Semua luka
ditubuhku sudah mulai mengering dan sembuh. Beberapa bekas lukanya juga sudah
mulai memudar.
Tapi yang sembuh
adalah luka luarku. Sedangkan luka dalam hatiku kembali terbuka dan menganga.
Belakangan Adit sering mengirim pesan singkat padaku.
Anehnya...???
Dia tak pernah
sekalipun mengungkit tentang kenapa dia tak pernah menghubungiku ataupun
mengatakan cinta padaku. Yang dia katakan hanya selamat pagi, dah tidur belum
atau lagi apa. Semua itu hanya ucapan basa-basi yang terkadang membuatku gerah
dan sebal padanya.
Dan aku...???
Aku belum pernah
membalas smsnya sekalipun. Bisa saja aku mengisi pulsa hanya sekedar lima ribu
rupiah, tapi aku juga bingung, apa yang akan kukatakan padanya..???
"Ada
apa..?" tanya mas Candra membuyarkan lamunanku saat kita bersiap tidur.
Kebiasaan yang jadi rutinitas wajib untuk tidur bersama tiap malamnya.
"Gak ada
mas," bohongku lemah. Aku sedikit tertolong dengan kembalinya mas Candra
yang selalu merangkulku saat tidur.
"Kamu bohong!"
sanggahnya menyudutkanku.
"Gak ada mas…"
"Aku gak mau
kalau kamu tiba-tiba pamit pergi padaku, Ga." ucapnya yang salah
menafsirkan kekalutanku. "Aku...." mas Candra tak kunjung melanjutkan
ucapannya.
"Aku akan
bilang lebih awal mas." jawabku lirih. "Tapi…., apakah kalian akan
mengijinkanku pergi? Kalau aku terus disini, aku tak akan pernah bisa membayar
hutangku."
Mas Candra
mempererat dekapannya. "Aku tak pernah menagihnya, Ga." ucapnya
lelah. "Aku tau kamu punya hidup sendiri. Tapi...." lagi-lagi
kalimatnya terputus di selingi dengan dekapannya yang kian erat padaku.
"Tapi
apa...???" tanyaku lirih dan berbalik menghadapnya.
"Aku tak ingin
kamu pergi dari sini Ga..." ucapnya sedih. "Aku ingin kamu tinggal
disini."
"Dan membuat keluarga
mas semakin membenciku...." bodoh...!!! Aku keceplosan.
Mas Candra
menyipitkan matanya. "Apa maksudmu...??!" tanyanya setengah menuntut.
"Maaf...!!!
Aku salah ucap." ucapku sedikit tegang.
"Enggak.!!!
Kamu menyembunyikan sesuatu dariku." tuntut mas Candra lagi.
"Gak ada
apa-apa mas. Aku hanya takut membuat keluarga mas salah paham padaku.
Maaf..!!!" aku benar-benar merasa bersalah. Dasar mulut gak bisa ditata.
"Aku yang
membawamu kerumah Ga.” ucapnya lirih. “Jadi aku yang bertanggung jawab atas
apapun yang kulakukan." sekarang giliran aku yang memicingkan mata
mendengar penuturannya. Apakah keluarga mas Candra juga menuntutnya? Apa mereka
memarahinya? Oh Tuhan...!!! Aku semakin merasa tak enak padanya.
"Maaf
mas..!!!! Aku banyak menyusahkanmu." keluhku lirih dan menyurukkan
kepalaku kedadanya. Sejenak, mas Candra yang membeku. Tapi detik berikutnya,
dia kembali merangkulku.
Dia tak mengatakan
apapun setelah itu. Yang ada hanya keheningan. Jemarinya terus membelai
rambutku lembut. Tak dapat kupungkiri. Semua resah dan gundah yang kurasakan,
perlahan memudar dan hilang dari hatiku.
Aku mencintaimu
mas. Aku merasa bersalah padamu. Karena aku, kalian mendapat banyak kesusahan.
Seandainya aku tak pernah muncul dalam kehidupan kalian, mungkin keadaan kalian
akan selalu baik-baik saja.
Minggu ini, Ichal
maksa pengen keluar. Padahal sekarang sudah mulai musim penghujan. Dengan
sedikit kesal, mas Candra menurutinya.
Wajar saja.
Semenjak aku masuk Rumah sakit, Ichal tak pernah liburan keluar. Waktu
liburannya hanya dia habiskan untuk menemaniku di rumah.
"Udah
mas...!!! Jangan cemberut gitu donk..!!" tegurku mencoba menenangkannya
setelah kami tiba di Game Zone Plaza. "Ichal juga butuh hiburan."
"Iya...."
jawabnya malas.
Aku tergelak mendengarnya. Mas Candra kontan
menatapku kesal. "Apanya yang lucu?!" tegurnya kurang suka.
"Gak
papa," sangkalku menahan geli. "Mas Itu kan ayahnya Ichal. Kenapa
jadi mas yang kesal sih? Dan ekspresi mas itu....." aku tak berani
meneruskannya. Takut ucapanku malah membuatnya semakin kesal.
"Kenapa..???" tanyanya sedikit naik.
Bukannya ngeri, aku
malah semakin susah menahan tawa. "Ga...!!!" tegurnya kesal.
"Maaf
mas...!!! Mas itu lucu."
"Lucu
apanya..?!"
"Udah mas...!!!
Jangan cemberut mulu ah.!!! Ntar cakepnya ilang lagi." ucapku yang
kemudian tersadar kalau ungkapanku itu terdengar seperti sebuah godaan. Mas
Candra mengangkat sebelah alisnya sambil nyengir.
"Baru sadar
kamu kalo aku cakep?" ledeknya narsis.
"Hahaha...."
keluar juga tawaku. "Udah dari dulu kok sadarnya. Cuma males aja
ngungkapinnya, ntar mas malah ke GR-an lagi."
"Kak.....!!!"
panggil Ichal memintaku menghampirinya yang tengah main bola basket.
"Iya,
Chal...!!!" aku beranjak dari dudukku meninggalkan mas Candra yang
senyum-senyum gak jelas. "Aku kesana.."
"Please dont
stop the music..." suara dering handphone menyela ucapanku.
DEGGG...!!!!
Adit telpon. Apa
yang harus kulakukan...???
"Siapa..???" tanya mas Candra menyadarkanku yang dari tadi
hanya menatap ngeri layar ponselku.
"Eh...
a-anu...." jawabku sedikit gelagapan.
"Kenapa...???" tanya mas Candra menyelidik. Dia pasti curiga
kalau aku menyembunyikan sesuatu.
"Please dont
stop the music... Please dont stop the music..." lagi-lagi ponselku
berdering. Aku semakin tegang tanpa berani mengangkatnya.
Tak sabar, mas
Candra langsung merampas ponselku dan.....
Seketika wajahnya
memerah. Dia menatapku berang, membuat nyaliku semakin menciut. "Kenapa
gak dijawab?" tanyanya dingin.
Aku hanya bisa menggeleng kaku.
"Apa perlu aku
yang mengangkatnya?"
"Jangan...!!!" jawabku parau dengan tangan kuulurkan hendak
mencegahnya. Setelah itu, ponselku berhenti berdering.
"Sejak
kapan...??" tanyanya datar sambil menyerahkan ponselku.
"Belum
lama," jawabku lirih.
"Kakak
menyebalkan..!!!" sungut Ichal kesal. "Ichal dibiarin maen sendirian
dari tadi."
"Maaf
Chal...!!!" ucapku lirih sambil jongkok menjajarinya. "Kakak lagi
males maen."
Ichal masih saja
cemberut. Kuusap rambutnya pelan supaya ngambeknya sedikit reda. Saat kulihat
mas Candra, hati dan pikiranku malah semakin ruwet. Kenapa situasinya jadi
kacau begini?!
"Please dont
stop the music.... Please dont stop the music..." lagi-lagi ponselku
berdering. Aku jadi ikut-ikutan emosi mendengarnya. Ichal kesal, mas Candra
menatapku sinis dan ponselku terus-terusan berdering.
Ingin rasanya
kulempar hape butut menyebalkan ini. Tapi sayang juga. Aku kan gak punya ponsel
lagi.
Akhirnya, dengan
penuh emosi. Kumatikan ponselku dan kulempar begitu saja di meja sampingku.
“Kenapa dimatiin kak?” tanya Ichal heran.
“Sebel..!!!”
jawabku ketus. “Ayo…!!! Katanya mau ditemenin main?!” seruku sambil menyeretnya
kembali ke areal Game Zone. Daripada setress mikirin semua ini, mending aku
main saja.
Sengaja kupilih
permainan yang memukul-mukul tikus yang muncul dari lubang dengan palu karet.
Aku kesal, jadi kulampiaskan saja kekesalanku dengan permainan itu. Ichal yang
tak tahu apa-apa hanya tertawa terpingkal-pingkal melihatku begitu ambisius
saat memukulnya. Aku justru merasa sedikit kasihan dengan nasib tikus-tikus
itu. Seandainya tikus beneran, mereka pasti sudah tewas karena
kekejamanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar