Jumat, 06 Februari 2015

Because Of You Part 36

  


   Semua luka ditubuhku sudah mulai mengering dan sembuh. Beberapa bekas lukanya juga sudah mulai memudar.
   Tapi yang sembuh adalah luka luarku. Sedangkan luka dalam hatiku kembali terbuka dan menganga. Belakangan Adit sering mengirim pesan singkat padaku.
   Anehnya...???
   Dia tak pernah sekalipun mengungkit tentang kenapa dia tak pernah menghubungiku ataupun mengatakan cinta padaku. Yang dia katakan hanya selamat pagi, dah tidur belum atau lagi apa. Semua itu hanya ucapan basa-basi yang terkadang membuatku gerah dan sebal padanya.
   Dan aku...???
   Aku belum pernah membalas smsnya sekalipun. Bisa saja aku mengisi pulsa hanya sekedar lima ribu rupiah, tapi aku juga bingung, apa yang akan kukatakan padanya..???

   "Ada apa..?" tanya mas Candra membuyarkan lamunanku saat kita bersiap tidur. Kebiasaan yang jadi rutinitas wajib untuk tidur bersama tiap malamnya.
   "Gak ada mas," bohongku lemah. Aku sedikit tertolong dengan kembalinya mas Candra yang selalu merangkulku saat tidur.
   "Kamu bohong!" sanggahnya menyudutkanku.
   "Gak ada mas…"
   "Aku gak mau kalau kamu tiba-tiba pamit pergi padaku, Ga." ucapnya yang salah menafsirkan kekalutanku. "Aku...." mas Candra tak kunjung melanjutkan ucapannya.
   "Aku akan bilang lebih awal mas." jawabku lirih. "Tapi…., apakah kalian akan mengijinkanku pergi? Kalau aku terus disini, aku tak akan pernah bisa membayar hutangku."
   Mas Candra mempererat dekapannya. "Aku tak pernah menagihnya, Ga." ucapnya lelah. "Aku tau kamu punya hidup sendiri. Tapi...." lagi-lagi kalimatnya terputus di selingi dengan dekapannya yang kian erat padaku.
   "Tapi apa...???" tanyaku lirih dan berbalik menghadapnya.
   "Aku tak ingin kamu pergi dari sini Ga..." ucapnya sedih. "Aku ingin kamu tinggal disini."
   "Dan membuat keluarga mas semakin membenciku...." bodoh...!!! Aku keceplosan.
   Mas Candra menyipitkan matanya. "Apa maksudmu...??!" tanyanya setengah menuntut.
   "Maaf...!!! Aku salah ucap." ucapku sedikit tegang.
   "Enggak.!!! Kamu menyembunyikan sesuatu dariku." tuntut mas Candra lagi.
   "Gak ada apa-apa mas. Aku hanya takut membuat keluarga mas salah paham padaku. Maaf..!!!" aku benar-benar merasa bersalah. Dasar mulut gak bisa ditata.
   "Aku yang membawamu kerumah Ga.” ucapnya lirih. “Jadi aku yang bertanggung jawab atas apapun yang kulakukan." sekarang giliran aku yang memicingkan mata mendengar penuturannya. Apakah keluarga mas Candra juga menuntutnya? Apa mereka memarahinya? Oh Tuhan...!!! Aku semakin merasa tak enak padanya.
   "Maaf mas..!!!! Aku banyak menyusahkanmu." keluhku lirih dan menyurukkan kepalaku kedadanya. Sejenak, mas Candra yang membeku. Tapi detik berikutnya, dia kembali merangkulku.
   Dia tak mengatakan apapun setelah itu. Yang ada hanya keheningan. Jemarinya terus membelai rambutku lembut. Tak dapat kupungkiri. Semua resah dan gundah yang kurasakan, perlahan memudar dan hilang dari hatiku.
   Aku mencintaimu mas. Aku merasa bersalah padamu. Karena aku, kalian mendapat banyak kesusahan. Seandainya aku tak pernah muncul dalam kehidupan kalian, mungkin keadaan kalian akan selalu baik-baik saja.



   Minggu ini, Ichal maksa pengen keluar. Padahal sekarang sudah mulai musim penghujan. Dengan sedikit kesal, mas Candra menurutinya.
   Wajar saja. Semenjak aku masuk Rumah sakit, Ichal tak pernah liburan keluar. Waktu liburannya hanya dia habiskan untuk menemaniku di rumah.
   "Udah mas...!!! Jangan cemberut gitu donk..!!" tegurku mencoba menenangkannya setelah kami tiba di Game Zone Plaza. "Ichal juga butuh hiburan."
   "Iya...." jawabnya malas.
   Aku tergelak mendengarnya. Mas Candra kontan menatapku kesal. "Apanya yang lucu?!" tegurnya kurang suka.
   "Gak papa," sangkalku menahan geli. "Mas Itu kan ayahnya Ichal. Kenapa jadi mas yang kesal sih? Dan ekspresi mas itu....." aku tak berani meneruskannya. Takut ucapanku malah membuatnya semakin kesal.
   "Kenapa..???" tanyanya sedikit naik.
   Bukannya ngeri, aku malah semakin susah menahan tawa. "Ga...!!!" tegurnya kesal.
   "Maaf mas...!!! Mas itu lucu."
   "Lucu apanya..?!"
   "Udah mas...!!! Jangan cemberut mulu ah.!!! Ntar cakepnya ilang lagi." ucapku yang kemudian tersadar kalau ungkapanku itu terdengar seperti sebuah godaan. Mas Candra mengangkat sebelah alisnya sambil nyengir.
   "Baru sadar kamu kalo aku cakep?" ledeknya narsis.
   "Hahaha...." keluar juga tawaku. "Udah dari dulu kok sadarnya. Cuma males aja ngungkapinnya, ntar mas malah ke GR-an lagi."
   "Kak.....!!!" panggil Ichal memintaku menghampirinya yang tengah main bola basket.
   "Iya, Chal...!!!" aku beranjak dari dudukku meninggalkan mas Candra yang senyum-senyum gak jelas. "Aku kesana.."
   "Please dont stop the music..." suara dering handphone menyela ucapanku.
   DEGGG...!!!!
   Adit telpon. Apa yang harus kulakukan...???
   "Siapa..???" tanya mas Candra menyadarkanku yang dari tadi hanya menatap ngeri layar ponselku.
   "Eh... a-anu...." jawabku sedikit gelagapan.
   "Kenapa...???" tanya mas Candra menyelidik. Dia pasti curiga kalau aku menyembunyikan sesuatu.
   "Please dont stop the music... Please dont stop the music..." lagi-lagi ponselku berdering. Aku semakin tegang tanpa berani mengangkatnya.
   Tak sabar, mas Candra langsung merampas ponselku dan.....
   Seketika wajahnya memerah. Dia menatapku berang, membuat nyaliku semakin menciut. "Kenapa gak dijawab?" tanyanya dingin.
   Aku hanya bisa menggeleng kaku.
   "Apa perlu aku yang mengangkatnya?"
   "Jangan...!!!" jawabku parau dengan tangan kuulurkan hendak mencegahnya. Setelah itu, ponselku berhenti berdering.
   "Sejak kapan...??" tanyanya datar sambil menyerahkan ponselku.
   "Belum lama," jawabku lirih.
   "Kakak menyebalkan..!!!" sungut Ichal kesal. "Ichal dibiarin maen sendirian dari tadi."
   "Maaf Chal...!!!" ucapku lirih sambil jongkok menjajarinya. "Kakak lagi males maen."
   Ichal masih saja cemberut. Kuusap rambutnya pelan supaya ngambeknya sedikit reda. Saat kulihat mas Candra, hati dan pikiranku malah semakin ruwet. Kenapa situasinya jadi kacau begini?!
   "Please dont stop the music.... Please dont stop the music..." lagi-lagi ponselku berdering. Aku jadi ikut-ikutan emosi mendengarnya. Ichal kesal, mas Candra menatapku sinis dan ponselku terus-terusan berdering.
   Ingin rasanya kulempar hape butut menyebalkan ini. Tapi sayang juga. Aku kan gak punya ponsel lagi.
   Akhirnya, dengan penuh emosi. Kumatikan ponselku dan kulempar begitu saja di meja sampingku.
   “Kenapa dimatiin kak?” tanya Ichal heran.
   “Sebel..!!!” jawabku ketus. “Ayo…!!! Katanya mau ditemenin main?!” seruku sambil menyeretnya kembali ke areal Game Zone. Daripada setress mikirin semua ini, mending aku main saja.
   Sengaja kupilih permainan yang memukul-mukul tikus yang muncul dari lubang dengan palu karet. Aku kesal, jadi kulampiaskan saja kekesalanku dengan permainan itu. Ichal yang tak tahu apa-apa hanya tertawa terpingkal-pingkal melihatku begitu ambisius saat memukulnya. Aku justru merasa sedikit kasihan dengan nasib tikus-tikus itu. Seandainya tikus beneran, mereka pasti sudah tewas karena kekejamanku.    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar