak tahu harus melakukan apa?
   Ada sedikit perasaan lega mengetahui dia masih ada. Tapi juga ada sedikit marah padanya. Kenapa baru sekarang dia menghubungiku setelah setengah tahun meninggalkanku tanpa kabar?
   Dan.....
   Dadaku jadi sesak saat menatap ke depan, dimana Ichal dan Mas Candra tengah tertidur pulas. Kenapa dia justru muncul saat di hatiku bermekaran bunga cinta pada dua orang di hadapanku ini?
   "Drrrrrtttttt..." handphoneku kembali bergetar.
   "Udah tidur ya?"
   Apa yang harus kulakukan...??! Aku tak ada pulsa untuk membalasnya. Lagipula, apa yang harus kukatakan untuk menjawabnya.???
   Tuhan....!!!!! Aku bingung. Apa yang Kau rencanakan padaku.???!
   "Aku telpon ya" bunyi smsnya lagi. Refleks kumatikan handphoneku.
   'Kenapa....???'
   Justru aku yang bertanya pada diriku sendiri saat ini. Kenapa aku mematikannya????
   Entahlah...?!!! Aku tak tau..??? Instingku mengatakan kalau aku harus melakukannya. Aku belum siap. Aku belum bisa menghadapi situasi ini dengan benar.
   'Pengecut..!!!' ejek diriku sendiri.
   Terserah..!!! Aku hanya belum tau bagaimana dan apa yang sebaiknya kulakukan.??!

   Malam ini, aku jadi sulit hanya sekedar memejamkan mata. Kupandangi Ichal dan mas Candra sambil berdikir Lafadz Allah dalam hatiku.
   Aku memohon petunjuk-Mu ya Rabb...!!!
   Aku tau aku banyak dosa. Tapi saat ini, aku tak ingin menghancurkan apapun yang ada. Aku tak bisa melakukan kesalahan yang akan membuat dua orang yang paling kusayangi saat ini berbalik membenciku. Aku tak akan sanggup menanggung kebencian mereka.
   Lalu....!!! Apa yang harus kulakukan...???
   Allah....!!!! Bantu hamba...!!!!
   Kenapa aku jadi takut seperti ini...??? Apa yang kutakutkan sebenarnya...??? Kebencian mereka...??? Munculnya Adit..??? Apa....????
   Arrrgghhh......!!!!
   Pikiranku makin kacau saja.
   Mending kualihkan perhatianku dengan mengelus rambut Ichal, menepuk-nepuk pelan lengannya atau apapun yang bisa kulakukan tanpa membangunkan mereka. Sambil terus berdzikir, kucoba mengenyahkan pikiran kacau ini dari otakku.
   Kenapa kamu muncul saat aku tak lagi memikirkanmu ay...????!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar